
bab 94
.
.
.
Mama Hilda bisa melihat raut kebahagiaan dari putri kesayangannya saat Dania Tio dan Davi turun beriringan menuju meja makan.
Senyum bahagia terbit dari sudut bibir yang mulai tumbuh garis-garis halus itu.
" Ma.. maaf membuat kalian menunggu." ucap Tio.
" Iya tidak apa. ayo duduk.. Davi sayang duduk dekat nenek sini.." Mama Hilda begitu antusias memberikan tempat duduk untuk cucu pertamanya.
Meski nampak ragu, Davi segera duduk disisi mama Hilda. netra Davi tertuju pada sepiring besar ayam goreng kesukaannya yang ada diatas meja.
" Davi mau makan ayam goreng itu ??" tawar Mama Hilda.
" Mau nek.." balas Davi penuh semangat.
" Davi sangat suka ayam goreng ma.." ucap Dania.
" wah.. sama dong kayak paman Denis.." timpal Denis.
" Kau ?? sejak kecil sampai sebesar ini kau masih suka dengan Ayam ??" Tanya Dania sembari mengejek.
" Jangan bawel kak,!!" balas Denis dengan cepat.
" Dasar anak Ayam !!" Ucap Dania.
" Kakak !!!" Protes Denis.
" Sudah..sudah..ayo makan dulu.." lerai mama Hilda meski dengan senyumannya mama Hilda menghentikan perdebatan kecil yang amat mama hilda rindukan dimeja makan.
Makan malam berlangsung penuh kehangatan. Dengan Candaan dan Perdebatan konyol yang membuat tawa semua terlihat lepas dan penuh bahagia.
.
.
.
Meski mengambil cuti, Tio tetap memeriksa pekerjaan yang dikirim Para karyawannya dikantor.
Dania juga disibukkan dengan mengajari Davi menulis membaca dan mewarnai, agar Davi tidak tertinggal pelajaran. makanya meski Davi tidak sekolah, Dia tetap bisa membaca seperti orang-orang pada umumnya.
Tio sudah berniat menyekolahkan Davi, Namun Masih ditolak Dania sebab Keadaan davi belum stabil.
Didepan laptopnya Tio sangat berkonsentrasi penuh dengan jemari yang menari sempurna dipapan key board.
Davi yang kelihatan sudah bosa menulis meregangkan tangan seraya mencari keberadaan sang Ayah. Dimana ia bisa melihat sang ayah yang duduk dikursi dengan memangku laptop serta memakai kaca mata.
" Ayah kerja nak. Kenapa ??" tanya Dania balik yang mengikuti tatapan Putranya
" Tangan Ayah cepat sekali.. Davi mau lihat.." Davi langsung berdiri dan menghampiri Tio.
" davi jangan sayang.." cegah Dania. namun Sang anak tetap berlari mendekati Ayahnya.
" Ayah.." sapa Davi yang sudah disisi Tio.
" Iya sayang.. ada apa ?? sudah selesai menulisnya ??" Balas Tio yang belum menatap Davi, ia masih fokus dilaptopnya.
" Davi capek. Ayah kerja apa ??" tanya Davi yang nampak penasaran dan melongok kelayar laptopnya.
Dania melipat kedua tangan seraya melihat bagaimana reaksi Tio yang diganggu anak mereka.
Tio menghentikan aktivitasnya dan Menatap anaknya seraya memgembangkan senyum.
" Davi mau lihat ??" tanya Tio.
Davi pun girang bukan kepalang. " mau Ayah.."
" Baiklah.. sini.." Tio meletakkan laptopnya diatas meja dulu lalu memangku Davi.
" Ayah kenapa pakai kaca mata ??" Tanya Davi lagi.
Tio terkekeh dibuatnya. Davi benar-benar begitu ingin tau apapun." Ayah sudah rabun dekat nak. rabun itu kalau melihat tulisan yang dekat nampak kabur."
" Bisa begitu ya ?? kalau Ibu ??" davi menatap Dania yang juga tertawa kecil mendengar pertanyaan Anak mereka.
" Ibu masih sehat sayang.. mau jarak seberapapun Ibu masih bisa melihatnya." balas Dania tatapannya terarah pada Tio seolah mengejek.
Tio hanya menyeringai dengan ejekkan istri kesayangannya.
" Jangan dengarkan Ibumu, sini Ayah beritau kerjaan Ayah.." Tio mengambil laptop kembali dan diletakkan dipangkuan Davi.
" ini namanya laptop, Kerjanya seperti ini." Terang Tio pelan-pelan.
Perlahan dan penuh ketelatenan, Tio menjelaskan satu persatu apa yang ada dilaptopnya.
Kegunaan dan Semuanya, Bahkan sesekali Davi dibiarkan memencet papan key board agar Davi terbiasa.
Sorak girang terdengar saat davi berhasil melakukan apa yang Ayahnya ajarkan.
Dania duduk disebrang sofa dimana Tio dan Davi duduk dan hanya melihat betapa putranya kini sangat dekat dengan Tio ayah kandungnya.
.
.
.