
.
.
.
Dania menendang ban motornya dengan kuat.
" sial !! kenapa harus bertemu pria itu !!!" umpat dania dengan begitu marah.
nafasnya sampai memburu karna marahnya sudah sampai ubun-ubun.
Dania mengatur nafasnya, obat putranya adalah yang utama. Masih dengan gurat kesalnya, Dania menaiki sepeda motor dan melaju mencari apotik terdekat.
.
.
Tio membuka pintu kamar Apartemennya dengan masih memikirkan Dania. Fikirannya mulai menelisik bagaimana Dania ada diarea apartemennya. Ingin bertanya waktunya tidak tepat dan juga Tio sangatlah faham sikap dan sifat Dania.
Tak ingin terlalu memikirkannya, Tio memilih segera masuk kedalam Apartemennya. namun saat hendak masuk, suara yang bagi Tio sangat menjijikkan terdengar ditelinga Tio.
" apa mereka mau pamer denganku !! sampai pintu tidak dikunci !!" gerutu Tio yang segera masuk kedalam apartemennya dengan membanting pintu begitu keras.
.
.
Dania mengembangkan senyum tipis saat bisa kembali mendapatkan obat untuk putranya. beberapa kali Dania bahkan menciumi obat yang berada ditangannya.
" sayang.. ibu dapat obat lagi untukmu.." gumam Dania seorang diri.
Ia segera memasukkan obat itu kedalam Tas yang selalu terkalung dipundaknya.
Dania melirik jam ditangannya. satu jam sudah ia meninggalkan wanda. biasanya Wanda sudah selesai jika sudah satu jam begini.
Buru-buru Dania menancapkan pedal gasnya menuju apartemen dimana Wanda menemui kliennya. jarak antara Apotik dengan apartemen cukup jauh Dania tidak mau sampai wanda menunggu.
Tepat saat Dania tiba didepan apartemen bersamaan dengan Wanda juga keluar, wajah Wanda terlihat lusuh dengan sedikit terlihat lelah.
" kau menunggu lama ??" tanya Dania saat sudah disisi Wanda.
" tidak. aku baru saja keluar. ayoo." Wanda hendak naik keatas motor, "aakkhh !!" Wanda merintih kesakitan diarea pangkal pahanya.
" kau kenapa ??" Dania segera turun dan membantu wanda yang memegangi pangkal pahanya.
Wanda hanya menggeleng. dan meraih pundak Dania.
" Apa mau kupesankan taksi online ??" tawar Dania dengan wajah kawatir.
Wanda cepat menggeleng. " tidak usah. bantu aku menaiki motormu saja."
" kau yakin ??" tawar Dania.
Wanda mengangguk pelan. Dania segera memapah Wanda agar naik keatas motornya. Dengan cepat Dania naik juga, Buru-buru Dania melesatkan sepeda motornya membawa Wanda kembali kekontrakan Wanda.
.
.
Dengan dibantu Dania, Wanda masuk kedalam kontrakannya. anak Wanda yang berada dirumah membukakan pintu.
" mami kenapa tante ??" tanya Anak kecil laki-laki Yang adalah anak Wanda.
" hanya kelelahan saja. bantu tante membawa mami kekamar ya.." balas Dania.
Anak laki-laki itu mengangguk dan membantu Dania membawa wanda kedalam kamar.
" biarkan mamimu istirahat ya ?? tante harus pulang. adik Davi harus minum obat." ujar Dania berpamitan.
" iya tante terima kasih. salam untuk adik Davi ya.." balas Anak laki-laki itu.
Dania mengangguk tak lupa mengusap lembut kepala Anak laki-laki itu.
Dania kemudian memutar tubuhnya dan keluar dari kontrakan Wanda dan kemudian langsung mengemudi sepeda motornya. untuk pulang kerumahnya.
Saat setelah tiba dirumah Dania begitu terkejut dengan Putranya yang mengamuk membuangi semua barang dirumahnya.
Dania berlari masuk tanpa peduli dengan sepeda motornya. raut wajah kawatir nampak sekali diwajah Dania.
"Aahhh !!! takut !!! ibu !!! ibu !!!" teriak Davi dengan memegangi kepalanya.
" aahhhh !!!"
praangg !!!
prangg !!!
Benda-benda didalam kontrakan Dania berjatuhan akibat Davi yang tidak terkontrol.
Dania membuka pintu dengan nafas terengah-engah. " Davi sayang.."panggil Dania dengan mata membulat.
rasa kawatir semakin menjadi saat Davi memukul-mukulkan kepalanya pada tembok rumah.
" Davi.. jangan sayang.."
Dania berlari mendekap Davi dengan kuat.
" lepas !!! davi takut !!! lepas !!!" Davi berontak dengan terus memukul Dania.
meski Dania terkena pukulan terus terusan dari Putranya, Dania terus mendekap tubuh putranya dengan terus memberikan kata-kata lembut agar putranya bisa mengendalikan emosinya.
.
.
.