Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
Ini semua takdir



Bab 192


.


.


.


Semua sudah sepakat, Sewaktu jam makan siang, Baik Denis maupun wanda, Tio dan juga Dania bersama-sama menuju rumah Celine.


Awalnya Denis melarang Wanda ikut, namun wanda tetap kekeh menginginkan ikut dan hendak bertemu Celine.


Disepanjang jalan Denis dan wanda juga tak terlibat percakapan. Denis memilih menggunakan mobil sendiri agar jangan sampai sang kakak terus-terusan memarahinya.


"Apa masih jauh ??" tanya wanda. Saat sadar perjalanan mereka cukup lama.


"Iya. Sebentar lagi."Jawab Denis singkat.


"Wan.."Panggil Denis.


"Iya." Wanda memutar pandangannya mengarah pada Denis yang menyetir disisinya.


"Aku mohon jangan mengatakan akan mengalah. Mungkin Celine memang masa laluku, dan aku mencintaimu diwaktu yang tidak tepat. Tapi aku sangat serius dengan perasaanku padamu..please, jangan ikut pergi dari hidupku ya.."Ucap Denis dengan sungguh-sungguh.


Wanda mengatur nafasnya beberapa kali. "Aku datang terakhir Den, jadi semua keputusan ada pada Celine."


Denis hanya bisa mendesah lirih, hingga setelah perjalanan cukup jauh,mereka sampai dikediaman Orangtua Celine.


Tio dan Dania tiba terlebih dulu, lalu mereka segera turun. disusul Denis dan juga wanda.


Wanda bisa melihat betapa mewah rumah orangtua Celine, Hal itu benar-benar membuat wanda merasa tak ada apa-apanya dibandingkan dengan gadis muda itu.


Mereka disambut hangat pelayan rumah saat mengetuk pintu.


"Tuan Burhan ada ??" tanya Tio.


"Ada tuan. Mari silahkan masuk."Sang pelayan pun mempersilahkan Semuanya untuk masuk.


"Silahkan duduk dulu.. Saya panggilkan tuan dan Nyonya. Mereka sedang bersama Nona Muda."Pamit sang pelayan.


Semua menggangguk. Dania dituntun Tio agar duduk dengan perlahan disisinya. Begitupun dengan denis dan juga wanda.


Tak lama suara hentakan sepatu menuruni tangga terdengar, semua bisa melihat Pak burhan bersama istri dan juga Celine turun beriringan.


"Maaf tuan. Mengganggu waktu anda.."Tio berdiri dan menjabat tangan Pak burhan.


"Tidak masalah tuan Tio. Silahkan duduk lagi. Ini ada apa ya, kok datang kemari lagi ??" tanya pak Burhan seraya duduk.


"Saya disini hanya sebagai pengantar. Dan saya sangat lega, Celine sudah kembali dengan keadaan selamat. Biar adik saya yang mengatakan semuanya."Ucap Tio.


Pak burhan menggangguk begitupun dengan mamanya Celine.


Denis mengatur nafasnya dan dengan berani menatap Celine yang begitu biasa membalas tatapannya.


"Tuan.. Nyonya. Saya disini mau minta maaf, karna kesalahan saya,Celine harus hilang beberapa hari ini. Saya memang menyakiti Celine, Membuatnya terluka, Tapi semua saya lakukan karna hati saya, bukan niat jahat saya. Saya tidak pernah memiliki niat sejahat ini pada Celine." Tutur Denis berusaha menjelaskan.


"Dia kah kekasihmu saat ini ??" Tanya Celine terlihat biasa.


Wanda membalas tatapan Celine.


Celine terlihat berdiri menghampiri Wanda. Lalu mengulurkan tangannya. "Hay.. Aku Celine.. Kau kah kekasih Denis ??"


Wanda termangu dibuatnya. Ia fikir Gadis itu akan membencinya, namun nyatanya tidak.


"Oh.. Iya.. Em.. Aku wanda.."Wanda turut berdiri dan menerima uluran tangan Celine.


"Maaf ya, kau pasti merasa bersalah karna kepergianku.."Celine berkata demikian.


"Kenapa.. Kenapa malah kau yang minta maaf ??" Tanya wanda kebingungan.


Celine mengembangkan senyumnya. Lalu membungkuk kearah semua orang. "Aku benar-benar minta maaf pada kalian semua. Karna sudah membuat kalian semua merasa bersalah dan kalut. Ini semua takdir, kita ambil simple nya saja, Berarti aku dan Denis memang tidak berjodoh. Berhenti meminta maaf Denis..Kau tidak bersalah disini. Masalah hati kita tidak ada yang tau. Aku sudah baik, aku sudah mengiklaskan semuanya. Dan.."Celine beralih menatap wanda.


"Untukmu.. Jangan terus merasa bersalah. Aku tidak apa-apa sungguh. Kemarin aku hanya butuh waktu sendiri saja. Please.. Kita tetap saudara kan ??" Tambah Celine.


Mamanya Celine begitu terharu dengan ucapan putrinya. Entah dapat dari mana Celine bisa sekuat itu. Wanda apalagi, ia yang tak kuasa langsung memeluk Celine dengan erat bahkan menangis dalam pelukan itu.


Dania jangan ditanya lagi, ia ikut menitikkan airmata melihat keharuan didepan matanya.


.


.


.