Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
Bolehkah



bab 178


.


.


.


"Ma.. Denis kenapa buru-buru keluar ?? Ini masih terlalu pagi untuk kekantor ??" tanya Dania saat sudah duduk didepan meja makan setelah drama pelukan Davi dengan Oma nya.


"Denis mau mencari Celine Dan..Celine itu kekasihnya Denis, dia dulu kuliah diluar negeri. beberapa hari ini dia sudah disini. semalam celine telfon mama, dia mau kemari tapi Denis belum pulang, lalu dia bilang tidak jadi kemari. nah, pagi tadi mamanya Celine telfon Denis, mengatakan kalau Celine tidak pulang dari semalam." Terang mama Hilda.


"Hilang, begitu ??" Tio memperjelas.


"Masih belum tau nak Tio. soalnya belum jelas Celine itu hilang atau memang sengaja menyendiri" Balas mama.Hilda.


"Kau mau kan membantu Denis nanti jika Celine sulit ditemukan ???" Dania beralih menatap Tio.


Tio menggangguk dengan cepat. "pasti baby.. "


.


.


.


Wanda beberapa kali mencoba menghubungi Denis, namun tak dijawab olehnya. bahkan beberapa pesan wanda juga tak dibalas oleh Denis. rasa kawatir menyelimuti hati Wanda. bingung mau bagaimana.


" Kau kemana Den ??" batin Wanda.


"Wan !? mau kekantor tidak ?? kita sudah terlambat.." tegur Riana yang entah sejak kapan sudah disisi Wanda.


Wanda pun sampai terjengit karna terkejut.


"Eh.. kau Ri.. mengejutkanku saja ?!"


"pagi-pagi sudah melamun ?? kenapa ?? mikirin Denis ya ??" terka Riana.


" apaan sih Ri.. sudahlah, ayo.."Wanda menarik lengan Riana untuk keluar dari rumah bersamaan menuju kantor. tak lupa, terlebih dahulu mengantar Ridwan kesekolah.


.


.


Baru saja kesadarannya pulih, Celine kembali menitikkan air mata saat teringat kata-kata Denis yang begitu menyakiti hatinya. terus dan terus Celine berusaha menekan rasa sakit itu.


teringat kecelakaan yang menimpanya semalam, Celine lalu menoleh kesisi dimana diatas sofa panjang tertidur pria asing yang begitu menyeramkan bagi Celine.


" apa dia yang menolongku ??" gumam Celine lirih.


" Iya. dan berhentilah menangis. air matamu akan habis jika terus menangis." jawab D yang masih tetap pada posisinya.


Celine begitu terkejut. gumamannya yang lirih bisa didengar oleh pria asing dihadapannya itu.


"Lagian jika hanya putus cinta buat apa kau susah-susah membuang airmatamu. itu sangat percuma. yang kau tangisi belum tentu memikirkanmu. makanya jangan mencintai seseorang terlalu dalam. yang perlu kau cintai itu dirimu sendiri."D membuka matanya seraya menatap Celine yang masih terbaring dibrankar. "jangan melakukan hal bodoh yang bisa membuatmu menyesal nantinya. sayangi badan dan nyawamu, tidak semua orang beruntung seperti kau."


tambah D.


"I..iya tuan. terima kasih. maaf merepotkan."Celine tak berani membalas tatapan D yang begitu mengerikan bagi Celine. apalagi D tak sengaja melepas jaket kulit yang ia kenakan hingga memperlihatkan banyaknya tato disisi pundak D.


D langsung duduk dan meraih jaket kulitnya kemudian mengenakannya.


"Apa kau punya nomer yang bisa dihubungi ?? Orangtua misalnya ??" Tanya D berusaha pelan. ia sangat tau Celine begitu takut padanya.


Celine menggeleng pelan. "Aku belum lama pulang dari Amerika. aku belum hafal nomer ponsel kedua orangtuaku. ponselku juga terjatuh didalam mobilku."Balas Celine lirih.


"Baiklah. Alamat. alamat rumahmu kau tau kan ?? aku akan mengantarmu."Tambah D.


celine menggeleng pelan. "biarkan saya disini tuan. saya belum bisa bertemu kedua orangtua saya."


alis D pun bertaut menjadi satu. "Kenapa begitu ?? lukamu tidak begitu serius. nanti sore kau sudah boleh pulang."


"Aku mohon tuan.." Celine menatap D dengan wajah memelasnya.


"Lalu bagaimana ??" D begitu frustasi. D bukanlah pria penyabar sebenarnya.


"bolehkan aku ikut dengan Tuan ??" Pinta Celine.


sontak D begitu terkejut hingga ia menatap lekat Celine


.


.


.