
bab 112
.
Pagi hari sudah datang, tapi Sinar mentari masih ragu-ragu menampakkan dirinya.Dania juga masih terlelap dengan balutan selimut guns menutupi tubuh polosnya. pergulatan semalam yang sengaja diulang oleh Tio beberapa kali cukup membuat Dania kelelahan.
Tio yang memang sudah selesai membersihkan diri membiarkan Dania yang masih menikmati mimpi.
Kecupan singkat diberikan Tio dikening Dania sebelum Tio keluar kamar.
Hari itu adalah hari libur,jadi Tio memilih berolahraga guna menyehatkan tubuhnya.
.
.
Cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela yang memang sudah dibuka Oleh Tio membuat Kesadaran Dania perlahan terkumpul. bias cahaya itu membuat matanya silau dan membangunkannya.
Perlahan Dania mengeliat, Tubuhnya terasa sakit semua. dengan malas Dania duduk dan membuka matanya. "Ya ampun.. tulangku remuk semua..oh.. Tio..kau membuatku kelelahan.." Gerutu Dania.
Tujuan mata Dania adalah jam diatas meja nakas.
Namun yang membuat perhatian Dania teralih adalah dua kotak berwarna yang diatasnya berukir pita mewah bertengger santai diatas meja nakas juga.
" milik siapa itu ??" tanya Dania sendiri.
Dania meraih salah satu kotak yang ada pitanya. dan ternyata diatas kotak itu ada kertas yang terlipat.
Segera pula Dania membuka kertas itu yang ternyata dua kertas yang dilipat menjadi satu.
Sudut bibir Dania terangkat dengan diimbangi senyum lebar kala membaca tulisan dikertas itu.
Wajah Dania berbinar seakan memperlihatkan betapa ia amat bahagia. ternyata belum habis kejutan kecil dari suaminya.
bahkan hadiah pun sudah disiapkan oleh Tio entah sejak kapan, bahkan Dania sendiri seolah tak habis fikir.
Perlahan Dania membuka kotak Berpita terlebih dulu.
Tak luntur sedikitpun senyum diwajah Dania. apalagi didalam Kotak itu ternyata berisi set perhiasan berlapis berlian.
dania menutup mulutnya dengan salah satu tangan saat sadar yang diberikan Tio adalah dari brand ternama internasional.
" Hubby.." Ucap Dania lirih.
Tak tau akan bicara apa, Sungguh benar-benar Dania tidak menyangka.
saking fokusnya Dania sampai tidak sadar jika Tio sejak tadi berdiri didepan pintu seraya melipat kedua tangan. ia ikut bahagia saat melihat senyum bahagia istri tercintanya.
Dania meraba diamond yang ada ditangannya. Jika diukur dari nilainya itu sangat fantastis sekali.
Dania seketika menoleh kearah pintu.
" Hubby.." Panggil Dania dengan tatapan penuh cinta.
Tio berjalan mendekati Dania yang masih setia duduk ditepi ranjang dengan masih dalam gulungan selimut yang membalut tubuh polosnya.
Saat Tio sudah duduk disisi Dania berada, Tanpa.menunggu apapun Dania memeluk Tio dengan erat.
" Hubby.. terima kasih.. berapa banyak kejutan lagi hari ini.. sampai saat aku membuka mata sudah kau siapkan seperti ini.." Ucap Dania.
" Ini hadiah untukmu baby..maaf aku hanya bisa membeli yang kecil lain kali aku akan belikan yang sedikit besar." Balas Tio masih dengan candaanya
Dania memukul dada Tio seketika.
" Aw.. !! sayang kenapa malah memukulku ??!!" Protes Tio.
" Kau fikir aku sematre itu apa ?!!! aku tidak butuh berlian seperti ini !! aku butuh kau saja !!!" Omel Dania.
Tio terkekeh dibuatnya.
" Benarkah ?? kau butuh aku saja ??!" Goda Tio.
" Apa aku kurang meyakinkanmu ??!!" Timpal Dania.
Akhirnya Tawa Tio terdengar juga. cukup menghibur jika menggoda istrinya.
" Baiklah.. jika aku memintamu sesuatu apa kau akan menurut ??" Tanya Tio dengan sisa tawanya.
" Apa ?? bahkan jika kau minta nyawaku aku pasti berikan.." Balas Dania.
" jangan bicara aneh-aneh !!" Timpal Tio.
" Lalu ??"
" Nanti malam, pakai baju yang ada dikotak satunya itu." tunjuk Tio.
Mata Dania mengikuti Arah Tio menujuk dimana kotak yang satu tadi diatas meja nakas.
" Memang baju apa itu ?? gaun lagi ??" Terka Dania.
" bukan..baju santai saja." balas Tio.
Namun baru saja Dania hendak bicara panggilan dari luar dari putra mereka mengurungkan niatnya.
" Ayah ?!! Ibu !!!" Panggil Davi
" Ada davi !! aku kekamar mandi dulu.. kau temui Davi cepat !!" Dania buru-buru kekamar mandi. ia tak mau putranya melihat dirinya yang masih polos tanpa pakaian.
Tio pun segera membuka pintu. ia pun tak mau Sampai Putra mereka menunggu lama.
.
.
.