
.
.
.
Tio menatap kepergian miss Ayla dengan kedua bodyguardnya.
Sedangkan Dania segera keluar dengan masih ada Davi yang berada dalam gendongannya.
" kenapa kau membayarnya ??" tanya Dania tanpa basa basi.
Tio berbalik dan menatap Dania dengan serius."apa kau akan biarkan wanita gila itu berteriak-teriak dan membuat takut anakmu ??!! sudah lama sekali, tapi kenapa keras kepalamu itu tidak hilang !!!"
Dania mendelik dengan ucapan Tio yang memang memarahinya.
" lain kali jangan datang lagi kesini." ujar Dania yang langsung membuang tatapannya kearah lain.
" kau katakan jika sudah menikah ?? lalu dimana suamimu ?? kenapa dia tidak bertanggung jawab dengan kau dan anakmu ??!" Tio pun yang tak kuasa menahan rasa ingin taunya segera memberondong Dania dengan pertanyaan.
" itu urusanku. dan kau tidak perlu tau. sekarang pulanglah !! kau tenang saja, jika aku sudah dapat uang aku akan membayarnya padamu." Jawab Dania dengan masih tak mau menatap Tio.
" Dania.. kau selalu egois.." balas Tio yang langsung berbalik hendak pergi.
" Om..," panggil Davi yang membuka wajahnya yang sejak tadi disembunyikan.
Seketika pula Tio menghentikan langkah kakinya. dan berbalik.
" ada apa ?? apa kau masih takut ??"tanya Tio dengan suara lembut
Davi mengangguk dengan pelan. "Om mau kemana ?? Davi tidak diajak ??"
Sontak Dania memandang putranya, Davi terkenal sangat sulit berinteraksi dengan orang baru, tapi kali ini baru saja bertemu Tio, Davi sudah nampak.begitu tenang dan akrab. ketakutan Dania tumbuh begitu saja. biar bagaimana pun Davi memanglah putra kandung Tio.
Tio berjalan mendekati Davi dan Dania. Dengan penuh kasih sayang Tio mengusap kepala Davi. "lain kali om akan ajak Davi, sekarang om mau kerja dulu. Davi mau kan menunggu om ??"
" kerjanya lama ??" tanya Davi.
" tidak sayang.. sebentar."jawab Tio dengan pasti.
" apa yang kau katakan Tio ??!! aku bilang kan..-"
" aku ingin menemui anakmu bukan kau !!!" Tio menyela ucapan Dania.
Dania mendegus kesal dan memutar bola matanya dengan malas.
" Davi sama ibu dulu ya dirumah, Nanti malam om datang kesini lagi." ujar Tio.
" janji ya Om, Davi takut ada orang jahat lagi.."balas Davi.
Davi kembali menyembunyikan wajahnya diceruk leher sang Ibu. Dan Dania pun langsung membawa Davi masuk kedalam rumah.
.
.
Attalah uring uringan sejak tadi, ia mondar mandir disisi mobilnya menunggu Tio yang tak kunjung datang.
" Sialan Tio !! beraninya dia menyuruhku menunggu !!" gerutu Attalah. yang berulang kali menghubungi Tio namun tak dijawab.
hingga Netra Attalah menangkap Tio yang berjalan dengan santai keluar dari gang sempit itu.
" Nah itu dia !! apa-apaan dia itu ??!! masih bersantai saja !!" kembali Attalah mengerutu.
" maaf membuatmu menunggu." ucap Tio yang langsung masuk kedalam mobil.
Attalah melongo dibuatnya, Tio bahkan tak seperti biasa,
"kau mau masuk tidak ??!!" sentak Tio.
Attalah tersadar dan langsung masuk kedalam mobil juga.
" kenapa kau lama sekali !!" protes Attalah saat sudah didalam.
" Hidup Dania sangat sulit Atta.. dia sudah punya anak." Tio menceritakan pertemuannya dengan Dania.
" anak ?? berarti dia anakmu ??" terka Attalah.
" kufikir begitu. tapi Dania selalu mengelak." balas Tio.
" kenapa ??" tanya Attalah.
" entahlah, semenjak dulu aku menolak bertanggung jawab, dia terlihat membenciku."jawab Tio begitu lemah saat mengingat kejadian masa lalunya.
" lalu kau akan bagaimana ??" Attalah kembali bertanya.
" aku akan berusaha meyakinkan dia dulu. setidaknya aku tidak mau terbelenggu rasa bersalah seumur hidup."ujar Tio.
" itu bagus. tapi bisa tidak kita mitting dulu ?? kau tau kita sudah terlambat satu jam !!" Ucap Attalah dengan kesal.
" maaf, aku terlupa. baiklah. pegangan !!" Tio menancapkan pedal gas dan melaju dengan kecepatan cukup tinggi, memburu waktu yang harus tertunda barusan.
.
.
.