
bab 81
.
.
.
Tak ada yang tidak mennagis dibarisan tamu undangan yang hadir pagi itu. semua menangis melihat isak tangis Dania serta sang mama yang sudah terpisah bertahun-tahun.
" Selamat sayang.. kau akan menikah.. maafkan mama yang tidak mencarimu.." ucap sang mama.
" Selamat kak. kau akan menikah juga dengan kak Tio.." ucap pria tampan yang bersama mama.
" Terima kasih.. terima kasih sudah mau datang.." balas Dania yang masih terus menitikkan airmata.
Sadar ada yang kurang. Dania menoleh kesegala arah berharap yang ia rindukan juga datang.
" Kau mencari papamu ?? jangan marah padanya Dania.. papamu sudah tenang disisi Tuhan.." ucap Mama.
Netra Dania membulat sempurna. "apa ??"
" Iya kak. 2 tahun kakak pergi Papa meninggal. aku harus mengurus perusahaan papa sendiri, karna mama juga sakit-sakitan. Mungkin kehendak Tuhan, aku menjalin kerja sama dengan kak Tio yang mengatakan jika sudah bertemu kakak." Terang Denis adik Dania.
Dania menutup mulutnya tak percaya. Tangisanya kembali terdengar dengan terisak.
Tio merengkuh pundak Dania mencoba menguatkan. "Jangan sedih. Kita doakan yang terbaik untuk papa mertua ya.." hibur Tio.
" Iya anakku. Papamu juga telah memaafkanmu, sebenarnya dia sangat ingin menemuimu, dia menyesal telah mengusirmu, tapi nyatanya pencarian Denis tidak menemukan hasil. kau hilang bagai ditelan bumi.." tutur Mama Hilda.
" Ibu.." panggil Davi yang berjalan mendekati Ibunya. Davi sadar jika ibunya sejak tadi menangis.
" hey jagoan.. siapa namamu ??" sapa Denis seraya berjongkok.
" Paman dan nenek ini siapa ?? kenapa membuat Ibu Davi menangis ??" Tanya Davi
" benarkah ??" Davi menatap Dania yang berusaha menghentikan air matanya.
Segera Dania menggangguk memberi jawaban pertanyaan Davi.
" Dania.. dia..-" Mama Hilda menatap Dania saat melihat Davi.
" Iya ma. Dia anak kami. dia putra kami yang dipertahankan oleh Dania 8 tahun yang lalu." Tio memjawab pertanyaan mertuannya.
Mama Hilda terduduk dihadapan Davi yang menatapnya. "Cucuku..ini nenek sayang.." Mama hilda nampak memeluk davi dengan erat.
Sesuatu yang tak terduga dan tak pernah terbayangkan oleh Dania selama ini. Bisa melihat keluarganya kembali. tanpa kebencian dan tanpa perdebatan.
" Denis. kau satu-satunya wali yang dimiliki Dania. aku minta Nikahkan kami hari ini." Tio meminta pada Denis adik kandung Dania.
" Pasti kak. aku akan menikahkan kalian." balas Denis dengan senyum manisnya.
Mama Hilda menuntun Dania agar kembali duduk bersama dengan Tio. Sementara Davi dituntun Denis sang paman yang begitu ramah kepada siapa saja itu.
Atas arahan penghulu, Denis memulai ijab kabul pagi menjelang siang itu. Setelah berjabat tangan, Kalimat Ijab kabul pun mulai diucapkan. Meski cukup grogi namun akhirnya Tio dapat melafalkan kalimat ijab kabul dengan lantang, jelas dan benar.
Dania dan Tio memejamkan mata penuh kelegaan saat para saksi mengatakan Sah dan doa pun segera dipanjatkan.
Selesai berdoa, Tio memasangkan cincin pernikahan pada Dania dan begitupun sebaliknya. tak lupa pula Tio mencium kening Dania dengan sepenuh hatinya.
Dania tak henti-hentinya menatap Tio dengan penuh bahagia. Pria yang begitu amat ia benci dulu, kini benar-benar membuktikan keseriusannya bahkan memberikan sejuta kejutan yang tak pernah Dania bayangkan sebelumnya. untaian rasa syukur terus terucap dari hati dania karna bisa menemukan pria yang menjadi cinta pertamanya dulu, pria yang dulu sempat ia benci, dan yang menjadi ayah dari anaknya.
.
.
.