Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
Ditemukan



bab 23


.


.


.


Davi terbangun dan hal yang sangat membuatnya senang adalah melihat senyum sang ibu yang juga berbaring disisinya.


"ibu.." panggil Davi seraya mengusap pipi Dania.


" anak ibu sudah bangun ya.. sudah lapar kan ??" tebak Dania dengan suara lembutnya.


Davi pun mengangguk dan segera duduk. ia nampak sekali asing ditempat tidurnya. bahkan ruangan kamarnya sangat berbeda. meski ia memiliki keterbelakangan mental, namun daya ingat Davi masih bisa mengingat apa saja yang ia alamai.


Dania bisa melihat kebingungan putranya, ia pun turut duduk disisi putranya.


" Kenapa ?? heran ya ??" tanya Dania.


" ibu..kita dimana ?? ini rumah siapa ??" tanya Davi seraya menatap Dania.


" ini rumah baru kita sayang. mulai hari ini kita akan tinggal disini.." terang Dania berusaha memberi penjelasan.


" kenapa ??" tanya Davi dengan wajah polosnya.


" em..karna..karna tempat kerja ibu lebih dekat jika dari sini.." jawab Dania memberi alasan.


" Buk.. lapar.." Davi mengatakan pada Dania.


"baiklah ayo cuci muka dan kita makan. bibi Riana sudah masakan ayam goreng buatmu."ucap Dania.


" bibi itu siapa ??" tanya Davi lagi.


" teman ibu nak. seperti bibi Wanda."jawab Dania yang segera membantu putranya membersihkan diri. kemudian menyuapi Davi dengan makanan kesukaannya.


.


.


Tio tiba diapartemennya saat malam hari. ia melangkah seolah tak bersemangat sekali. bahkan ia sama sekali tak memperdulikan penampilannya.


resepsionis apartemen memanggil Tio saat melihat Tio melintas.


" maaf tuan. ada titipan untuk anda."


" apa ??" tanya Tio.


" siapa yang mengirim ??" tanya Tio.


" namanya Wanda. beliau berpesan agar menyerahkan amplop ini kepada anda."terang sang resepsionis.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Tio melangkah masuk dengan membawa ampplop putih itu. didalam lift dia meneliti amplop putih yang ia bawa, hingga masuk kedalam kamarnya, meski enggan membukanya, namun Tio terpaksa merobeknya.


netra Tio membulat saat nama. Dania tertera disana.


***wanda.. maaf ya, aku pergi tidak berpamitan denganmu. bukan karna aku marah padamu, tapi karna aku tidak mau kau sampai tau dimana keberadaanku, aku takut kau mengatakannya pada pria itu, jika kau bertanya ada hubungan apa aku dengan pria itu, aku akan katakan. pria itu adalah masa lalu yang sangat ingin aku lupakan. makanya aku sangat ingin menghindari dia.


Dania***.


Tio membalik kertas itu dan membaca tulisan tangan Wanda.


tuan, maaf. saya tidak bisa mencegah Dania. entah bagaimana nanti saya akan berusaha mencari tau keberadaannya.


Tio meremas kertas itu seraya memejamkan matanya.


" kenapa kau sama sekali tidak bisa memaafkanku Dania..apa aku seburuk itu..aku ingin menebus kesalahanku Dania.. aku mohon.." Gumam Tio dalam sesaknya hati yang diselimuti rasa bersalah.


Tio kembali meraih ponselnya.


saat panggilan masuk dari anak buah yang sudah ia sebar sejak pagi.


" bagaimana ??" tanya Tio saat panggilan sudah terhubung.


" nona tinggal dijalan F tuan. kontrakan minimalis bersama temannya bernama Riana..Riana adalah pegawai dicafe Tuan didaerah sana." terang anak buah Tio.


kelegaan terasa dihati Tio saat mendapat kabar wanitanya baik-baik saja.


" baiklah. awasi saja terus. jangan lakukan apapun sebelum saya memerintahkan." ucap Tio.


" baik.tuan."panggilan pun segera berakhir.


Tio tersenyum tipis penuh kelegaan. setidaknya ia sudah tau dimana tempat tinggal Dania lagi.


" kau wanita keras kepala Dania. aku rasa cara halus tidak akan bisa meluluhkanmu.." gumam Tio yang sudah menemukan ide agar tidak lagi berpisah dari putra dan wanitanya.


.


.


.