
bab 99
.
.
.
Davi nampak ceria dengan menebar senyum sepanjang keluar dari ruangan sang ayah untuk pulang. meski harus dibujuk dahulu, namun Akhirnya Davi mau juga diajak pulang.
Beberapa karyawan tak lupa menyapa Dania dan Davi dengan penuh hormat saat tak sengaja berpapasan.
Lain hal dengan Hany. Hany urung keluar dari ruangannya saat tak sengaja ia melihat Dania keluar dari ruang Tio.
Tatapan tak suka terua ditujukan hany pada Dania yang masuk kedalam Lift.
"Wanita itu..giliranmu yang akan aku singkirkan.." batin Hany.
.
.
Dilobby kantor Dania tak sengaja bertemu Attalah, yang termasuk rekan kerja Tio.
" Paman.." sapa Davi saat melihat Attalah.
" Hay jagoan.. mengantar makanan buat Ayah ya ??" balas Attalah dengan ramah pula.
" Iya. paman sedang apa disini ??" tanya Davi.
" Maaf tuan.. Davi terlalu banyak tanya.." Timpal Dania.
" Biarkan saja. aku juga punya dirumah kok." Balas Attalah.
" Oh iya, Tio didalam kan ??" Tambah Attalah.
" Ada tuan. silahkan." Balas Dania.
" Kau ini tetap saja memanggilku tuan. bahkan sekarang kau sudah menjadi istri seorang CEO Dania..suamimu sama sepertiku.." Tutur Attalah
" Maaf.. belum terbiasa." Timpal Dania dengan penuh sopan.
" Ya sudah. aku masuk dulu ya..Davi, kalau tidak sibuk main kerumah paman ya ?? Erlita pasti senang kau main" Ucap Attalah.
" Iya paman. " balas Davi penuh semangat.
Attalah pun segera masuk bersama beberapa pria berjas menuju ruangan Tio.
Dania pun memilih langsung pulang, karna mobil jemputannya juga sudah siap didepan lobby.
.
.
.
Ceklek..
" Dasar kau ya..selalu tidak sopan !!" gerutu Tio
" sorry. aku terlalu penasaran. yang kau ketik tadi apa sih, aku kenapa tidak mengerti ??" Balas Attalah yang langsung duduk didepan Tio.
Tio memutar layar laptop menghadap Attalah.
Dengan seksama Attalah mengamati semua yang ada dilayar laptop.
Segera pula netra Attalah membulat sempurna saat medapat semua masalah Tio.
" Ya ampun..ini benar ??" Tanya Attalah.
" Iya. aku tidak tau kak Hans mempekerjakan mereka selama ini."Jawab Tio seraya membuka kaca matanya.
" Hans biasanya teliti. mungkin sewaktu ia sakit" Timpal Attalah.
" kufikir juga begitu." Tio nampak membuang nafasnya pelan.
" lalu aku harus membantu apa ??" Tanya Attalah.
" aku sadar banyak yang mengawasi semua tentang aku. jadi.." Tio mengambil sebuah kertas dan meletakkannya diatas meja. menulis dengan menjadikan Laptop sebagai penghalang.
Attalah hanya diam dan menautkan alisnya. Tio nampak aneh sekali.
Selesai menulis, Tio melipat kertas itu dan menyerahkannya pada Attalah.
" Bacalah saat kau ada didalam mobil."Ucap Tio singkat.
" memangnya kenapa ??" Tanya Attalah lagi.
" Kau bawel sekali sih !! apa tidak bisa menurut saja !!" Protes Tio.
" Baiklah..kau gampang sekali marah sih.. perasaan masih pengantin baru" omel Attalah yang segera berdiri dari duduknya.
" Ayo kembali.." ajak Attalah pada beberapa pria berjas yang ia bawa.
diluar tak sengaja Attalah bertemu beberapa staf yang disebutkan Tio.
Semua menunduk hormat kala bertemu Attalah. "Selamat siang tuan Attalah.."
" Iya..iya.. tidak perlu sesopan itu. kita tidak jauh berbeda kok." ucap Attalah.
" Tuan bicara apa.. kita sangat berbeda."Balas staf itu.
Attalah yang malas menanggapi segera masuk kedalam lift.
" Ya ampun.. bagaimana bisa hans memelihara tikus got sejelek mereka.. huh.. untung Tio cepat sadar.." gerutu Attalah didalam lift.
.
.
.