
bab 64
.
.
.
Mobil Tio berhenti didepan rumah minimalis yang tidak terlalu besar. didepan nampak wanita seusia Dania tengah menyiram bunga ditemani putri kecilnya.
" Lihatlah. mereka masih bisa tersenyum begitu..apa belum ada yang memberinya kabar ??" tanya Dania sebelum turun.
" Belum. ayo.." ajak Tio yang segera turun terlebih dulu.
Istri widi melihat kearah Dania dan Tio. ia pun buru-buru menyambut kedatangan Tio dan Dania.
" Selamat datang Tuan.. maaf saya fikir siapa.." sambut istri Widi dengan menunduk hormat
" Gea, jangan seperti itu." balas Tio.
" Nona pasti istri tuan ya ?? cantik sekali.." terka Gea istri widi.
" Iya. bisa kita bicara ??" balas Tio.
" oh..iya.. maaf..maaf.. saya sampai lupa. mari silahkan masuk." Gea menggiring Dania dan Tio untuk masuk kerumah mereka.
nampak anak kecil perempuan mengekor dibelakang Gea saat masuk kedalam. melihat itu Dania cukup haru, akan seperti apa nanti saat mendengar papanya telah meninggal.
" Silahkan duduk tuan..nona..Saya buatkan minum ya ,??" tawar Gea.
" Tidak usah..tidak usah repot-repot. ada yang mau kami bicarakan." balas dania dengan cepat ia juga mengembangkan senyumnya.
Gea menatap Bos suaminya itu.
" Apa Widi membuat masalah tuan ??" tanya Gea seketika.
Tio mengatur nafasnya dan membalas tatapan Gea.
" Maafkan saya. Widi sudah meninggal."ucap Tio.
meski nampak tak terkejut, Namun Netra Gea yang membulat dan nampak basah menandakan ia tengah menahan sesuatu.
Tio pun memulai menceritakan semuanya. bahkan ia membuka rekaman CCTV dirumah sakit dimana ia bertemu Tio sejak awal dan mengetahui perselingkuhan Tio.
nafas Gea nampak sekali memburu, namun ia berusaha untuk tak mengeluarkan air mata. Disisinya ada Putri kecil kesayangannya, ia tidak boleh terlihat lemah.
Tio meletakkan sebuah amplop putih diatas meja. "saya sengaja menahan gaji Widi agar dia berubah, karna sebenarnya saya sudah tau kelakuan bejat widi sejak lama, dan saya tau kau begitu tertekan dengan semua itu, tapi ternyata widi tetap sama saja, dia tidak mau berubah. ini adalah gaji widi yang terakhir, dan tunjangan dari saya untuk kau dan putrimu." terang Tio pelan namun sangat jelas.
" Kenapa malah kau yang meminta maaf ??" tanya Dania
" Karna saya tidak bisa mengingatkan suami saya yang khilaf nona." balas Gea seraya menunduk.
" Itu bukan kesalahanmu. Suamimu yang salah." timpal Dania.
" Iya. saya tau itu nona. tapi, biar bagaimana pun dia tetap suami saya. aibnya tetap harus saya tutupi dan ternyata teguran Allah lebih cepat, bahkan Mengambilnya lebih cepat juga sebelum ia menyadari kesalahannya." tutur Gea.
Dania yang tak tega mendekati Gea dan langsung memeluk gea dengan erat.nampak sekali Gea menahan air mata sejak tadi hingga suaranya jelas bergetar.
" menangislah..kau berhak bersedih,"ucap Dania.
Tio yang melihat itu segera berinisiatif mengajak putrinya widi untuk keluar bermain.
Saat melihat tak ada putrinya ketegaran gea runtuh seketika, ia pun terisak dalam dekapan Dania.
" Iya.. keluarkan semuanya..tidak apa-apa.." Ucap Dania lirih. bahkan Dania turut menitikkan air mata sebab isakan Gea sangatlah memilukan.
.
.
" Tuan..memangnya Papa kemana ??" tanya Putri. anak perempuan widi saat tiba ditaman bersama Tio.
Tio berjongkok dihadapan Putri. "Papa sedang berdoa. supaya putri jadi anak yang baik dan pintar."balas Tio.
" berdoanya dimana ?? apa tidak akan pulang ?? soalnya sejak kemarin papa nggak pulang ??!" Putri kembali bertanya.
" Ditempat yang sangat jauh. mungkin, papa bisa pulang. tapi tidak bisa dekat sama Putri." Tio kembali memberi arahan.
" Kenapa ?? putrikan kangen.."balas Putri.
" putri Doakan saja papa. suatu saat putri bisa ketemu papa lagi. Saat ini gantian putri yang harus menjaga mama. apa putri keberatan menjaga mama ??" tanya Tio.
Putri segera menggeleng pelan.
" anak pintar." Tio memeluk putri dengan erat seraya mengusap surai panjang putri dengan kelembutan.
.
.
.