
bab 119
.
.
.
Dania meletakkan mangkuk yang baru saja ia nikmati isinya. Dengan kepuasan ia mengusap bibirnya, sisa makanan yang mungkin saja menempel disekitar mulut.
" Bibi ini enak sekali.." Puji Dania
Bibi sumi yang melihat Nonanya makan begitu lahap cukup keheranan.
" Tapi nona.. Nona belum makan nasi loh, kok seblaknya langsung dihabiskan." tegur bik sumi.
" Habisnya enak bik.. Aku sedang malas makan nasi. eneg gitu.." balas Dania.
" Tapi nona kan harus minum obat.. Makan Nasi sedikit saja ya ?? Tuan bisa marah sama Bibi kalau nona tidak makan Nasi ??" Bujuk Bik sumi.
" Bibi jangan kawatir. kalau dia marah biar gantian aku yang memarahinya." balas Dania dengan mudah.
Bik Sumi hanya mendesah saja. ia telah kalah berdebat dengan Nonanya.
.
.
Davi dengan lahap menikmati Ice cream ditangannya.
Tio yang cukup lelah membuka kaca matanya dan mengusap matanya beberapa kali. Tak luap ia melirik jam dipergelangan tangannya. waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 siang. Tio pun sampai terlupa makan siang karna ia harus memperbaharui semua kesalahan para tikus dikantornya.
Tio beralih pada sang putra yang sangat mudah berinteraksi dengan orang baru sekarang, bahkan Tak mengganggu Tio sedikitpun.
Baru saja Tio hendak mengajak Davi keluar makan, Tiba-tiba pintu ruangan Tio diketuk dari luar .
" Iya !!" Balas Tio.
Pintu terbuka memperlihatkan Denis sang adik ipar yang membawa kantong berisi makanan.
" Selamat siang.." sapa Denis.
" Oh.. kau kemari, masuklah.." Balas Tio yang segera berdiri sebelum itu Tio tak lupa membuka kacamatanya.
" Paman Denis" sapa Davi penuh semangat. ia pun berdiri dan memeluk Denis.
" Wah, keponakan paman disini ya. ikut kerja ayah nih ceritanya. " Ucap Denis.
" Iya. Ibu sakit jadi Davi tidak mau ganggu ibu istirahat." balas Davi.
Denis sedikit terkejut lalu beralih menatap sang kakak ipar. "Kak dania sakit kak ??" tanya Denis.
" Hanya sedikit lelah." Balas Tio asal. namun ia teringat alasan yang cukup ambigu. "Em..maksudku, masuk angin saja." Tambah Tio dengan senyumannya.
" Oh.." Denis yang memang sudah mengerti hanya dapat mengganggukkan kepala.
" Kebetulan sekali, aku terlupa makan siang, untung Davi bersama Willy, jadi dia sampai tidak terabaikan." Balas Tio.
" benarkah ?? terima kasih ya.." Denis menatap Willy penuh keramahan, Dan dibalas anggukan oleh willy.
" Sama-sama tuan. itu memang tugas saya." Balas Willy penuh sopan.
" Kau jangan memanggilku tuan. sepertinya kita memang seumuran." Ucap Denis.
" Paman ayo makan !! Davi lapar !!" Davi menyela percakapan pria-pria tampan disisinya.
" Oh..kasihan sekali keponakanku ini..Ayo..ayo.. willy ayo ikut makan sekalian." Ajak Denis.
" Maaf tuan. bukannya saya tidak mau, tapi saya makan diluar saja." Balas Willy.
" Willy.. makanlah bersama kami" Perintah Tio. dan Willy memang tidak bisa menolak permintaan Bos besarnya. dan pada akhirnya Willy menggangguk.
" Wah.. kau menurut sekali dengan kakak iparku.." Canda Denis.
willy hanya menerbitkan senyum dan tertunduk.
Denis pun mulai membuka makanan yang ia bawa dan membagikan satu persatu dengan Tio, Davi dan pengawal Willy.
.
.
.
Dania merasa bosan dirumah yang nampak sepi karna tidak adanya Davi.
Tubuhnya tetap terasa lemah meski sejak tadi ia terus makan makanan Ringan. disofa panjang didepan tivi Dania duduk santai dengan Camilan ditangannya.
" Kenapa waktu lama sekali sih.. Ponselku juga tidak berbunyi, Apa Davi benar-benar tidak minta pulang ?? Anak itu.. kenapa melupakan Ibunya.." gerutu dania.
" Nona.. Ayo makan Nasi dulu, Bibi buatkan sup kesukaan Nona loh.." Bujuk Bik sumi. yang kebingungan Nonanya belum makan nasi sejak tadi.
" Bibi jangan nasinya ya.. supnya saja bawa sini.." Pinta Dania.
" Nona..katanya tubuhnya lemas. makanya makan Nasi.." Bujuk bik sumi.
akhirnya Dania patuh seperti dengan Ibunya, Dania mengekor dibelakang Bik sumi lalu segera duduk didepan meja makan, bik sumi nampak segera menyiapkan. meski malas, Akhirnya Dania mulai memakannya.
namun baru saja memasukkan nasi bersama sup kesukaannya dimulut, Perut Dania seperti tak mau menerimanya. dan..
uweeekkk !!!
.
.
.