
bab 65
.
.
.
Mobil yang membawa Davi tiba didepan kontrakan Fania. Bik Sumi buru- buru turun setelah pintu dibuka oleh pengawal Davi.
Dari dalam Ibu sarah nampak keheranan siapa tamunya disiang hari seperti itu. bahkan dua mobil yang terparkir semua mewah.
namun saat melihat Davi yang dituntun seorang wanita paruh baya, Ibu sarah sedikit terkejut.
" Rumah nya ini ya Tuan kecil ??" tanya Bik sumi.
" Iya. yang itu. kalau yang itu rumahku dulu. dan yang sebelah sana rumahnya bibi Riana."tunjuk Davi memberitau.
dua pria berbaju serba hitam terus mengekor dibelakang Davi dan Bik sumi.
" fania !! fania.. Ini Davi.." panggil Davi saat sudah dekat didepan rumah.
Nampak pintu terbuka nampak ibu sarah dengan Fania keluar.
" Selamat siang Nyonya. maaf saya bik sumi saya kesini mengantar tuan kecil, dia mau main kesini katanya putri nyonya temannya tuan saya." Bik sumi meminta ijin.
" Oh..iya..Saya hanya terkejut saja. saya fikir siapa tadi. silahkan.." Ibu sarah mempersilahkan semua masuk kedalam rumah.
" Davi.. kau davi kan ??" tanya Fania tak percaya. Davi nampak terlihat segar dan ceria tak seperti sebelumnya.
" Iya. aku Davi." balas Davi yang melepaskan tangan dari bik sumi dan mendekati Fania.
" kenapa wajahmu pucat sekali ?? sakitmu belum sembuh ya ??" tanya Davi dengan polos .
" Belum." balas Fania.
Davi menatap bik sumi. "Bibi ambilkan hadiah buat Fania tadi."
Pengawal Davi segera menyodorkan paper bag yang diminta Tuan kecilnya. Davi menerima dan langsung menyerahkannya pada Fania.
" Ini untukmu Fania."
" Apa ini ??" tanya Fania.
" Hadiah. Aku sudah punya Ayah sepertimu. aku juga sudah mau sembuh. makanya aku kesini mau memberitaumu, kau berobat saja ke Om dokter yang mengobati aku, nanti kan kau sembuh juga." terang Davi sebisanya.
Ibu sarah dan Bik sumi yang mendengarkan tersenyum haru dengan rasa empati Davi.
" Pantas kau sudah terlihat ceria. selamat ya.sebentar lagi kau bisa sekolah."ucap Fania dengan senyum pucat yang menghiasi wajahnya.
" Kau juga harus semangat." balas Davi. Fania hanya membalas dengan mengangguk saja.
" Memangnya Nona kecil sakit apa nyonya..??" tanya Bik sumi pada Ibu sarah.
" Kanker darah Bik." balas Ibu sarah dengan suara bergetar.
" Iya. saya sangat kasihan. apa lagi beberapa hari belakang ini, kondisinya melemah. Kami terkendala biaya bik, maklumlah, Ayahnya hanya karyawan toko biasa, jadi Fania tidak bisa melakukan kemo." tutur Ibu sarah
" Semoga akan Ada keajaiban nyonya. Nyonya yang kuat juga ya.." Ucap Bik sumi. Ibu sarah mengangguk mengamini.
.
.
.
Dania dan Tio sudah diperjalanan pulang. Hening didalam mobil tak ada percakapan. Dania masih nampak muram dengan kejadian tadi.
Tio sesekali melirik Dania yang menatao keluar jendela terus sejak tadi.
" Kau kenapa ??" tanya Tio saat sudah tidak bisa diam-diaman.
" Aku hanya memikirkan anaknya Widi tadi. dia masih kecil," jawab Dania.
" semua sudah takdir. kita bisa apa." balas Tio.
" aku tidak bisa membayangkan jika aku meninggal dan putraku masih sekecil itu." ucap Dania.
criittt !!
Tio menghentikan mobil mendadak hingga membuat Dania memekik karna terkejut.
" Kenapa kau ini ??!!" tanya Dania.
" Kenapa kau bicara seperti itu ??!!" tanya Tio yang nampak tak terima
" Seperti itu apa ??!!" Dania belum sadar.
" jangan pernah membicarakan meninggal atau kematian dihadapanku, kau akan aku jaga 24 jam nonstop agar kau tidak kenapa-kenapa." Ucap Tio dengan tegas."
" aku kan hanya bicara seandainya."balas Dania.
" tetap saja tidak boleh !!" timpal Tio.
" Semua Takdir Tio. kita tidak ada yang tau." tutur Dania.
" dan aku akan merubah takdir itu. Tidak ada yang boleh memisahkan kita. Terpisah darimu 8 tahun ini sudah membuat hancur hidupku, aku tidak akan mengulangi kesalahan lagi setelahnya." balas Tio dengan serius seraya menatap Dania dengan tajam
Dania memgembangkan senyum dan langsung memeluk Tio. sontak Tio terkejut dengan Inisiatif Dania kali ini.
" Terima kasih..atas semuanya.." ucap Dania lirih. Mendengar itu Tio langsung membalas pelukan Dania. tak lupa ia mencium pucuk kepala Dania dengan penuh Cinta.
" Aku mencintaimu Dania.. sangat mencintaimu.." bisik Tio dengan setulus hati.
.
.