
bab 155
.
.
.
Suster telah selesai memasang infus pada Willy. Riana baru bisa bernafas lega setelah kedatangan perawat yang menangani Willy.
" Tuan. lain kali hati-hati ya kalau turun. usahakan ada yang menemani agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi."Pesan sang suster.
" Baik sus. terima kasih."Balas Willy secara singkat.
Perawat lalu segera keluar dari ruangan itu.
Riana yang memang sangat penasaran sejak tadi segera mendekati Willy, ia pun sampai lupa jika kedatangannya untuk bertemu bos besarnya.
"Kau kecelakaan atau bagaimana ?? kenapa sampai luka seperti ini ??!!" Tanya Riana tanpa basa basi.
" Hanya kecelakaan kecil Nona. Maaf sudah merepotkan."Balas Willy lirih.
" Seperti ini kau bilang kecil ?!! ya ampun Will.. lukamu cukup serius."Timpal Riana.
Willy hanya terdiam, ia tak bisa membohongi siapapun lagi.
"Apa kau tidak punya keluarga ?? saudara misalnya ?? Kau harus ada yang menunggu !!?" Ucap Riana
" Keluarga saya hanya tuan Tio Nona."
"Kau serius ??!!" Riana sungguh tak percaya.
" Saya sebatang kara. Ibu saya sudah meninggal karna dilecehkan terus dan terus oleh ayah saya sendiri. bahkan Ibu saya dijual oleh Ayah saya. Tuan Tiolah yang membebaskan Saya dari jerat Ayah saya. makanya hanya Tuan Tio keluarga saya."Terang willy.
Riana sampai melongo mendengar penjelasan Willy. ia tak menyangka masih banyak orang yang lebih menyedihkan dari pada dirinya.
.
.
Denis menjabat tangan kliennya karna kontrak kerja berhasil ditanda tangani. tak disangka, Wanda berhasil memberikan dan menjelaskan semuanya pada klien.
Setelah berpamitan Klien denis segera berlalu dari hadapan Denis dan Wanda.
Wanda nampak sibuk dengan ponselnya, ia benar-benar kawatir pada Riana yang tidak memberi kabar sejak tadi. sampai ia tak sadar sedari tadi Denis memperhatikannya.
namun Seakan Pesona Wanda yang tak luntur sedikitpun.
" Huh.. kemana kau Riana ?!!!" Gumam Wanda tanpa sadar.
" Memang kak Riana kemana ??" Tanya Denis yang bisa mendengar gumaman Wanda.
" Oh..em..Saya juga tidak tau. pagi tadi dia menemui tuan Tio, tapi setelah tau tuan Tio tidak diruangan, dia menghilang entah kemana." balas Wanda.
" Mungkin kerumah sakit. Soalnya kak Tio menemani kak Dania menunggu Willy yang dirawat."Terang Denis.
" Willy dirawat ??!! memang dia sakit apa ??" tanya Wanda seketika.
Denis pun cukup terkejut dengan wajah kawatir Wanda. "Em..dia kecelakaan." jawab Denis pelan.
wanda menggangguk mengerti.
" Anda kawatir pada Willy sepertinya ?? apa hendak kesana ??" Tawar Denis memberi saran.
" Oh tidak.. saya hanya terkejut. Pekerjaan saya masih banyak. saya harus kembali kekantor."Wanda segera memasukkan ponselnya kedalam Tas.
" Eh..tunggu Nona.." Cegah Denis.
" Ada apa lagi tuan ?? apa masih ada pertemuan ??" Tanya Wanda.
" Bagaimana jika saya antar ??" Tawar Denis.
" Maaf saya tidak mau merepotkan, dan lagi..Kantor kita berlawanan arah."Tolak Wanda dengan halus.
"Oww itu, aku mau kerestoku. tidak jauh kok dari kantor kak Tio. Bagaimana ?? ayo.." Denis terus beralasan agar bisa mengantar Wanda.
Wanda sudah kehabisan alasan. hingga akhirnya wanda menggangguk setuju. Denis pun segera mengajak Wanda keluar dari cafe itu.
Baru saja Wanda dan Denis melangkah beriringan, Sebuah suara memanggil Wanda terdengar.
"Wanda !!"
wanda pun langsung menoleh kesumber suara.
Netranya membulat bak bola lagi. "ya Tuhan.. kenapa harus bertemu mereka lagi.." Batin Wanda.
.
.