Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
Kedatangan dua teman baik



bab 69


.


.


.


Tiba dikantor Tio tak sengaja bebarengan dengan sekretarisnya. Hanya yang melihat Bosnya berjalan santai memasuki kantor buru-buru menghampiri Tio dan menyapanya.


" Selamat pagi tuan" Sapa hany dengan senyum yang ia usahakan bisa membuat Tio tertarik.


" Iya." balas Tio singkat. seraya terus berjalan menuju pintu lift.


" Tuan kita akan kedatangan tamu nanti setelah makan siang. Pagi ini mitting bersama Tuan Attalah dan Klien dari luar kota." ucap Hany membacakan agenda pertemuan Tio.


Tio hanya memijit pelipisnya, kurang tidur beberapa hari ini cukup membuatnya sedikit mengantuk jika pagi.


Hany yang melihat bosnya kurang bersemangat berusaha memberi perhatian.


" Em..tuan pusing ?? mau saya ambilkan obat ??" tanya Hany menawarkan.


Tio segera menggeleng. "tidak perlu. Jika Attalah sudah datang suruh dia keruangan saya langsung ya..?" pinta Tio.


" Tapi kita bertemu diluar tuan." balas Hany.


" ok." Tio meninggalkan Hany dan keluar dari lift terlebih dulu.


" Huh..ada apa dengan tuan Tio ?? apa dia tidak enak badan ??" terka Hany dengan bergumam.


Tio merogoh ponsel yang ada disaku jasnya hendak menghubungi seseorang.


" Ada apa ??" suara Attalah terdengar saat panggilan terhubung.


" bagaimana persiapan yang aku minta kemarin ??" tanya Tio saat teringat rencananya.


" ya ampun, nanti kan kita ketemu. apa tidak bisa bicara nanti !!" protes Attalah.


" Iya juga. ya sudah. kau membuang waktuku !!" Balas Tio yang memilih mematikan panggilannya.


Teringat sesuatu Tio menuju ruang pribadi diruangannya itu. tujuan utama adalah lemari kecil disudut kamar pribadinya.


perlahan Tio membuka lemari itu dan mengambil kotak hitam yang entah sejak kapan ada disana.


" Dania..akhirnya cincin ini akan kita pakai." gumam Tio seraya mencium dua cincin didalam kotak itu Lalu kemudian Tio meletakkan kembali Kotak hitam itu dan mengunci lemarinya.


.


.


.


Dirumah Dania tengah membuat puding guna ia bawa kekantor Tio nanti siang dengan ditemani Davi yang sekarang banyak ingin tau dan tak sungkan bertanya.


" Ibu..apa Ayah akan suka makanan seperti itu ??" tanya Davi lagi.


"tentu saja. Buatan ibu kan selalu enak.." balas Dania seraya memasukkan pudingnya kedalam kulkas.


" Nona..nona Dania.." panggil Bik sumi.


Dania menoleh kesumber suara. "ada apa Bik ??" tanya Dania.


" Itu didepan ada dua orang wanita katanya teman nona. Mereka namanya Wanda sama Riana." terang bik sumi.


" benarkah ?? suruh mereka masuk bik.." pinta Dania yang segera menurunkan Davi dari duduknya dan menuntun Davi menuju ruangan depan.


Bik sumi berlari kecil keluar guna membawa dua teman nonanya itu.


Sementara Didepan pintu masuk Wanda dan riana tak henti-hentinya mengagumi rumah besar Tio yang dijaga ketat oleh beberapa penjaga.


" Ya ampun.. aku sama sekali tidak menyangka jika Dania memiliki mantan pacar sekaya ini.." ucap Wanda.


" Iya. bahkan Dania tidak pernah menceritakannya. dia sangat beruntung.." balas Riana.


" Nona-nona silahkan masuk. Nona Dania didalam." ajak bik sumi.


Tak lama Dania terlihat dengan senyum sumringahnya. "Hay..kalian.." sapa Dania ketiga wanita itu berpelukan layaknya teletubis yang lama tak berjumpa.


" Akhirnya kita bertemu juga denganmu.. kau tau, kami hampir tersesat tadi.." celoteh Wanda.


" Salah kalian sendiri kenapa tidak menghubungiku !!?" Balas Dania dengan senyum bahagianya.


" Kok Davi nggak dipeluk ??" protes Davi.


Wanda dan Riana buru-buru mendekati Davi yang nampak berbeda dari sebelumnya.


" oh..ya ampun..keponakanku..kau tampan sekali sayang.." Wanda memeluk Davi lebih dulu.


" Bibi Riana bawakan coklat buatmu.." Gantian Riana seraya menyodorkan coklat pada Davi.


" bibi..om dokter bilang aku tidak boleh makan coklat dulu."balas Davi.


" oh ya..?? owww..sayang sekali..baiklah, Davi mau apa ?? nanti bibi belikan."tawar Riana.


" Em.. apa ya ?? Davi bingung." balas Davi dengan jujur.


" sudah..sudah.. ayo masuk." ajak Dania yang segera membawa dua temannya masuk kedalam rumah.


Tak henti-hentinya baik wanda maupun Riana terus menganggumi kemewahan didalam rumah Tio. sepanjang masuk, netra mereka terus mengedar melihat betapa megah dan indahnya interior yang ada didalam rumah itu.


.


.


.