
Bab 183
.
.
.
"Tuan pusing ??" Celine mendekati D setelah meletakkan Celemek yang sejak tadi menempel pada tubuhnya.
" Lain kali jangan sembarangan bicara dengan pria asing. Jangan membuatku pusing."Balas D tanpa sadar.
Celine bertambah tidak mengerti. "Pria asing itu siapa tuan D ??"
"Kau tau namaku darimana ??!" D seketika menatap Celine yang ada dihadapannya.
"Oh.. Itu asli nama ya ?? Kufikir hanya inisial saja. Kenapa nama anda lucu sekali ??" Celine begitu antusias.
"Aku tanya siapa yang memberitaumu !!?" D mempertegas pertanyaannya.
"Koki tadi. Aku yang bertanya padanya. Soalnya aku memang belum tau nama tuan kan."Terang Celine.
D kembali dibuat tercengang dengan penjelasan Celine.
"Ya sudah. Kau kekamar saja sana. Bersihkan dirimu dan kita makan malam bersama." D tak mau ambil lalu segera pergi dari hadapan Celine.
Celine hanya tersenyum seraya melangkah menuju kamar D sesuai perintah.
Tiba dikamar, perhatian Celine beralih pada Jendela kaca yang memperlihatkan lampu-lampu dari berbagai gedung. "Mama.. Papa.. Maafkan Celine. Celine belum bisa pulang. Kalian jangan kawatir ya, Jika luka dihatiku sudah sembuh, aku akan pulang." gumam Celine lirih.
.
.
.
Denis melamun didepan kolam renang setelah pulang dari melihat bekas mobil Celine yang dikabarkan terbakar.
aksesnya sudah ditutup oleh Tio, hingga Polisi tak bisa menemukan apalagi menyelidikinya. Terdengar begitu egois, namun Denis tak mau membuat kedua orangtua Celine bersedih, mengingat Celine adalah putri satu-satunya dikeluarga.
"Kemana kau Cel..?? Kenapa kau begini ??" Gumam Denis sendiri.
"Apa belum dapat titik terang ??" Tegur Willy yang entah sejak kapan sudah disana.
Denis membuang nafasnya secara kasar lalu menggeleng pelan.
Willy memilih duduk juga disisi Denis. "Sejak kapan kau mulai menyukai Nona Wanda ??" Willy mulai terbiasa memanggil
"Kenapa kau berfikir begitu ??" Timpal Willy.
"Karna semua menyalahkanku."
"Kau memang bersalah. jika dilihat dari sisi Pacar dulumu. Tapi jika dilihat dari sekarang, kau juga berhak menentukan pilihan. Tapi waktumu saja yang tidak tepat, jadi kesannya kau terlalu egois sampai menyakiti salah satunya."Tutur Willy memberi komentar.
Denis mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku juga tidak tau bagaimana kerjanya hatiku Wil. Bagaimana aku malah memilih wanda, dan kenapa aku malah melepas Celine, semua itu mengalir dengan sendirinya.."
"Menurutmu aku salah wil ?? Please wil, hanya kau yang bisa berkomentar sebijak itu ?? Beri tau aku wil ??" Denis menatap Willy penuh permohonan.
"Iya. Kau salah. Kau bersalah."Ucap Willy dengan serius.
"Jadi kau tidak boleh mengulang kesalahan itu untuk kedua kalinya."Tambah Willy.
Seakan tau maksud Willy, Denis menggangguk dengan pasti dan serius.
.
.
"masih menunggu telfon dari denis ??" Tegur Riana yang melihat wanda sibuk mengutak ponselnya.
"Iya. Aku yakin dia ada masalah Ri. Tidak biasanya dia seperti ini."Balas Wanda.
"Coba hubungi Dania saja. Mereka kan serumah."usul Riana
"Jangan aneh-aneh deh. Tadi saja aku lihat Dania seperti tidak suka mendengar aku berhubungan dengan adiknya."Wanda berubah murung.
"dia hanya terkejut. Bukan tidak setuju. Kalian kan memang masih permulaan."
"Tapi raut wajah Dania kelihatan sekali Ri.."
"inilah penyakit kawatir kalau puber kedua ya begini.." Riana bercanda.
"Ri.."
"Ha..ha..ha.. Lagian kau ini aneh-aneh sekali fikirannya. Sudahlah, positif tinking saja, mungkin Denis sedang banyak pekerjaan. Menjadi Seorang pemimpin bukan suatu hal yang mudah Wan.. Kau lebih dewasa darinya, kau harus bisa lebih memahami dia." nasehat Riana.
"Kau benar.. Huh..untung saja ada kau disini..Kalau tidak otak setanku bisa menguasai kepalaku."
.
.
.