Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
Tidak mungkin



bab 100


.


.


.


Dania nampak sibuk menata makanan diatas meja. atas keinginan Tio, Dania mengundang denis dan mamaHilda untuk datang.


Dengan dibantu bik sumi dan sesekali candaan mereka keluarkan.


Davi juga terlihat pintar. ia duduk diruang tengah didepan tivi dengan mainannya dan bermain sendiri tanpa merengek.


Tio yang baru pulang cukup bahagia melihat pemandangan yang selama ini amat ia impikan. ia terhenti sesaat dengan senyum yang mengembang. "Terima Kasih ya Allah.. terima kasih sudah menyatukan kami kembali."Gumam Tio dengan terus mengucapkan rasa syukurnya.


" eh.. Ayah sudah pulang !!" Davi yang melihat Tio langsung berlari menyambut dengan menghambur memeluk sang Ayah.


" oohhh.. jagoan..pintar sekali anak ayah ya, Main sendiri..??" Puji Tio.


" Iya. kan Davi sudah besar.." Balas Davi sembari mengecup pipi Tio.


" Ayah belum mandi sayang.." Ucap Tio yang terkekeh kala Davi menciumi pipinya beberapa kali.


" biarkan saja. ayah masih wangi kok."Balas Davi yang ikut tertawa.


" Davi.. ayahnya biar mandi dulu, sini sayang.." panggil Dania yang memilih menghampiri Davi dan Tio.


Tio yang sudah berdiri langsung menarik pinggang Dania dan menghadiahi bibir Dania dengan ciuman.


"Ya ampun.. kami disuruh kesini cuma untuk disuruh melihat kalian seperti ini ??!!" Suara Denis yang baru masuk.terdengar.


Semua mata mengarah dari pintu masuk.


" Davi sayang..Nenek datang.." mama.Hilda menyapa Davi yang masih nampak canggung.


" Davi salim sama Nenek dan paman." ajak Tio.


dengan segera Davi mendekati mama Hilda dan mencium tangan wanita paruh baya itu.


" Ya sudah, ayo kita langsung kemeja makan saja." Ajak Dania ya g disetujui semuanya.


" mama dan Denis makan saja dulu. Aku mau bersih-bersih sebentar.." Ucap Tio.


" Kita tunggu kak.." balas Denis.


" Tenang saja nak Tio, kami mau main dulu dengan Davi kok."tambah mama Hilda.


.


.


Makan malam berlangsung cukup penuh kehangatan. MAma hilda tak menyangka jika Tio, Preman disekolah dulu ternyata bisa sukses seperti sekarang.


dalam hati tak henti-hentinya mama Hilda mengucapkan banyak rasa syukur, karna putrinya berada pada pria yang tepat.


Rumah yang amat luas dengan penjagaan ketat diluar maupun dalam menambah kekaguman mama Hilda.


Setelah makan malam usai, Tio mengajak Denis keruang kerjanya, sedangkan Dania membawa mama Hilda ketaman belakang dimana biasanya Davi bermain.


.


.


Diruang kerja Tio, baik Tio maupun Denis sama-sama terlihat serius dengan pembahasan mereka. keduanya bahkan memegang laptop sendiri-sendiri dengan tema pekerjaan yang sama.


beberapa ide juga mulai mereka dapatkan.


" oh ya Den, atas nama Wahyu nugroho dia bekerja diperusahaanku, apa nama itu datang dipesta pernikahanku dan Dania ??" Tanya Tio seraya menatap Denis.


" Tunggu kak, aku lihat dulu." jawab Denis yang masih fokus dilayar laptopnya.


Hingga daftar tamu ia temukan. "Tidak ada kak, " ucap Denis.


Tio mengangguk pelan. "berarti dia ??" batin Tio lagi.


" Kak, kau yakin akan melakukan semua ini ?? aku takut perusahaanmu akan koleb dan mengalami penurunan nanti." tanya Denis yang sudah diberitau semua rencana Tio.


" Jika aku tidak begini, Malah aku nanti yang harus membayar Bank" balas Tio dengan tegas.


" Lagian. masih ada kau dan Attalah, kalian tidak mungkin kan membiarkan perusahaanku bangkrut ??" canda Tio seraya menyeringai.


Denis terkekeh dibuatnya. "Inilah yang aku suka darimu kak. Kerja tanpa sekretaris dan asisten. jadi semua rencana kakak hanya kakak sendiri yang tau."


Tio hanya diam "Iya.. setelah ini aku tidak mau memiliki sekretaris lagi Denis.." Batin Tio dengan serius.


.


.


.