
Bab 188
.
.
.
D membopong tubuh Celine yang tak sadarkan diri. Wajah D begitu terlihat kawatir sekali. Ia bahkan mempercepat langkahnya untuk keluar dan membawa Celine.
"Celine !! bangunlah !!" Sepanjang berjalan D terus mengguncang tubuh celine agar wanita itu segera sadar.
Anggota D memberi jalan agar D mudah sampai diluar
"Kalian kembali saja. Aku akan menyetir sendiri." perintah D pada anggotanya. Semua menggangguk patuh.
D segera memasukkan Celine kedalam mobil dan ia pun segera masuk pula.
D mengendarai mobil bak orang kesetanan. Ia pun sendiri tak sadar jika ia tengah dilanda kekawatiran apalagi Celine tetap belum membuka matanya.
Tiba dirumah sakit D berlari cepat seraya membopong tubuh mungil Celine.
"Sus !!! Siapa saja !!! Tolong !!!" teriak D.
Beberapa perawat segera menyambut D dengan brankar dan mengarahkan Celine yang sudah diletakkan diatas brankar menuju ruang penanganan.
"Celine.. Bangunlah.." Gumam D yang tak melepas jemari Celine.
"Maaf tuan. Anda tunggu diluar sebentar ya ??" Pinta sang perawat.
"Tapi saya sangat kawatir dengan keadaannya."Balas D seolah tak mau.
"Tapi tuan itu sudah prosedur. Mohon kerja samanya jika anda meminta kami segera menangani pasien." timpal sang perawat.
Seraya mendegus kesal, D melepas perlahan jemari Celine dan mengalah. Ia tidak mungkin berdebat lama saat Celine sangat membutuhkan pertolongan.
.
.
.
Riana memijit pelipisnya. Hingga pukul 3 sore Wanda belum kembali kekantor, hingga Riana terpaksa bekerja sendiri. Menghandle kembali pekerjaan yang seharusnya diurus wanda.
Bahkan Riana yang harus menemani Tio untuk menemui klien setelah makan siang.
Rasa lelah amat menyelimuti riana hingga ia tidak sadar sejak tadi diperhatikan seseorang.
Willy yang baru saja mengantar Davi menemui sang papa tak sengaja melintasi ruangan Riana yang terbuka sedikit, memperlihatkan Riana yang terus memijit pelipisnya seolah begitu lelah.
" Mau kopi ??" tawar Willy
Sontak Riana mendongakkan kepalanya mencari suara itu.
"Oh.. Kau, sejak kapan kau disitu ?? Masuklah.." Riana mempersilahkan willy masuk.
Perlahan Willy masuk dengan membawa cangkir kopi yang entah sengaja atau tidak Willy membawa dua.
"Will, biasalah denganku. Jangan formal begitu. Berapa kali aku katakan.."Protes Riana.
Willy hanya membalas dengan senyuman saja.
"Ruangan Nona Wanda kosong. Dia tidak masuk ??" Willy basa basi.
"Itulah yang membuatku begini. Wanda menemui kekasihnya. Aku rasa mereka tengah bicara serius. Aku dengar dari tuan Tio cerita rumit mereka."tutur Riana.
"Kasihan mereka."Balas Willy.
"Aku hanya heran. Denis kenapa bisa melakukan semua itu.."Ucap Riana yang rasa dihatinya mulai berkurang. Apalagi saat mendengar cerita dari Tio.
"Kita tidak tau hati manusia akan seperti apa esok Nona. Terkadang saat ini kita membenci, tapi jika Tuhan sudah berkehendak benci itu akan menjadi Rasa suka." tutur Willy.
"Kau seperti pujangga saja.." canda Riana.
"Saya hanya bicara fakta dilapangan saja Nona." balas Willy.
"Lalu bagaimana dengan wanita yang kau sukai ?? Kau sudah mengutarakan rasa sukamu belum ??" Riana menopang dagu menatap Willy.
"Bahkan saya mundur sebelum mengutarakannya." jawab Willy.
"benarkah ?? Kenapa ??" Riana begitu antusias.
"Saya sadar siapa saya. Dia juga sepertinya tidak menyukai saya."
"Kenapa kau langsung mengambil keputusan begitu ??!! Kau bilang kita tidak tau hati manusia itu seperti apa."
"Tetap saja Nona. Dia sudah dimiliki orang lain."
"owww.. Tragis sekali percintaanmu Wil.."
"Bagaimana jika kau bersamaku saja ?? Aku juga masih jomblo..??" tawar Riana. Hal itu sontak membuat Willy terkejut dan membulatkan matanya.
Keheningan begitu terasa, kala Willy menatap intens Riana yang tersenyum kearahnya.
" ha..ha..ha..ha..." Tawa Riana lepas terdengar membuyarkan lamunan Willy.
"Lihatlah wajahmu Wil, sangat lucu sekali ?!!! Ha..ha..ha.." riana masih tertawa lepas.
Willy mengalihkan pandangannya. Ia sangat malu menganggap Yang dikatakan Riana sungguhan.
"Come on Will.. Kau marah karna candaanku ??" Tanya Riana
" tidak Nona.. Saya hanya terkejut saja."Balas Willy.
" Santai saja Will.. Thanks ya, kau begitu menghiburku.."ucap Riana dengan senyum bahagianya.
.
.
.