Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
Sarapan bersama



bab 88


.


.


.


" Kalian tidur bersama ??" Ragu Dania melayangkan pertanyaan.


" eheem !! maksudnya Dania, em.. kenapa kalian bisa tidur bersama ??" Ralat Tio agar Denis dan Riana tak merasa kebingungan.


" Ini tuan.. saya tidak sengaja" Balas Riana. baik Riana maupun denis sama- sama tak enak hati.


" Kau merayu Denis Riana ??" tuduh Tio dengan sorot mata tajam


Riana mengangkat wajahnya dan segera menggeleng dengan cepat.


Denis yang memang tau sebab mereka bisa tidur bersama segera memberi penjelasan.


" kak..Jadi semalam itu Davi mengamuk, aku tidak tau bagaimana menenangkan dia, Dan kak Riana yang tak sengaja mendengar segera membantuku menenangkan Davi. jadi ini semua tidak ada yang disengaja kak. Kak Riana juga tidak merayuku.." terang Denis.


" ibu.. lapar.." ucap Davi pada Dania.


Dania yang hendak menanggapi penjelasan Denis urung ia lakukan, Ia pun segera membalas ucapan davi dulu. "iya sayang.. Davi sudah lapar ya ??"


Davi menggangguk dengan cepat.


" Ya sudah ayo.." ajak Dania.


" Ayah ayo.." Davi menarik tangan Tio juga saat Dania hendak membawa Davi keluar


" Sudahlah, jangan terlalu difikirkan. terima kasih sudah menjaga Davi. kalian segera bersihkan diri dan ikut turun kita akan makan bersama." ucap Dania sebelum keluar dari kamar itu.


Denis mengangguk mengiyakan, sementara Riana baru bisa bernafas lega setelah Tio sudah di bawa keluar dari kamar itu. Riana nampak terduduk diranjang karna ia sangat takut pada bosnya Yakni Tio.


" Kak kau kenapa ??" tanya Denis keheranan saat melihat Riana berulang kali mengatur nafas dan mengusap dadanya


" Tidak..aku hanya lega, Tuan Tio tidak menghukumku, Huh.. jantungku rasanya mau loncat dari Tempatnya.. apa kau tidak lihat, tatapannya tadi seolah hendak menelanku hidup-hidup." tutur Riana.


Denis menyunggingkan senyum tipisnya. "Kak Tio tidak sejahat itu orangnya.. Kakak terlalu berlebihan."


" Kau yang tidak tau seperti apa dia. ah.. sudahlah, aku mau keluar,!!" Riana segera berdiri dan meninggalkan Denis. Denis pun membuka jalan untuk Riana dengan keramahaan. Riana pun tak mengatakan apapun, ia masih dalam mode kesalnya. Denis memilih segera membersihkan diri.


.


.


.


Bahkan Tio sengaja mengumpulkan semua orang terdekatnya agar menikmati sarapan bersama sebelum mereka pulang kerumah masing-masing.


Attalah bersama Namira, dan kedua putra putrinya Erlita dan sikecil Hans. lalu Mama Hilda, Wanda serta anak laki-lakinya Ridwan. kemudian Dania dan Tio tak lupa Davi yang tidak mau turun dari pangkuan sang Ayah. Riana juga sudah duduk disana, hanya tinggal menunggu Denis saja.


Seakan hendak mengobati kerinduannya, Dania meladeni mama Hilda denga. penuh kelembutan.


" Sudah Dania.. jangan banyak-banyak.." cegah mama Hilda saat Dania menambahkan terus lauk dipiringnya.


" mama harus makan banyak.Karna jika bermain dengan Davi mama harus siap seperti Denis." ucap Dania.


" memang Denis kenapa ??" taanya mama Hilda.


Riana langsung terlihat tertunduk. ia takut jika Dania mengatakan dirinya tadi yang kedapatan tidur bersama Denis disatu ranjang.


"Davi kelelahan ma, Dia mengamuk semalam." ucap Tio yang mulai suap-suapan dengan Davi yang ada dipangkuanya.


" benarkah ?? Katanya Davi sudah sembuh ??" timpal Wanda.


" Iya.. tapi Memang dokter Mike bilang tetap harus menjaga agar dia tidak lelah, karna jika ia lelah otomatis otaknya juga lelah, dan seperti ini jadinya.." terang Dania.


" Terus adikmu bagaimana Dan ??" tanya wanda yang sangat tau jika Davi marah akan seperti apa..


" dia tidak apa-apa..Riana membantunya juga menenangkan Davi.. thaks ya Ri..atas bantuannya.." ucap Dania yang mengarahkan pandangannya pada Riana.


Riana.hanya mengangguk pelan dengan senyum keterpaksaan.


" lalu adikmu mana ?? kenapa belum turun ??" Tanya Mama.Hilda.


baru saja mama Hilda menanyakan Denis.nampak dari jarak tak begitu jauh, Denis berjalan santai menuju kearah mereka.


Denis



Semua mata tertuju pada Denis yang menebar senyum pada siapa saja.


" Ya ampun anak itu sejak kecil sampai besar tetap sama.." ucap dania lirih.


" dan aku tidak menyangka kalian memiliki sifat yang jauh berbeda." balas Tio


Dania menerbitkan senyum sambil memakan buah kesukaannya.


.


.


.