
bab 102
.
.
.
Aktivitas dilalui Tio seperti biasa sepekan terkahir. ia juga tak lagi memanggil beberapa staf yang menangani masalah keuangan diperusahaannya. Seakan ingin membuat Pemain kotor merasa menang, Tio memilih mengikuti alur mereka saja.
Siang itu, Sengaja Dania tidak datang juga atas keinginan Tio. hingga Tio memilih makan diluar, bersama Hany sang sekretaris setelah menemui klien mereka.
mendapat kesempatan seperti itu, Hany merasa bahagia. setidaknya hanya berdua tanpa orang lain.
Sepanjang perjalanan Tio tetap pada sifat awalnya yang diam dan tak banyak bicara, Sedangkan Hany sesekali melirik Tio dari spion depan.
" Em..tuan, bagaimana jika kita kerestoran korea ?? Sepertinya anda perlu mencoba makanan baru ??" Tawar Hany
" iya." Balas Tio dengan singkat.
Hany seketika mengembangkan senyum dan menggangguk. Sopir pun langsung mengarahkan mobil menuju stand Resto ala Korea yang ditunjukkan Hany.
Tiba diresto itu, Hany turun mengekor pada Tio yang berjalan lebih dulu.
Pelayan juga nampak mempersilahkan Tio dan Hany untuk masuk kedalam.
Hany menggiring Tio duduk ditempat yang hanya ada dua kursi saja. Seakan mendapat lampu hijau karna Tio diam dan menurut saja, Hany semakin bersemangat.
Sesekali Tio memijit pelipisnya dan masih betah diam.
" Tuan mau pesan apa ??" tanya Hany.
" Terserah kau saja." Jawab Tio
" Bagaimana jika ini ??" Hany menunjukkan sebuah menu didepan Tio.
" Iya." Balas Tio masih dengan singkat tanpa basa basi.
Hany segera memesan beberapa menu baru direstoran itu.
" Kau tunggu disini. saya mau ketoilet sebentar." ucap Tio yang langsung pergi tanpa menunggu Hany menjawab.
Senyum hany terbit cukup lebar. ia mulai menebak jika Bosnya tengah ada masalah dirumahnya. "Aku harus gerak cepat untuk menjerat tuan Tio.." Gumam Hany seraya menatap sebuah botol berwarna hitam yang baru saja ia ambil dari dalam tasnya.
.
.
.
Dari jarak tak begitu jauh, Ada sebuah tangan yang terkepal kuat saat melihat kedekatan Tio dan Hany.
Wanita dengan kaca mata hitam serta topi agar menyempurnakan penyamaran mereka, bersama satu pria yang juga duduk didepan wanita itu. mereka tidak lain adalah Dania dan Denis.
" ini hanya aktingkan ?? Kenapa aku kesal sekali ?!!" Ucap Dania lirih.
" Kak sadarlah. kak Tio pasti juga jengah sekali disana. lihatlah, makan saja kak Tio terlihat tak nyaman." balas Denis.
" Ngomong-ngomong kakak bangga juga denganmu, kau punya restoran sebesar ini" Puji Dania.
" Biasa saja kak..ini juga kerja samaku dengan teman."balas Denis.
" Eh.. kak, itu bukannya teman kakak yang waktu itu ??!" Tunjuk Denis pada dua wanita yang baru masuk. mereka adalah Riana dan wanda.
" Ya ampun. rencana Tio bisa berantakan jika mereka melihat Tio disana." tutur Dania yang langsung mengambil ponselnya guna memghubungi Wanda terlebih dulu.
" Benarkah ???" Denis pun turut terkejut.
" Wan.. Stop jangan masuk dulu !!" Cegah Dania saat panggilan terhubung.
" maksudmu apa Dan ?? kau memang tau kami dimana ??" Tanya Wanda.
" sekarang kalian kearah jam 8" Pinta Dania.
Wanda mengedarkan mata menuju arah yang diberitau Dania.
" Mana Dan ??" Tanya Wanda.
" Isshh.. Pakai topi hitam." Timpal Dania.
Wanda mendegus kesal, saat melihat penampilan Dania. "Kau ini sedang..-"
" Shutt...Diam lah dan segera kemari !!" Ralat Dania.
" ok..ok.." Balas wanda yang segera mengakhiri panggilan mereka.
" Ada apa ??" tanya Riana.
" Dania juga disini.. tuh dia disana. Ayo.." Ajak Wanda yang segera membawa Riana mendekat dimana Dania berada.
.
.
.