
bab 182
.
.
.
Willy yang tak sengaja hendak mengambil minum untuk Davi tak sengaja mendengar perdebatan keluarga atasannya itu.
Dia bisa melihat dengan jelas, gurat kesedihan dimata Denis yang tertunduk dengan omelan sang kakak.
Tak mau ikut campur, Willy segera pergi dari sana dan kembali menemui Davi.
.
.
"Kau tau wanda teman kakak kan Den..Betapa malunya kakak jika wanda sampai kau sakiti ??!!" Lagi dan Lagi Dania meluapkan kekecewaan dan emosinya.
Tio yang tak tega melihat sang istri terus bertenaga mengedipkan salah satu matanya pada Denis. seolah memberi kode jika Denis lebih baik pergi dari sana.
Denis faham dengan maksud Tio, namun ia akan semakin bersalah jika meninggalkan amarah sang kakak pengganti Papa mereka.
" Kak dania maafkan aku. Makanya aku memutuskan mengakhiri hubunganku dengan Celine karna aku memang akan serius dengan Wanda.."Denis berusaha memberi alasan.
"Denis.. Kau dan wanda terpaut usia cukup jauh ??!! dan lagi, kau dan dia baru saja saling mengenal.. Apa hubungan seperti itu bisa dipertahankan ???" timpal Dania
"Tapi ini masalah hati kak.."Balas Denis
"Tapi nak.. Wanda itu janda.."Mama Hilda menambahi.
"Apa yang salah dengan seorang janda ma ? Aku menerima semua kekurangannya, termasuk juga.." Denis menatap Dania dengan lekat. "Masalalunya." tambah Denis.
Dania sangat tak percaya, Adiknya kini seperti itu.
"Lalu apa kau memikirkan perasaan Celine ?? Bahkan dia menjaga hati beberapa tahun hanya untukmu Nak ?? Lalu mama akan bicara apa pada kedua orangtuanya ??!" Mama Hilda begitu frustasi.
Denis mengatur nafasnya. "Biar aku yang bicara dengan kedua orangtua Celine ma. Saat ini aku akan fokus mencari Celine dulu." Denis beranjak dari duduknya "Kakak jangan kawatir. Aku akan pertanggung jawabkan semuanya. Termasuk Aku yang menyakiti Celine, begitupun dengan menjaga hati teman kakak."Setelah berkata demikian, Denis hendak pergi namun suara Tio menghentikan langkah Denis.
"Lalu bagaimana jika.Celine tidak tertolong ??" Tio membuka suara setelah membaca pesan dari anak buah yang ia perintahkan mencari Celine melalui mobilnya.
"Maksudnya ?? Kak Tio sudah menemukan Titik keberadaan mobil Celine ??" Denis begitu bersemangat. Dania dan mama Hilda Bersamaan menatap Tio.
"Mobil Celine masuk kedalam jurang. Sudah terbakar sejak semalam."Ucap Tio dengan jelas.
Dania yang reflek terkejut langsung menutup mulutnya dengan tangan. Mama Hilda pun tak kalah terkejut.
"Apa ??!!" Denis seakan tak percaya dengan apa yang didengar.
"Titik itu menjadi titik terakhir keberadaab Celine. anak buahku sudah memeriksa keadaan mobilnya, namun kosong."Tambah Tio lagi.
"Masih belum jelas. Aku harus kesana memastikan."balas Tio.
"Kak aku ikut !!" Denis menimpali.
Tio menggangguk dan segera melangkah keluar. Sebelum itu tak lupa ia mencium kening Dania terlebih dahulu. Denis pun langsung mengekor dibelakang Kakak iparnya yang hanya hitungan jam saja bisa menemukan wanita yang dicari oleh Denis.
.
.
.
D memutari markas mencari keberadaan Celine. Ia tadi menyuruh wanita itu agar istirahat dikamarnya, namun saat D kembali dari melatih anggotanya D tak mendapati keberadaan Celine.
"Kalian melihat wanita yang bersamaku tadi ??" Tanya D saat menjumpai anggotanya.
" Dia didapur tuan." Balas mereka.
" what ??!!" D pun segera melangkah menuju dapur.
"Gadis itu. Dimana rasa takutnya sih, malah kedapur segala.." gerutu D dalam sela langkahnya.
Tiba didapur, D terhenti seketika saat melihat Celine bercanda dengan koki dimarkas itu.
"Apa-apaan dia ??!!! Kenapa cepat sekali akrab dengan sembarang orang !!! Dasar gadis nakal !!!" Gerutu D yang langsung berdehem.
"eheemm !!!!"
Baik Celine maupun koki itu mengarahkan mata pada D yang melipat tangan didepan seraya melayangkan tatapan tajam
"Hay Tuan.. Aku memasak untukmu.." sapa Celine penuh sangat.
Sang koki yang melihat tatapan tak bersahabat dari D langsung menunduk dan menyingkir pergi.
"Hey tuan koki. !! anda mau kemana ??!!" Panggil Celine.
"Kau genit sekali sih !!" Ucap D dengan bernada kesal.
"Aku ?? Kenapa begitu ??!" Celine tak mengerti.
D memijit pelipisnya. Seharian ini dia dibuat pusing dengan membawa Gadis muda itu disisinya.
.
.
.