
bab 148
.
.
.
Perih begitu dirasakan Willy saat Dania membersihkan luka dilengannya.
" Kau ini dari mana ?? kenapa bisa mendapat luka bakar seperti ini ??!!" tanya Dania seraya terus membersihkan luka Willy
Willy cukup terkejut, ternyata istri bosnya tau luka yang dialaminya.
" will ??" Panggil Dania saat willy tak menanggapi pertanyaannya.
" maaf Nona..maaf sekali.." Willy terus menunduk.
Dania mendegus kesal.
" Saya tadi menolong anak yang terjebak dirumahnya yang terbakar Nona." Terang Willy.
Dania menatap willy sekejap lalu kembali meneruskan Membersihkan luka Willy
" Meski begitu kau harus tetap hati-hati." nasehat Dania.
" Iya Nona." balas Willy.
" Ehemm !!!" Deheman Tio membuat Willy tersentak kala mendengar suara Tio yang begitu dikenali Willy.
Dania menoleh kesumber suara.
senyum pun segera terbit dari bibir Dania. "Hubby, kau sudah pulang ??" Sapa Dania tanpa canggung.
Tio membalas senyuman Dania seraya mendekat.
Willy nampak segera bergeser dan takut, Sebentar Tio melirik willy dengan tatapan tajam.
" Willy terluka Hubby.. Dia menolong seseorang disebuah kebakaran." Dania menjelaskan.
Sudut bibir Tio terangkat saat istrinye menjelaskan seraya beralih menatap Willy lagi.
" Masuklah kekamar Baby..biar aku yang membersihkan luka Willy." Ucap Tio penuh kelembutan pada Dania.
" Kau yakin ??" Dania memastikan.
" Tentu saja."Balas Tio.dengan senyum terkembang.
Dania nampak menggangguk. "Ya sudah. aku mau kekamar untuk mandi." Dania beranjak dari duduknya dan meninggalkan Willy serta Tio. "Wil, jika Suamiku tidak bisa pelan-pelan mengobatimu, katakan padaku ya ??" pesan Dania sebelum melanjutkan langkah kakinya.
Willy hanya menggangguk, Ia cukup takut meski hanya ditatap oleh Tio sang bos besarnya.
Saat memastikan Dania sudah tak terlihat, Tio kembali melayangkan tatapan tajam pada Willy.
" keruangan saya saja. " Ajak Tio yang segera menarik lengan sebelah kanan Willy.
" Aakjhh !!" Willy memekik saat Tio memaksa menariknya. sebab sebenarnya kaki Willy juga terluka.
Tio meneliti seluruh tubuh Willy dan ia sangat faham meski hanya melihat saja.
.
.
Tanpa percakapan, Tio membalut luka Willy secara perlahan. dari mulai lengan, hingga berpindah kekaki Willy.
Tak ada pertanyaan dari Tio, Hawa dingin seolah begitu menusuk diri Willy.
Willy faham betul sikap dan sifat bos besarnya itu. Willy sudah bisa menebak jika bosnya telah tau kehilafan yang telah ia lakukan, hanya karna sebuah rasa saja.
ingin menyesal, namun semua sudaj terjadi. Willy hanya bisa pasrah jika sampai Tio memberinya saksi.
Setelah beberapa menit Akhirnya semua telah selesai. Tio meletakkan kembali kotak p3k yang ia gunakan mengobati Willy.
" Terima kasih tuan. Maaf sudah merepotkan." Ucap Willy
baru kini Tio menatap Willy lagi. sebelum bertanya Tio mengatur nafasnya. Willy sudah Tio anggap sebagai adik sendiri sejak pertemuan mereka dulu.
" Kenapa kau lakukan itu ??" Tanya Tio dengan suara datar.
Willy susah payah menelan ludahnya. benar sekali dugaannya, Tio telah tau apa yang dia lakukan.
"Saya..saya..hanya kesal pada mereka. Tak sengaja dijalan saya melihat mereka menggoda beberapa wanita bahkan sampai melecehkan. Semua bentuk pelecehan benar-benar membuat saya trauma dan benci Tuan. Makanya saat mereka melaju, Saya..saya..menabrak mereka." Terang Willy dengan benar, namun Willy tak mengataka alasannya yang sesungguhnya.
Tio tak mungkin menyalahkan Willy. Willy adalah korban anak yang melihat ibunya dilecehkan oleh pria kejam dulu sewaktu kecil.
" Tapi kenapa kau lakukan sendiri ??!! kau sudah tidak mengganggapku ??" Tuduh Tio penuh kesal.
" Maafkan saya tuan. Saya hanya tidak mau melibatkan anda. Anda sekarang adalah seorang pemimpin sebuah perusahaan. nama baik anda harus selalu saya jaga."Tutur Willy.
"Sampai kau melukai dirimu sendiri begini ??!! Kau tidak perlu memasukkan mobilmu kejurang, hingga membuat kau terluka ?!!! kau fikir aku bisa terima jika kau terluka ?!!!" Tio meluapkan kekesalannya. kekesalan yang berujung pada rasa kawatir, namun amat sulit terucap dari mulut Tio.
" Maaf kan saya tuan, saya benar-benar minta maaf."Willy terus menunduk tak berani mengangkat wajahnya.
Tio segera berdiri dari duduknya. "Renungkan kesalahanmu ini. saya tidak mau hal seperti ini terulang." Ucap Tio sebelum akhirnya memilih pergi meninggalkan Willy.
Willy hanya bisa membuang nafasnya perlahan. "maafkan saya tuan..sebenarnya itu bukan alasan sebenarnya, maafkan saya telah membohongi anda.." Batin Willy penuh sesal.
.
.
.