
bab 92
.
Dengan membawa kotak hitam pemberian sang mama, Dania memasuki kamar Davi dimana Tio dan davi berada.
Untung saja ia pelan-pelan membuka pintu, sebab ternyata yang didalam dua laki-laki kesayangannya tengah terlelap dengan saling berpelukan. Saat melihat Itu Dania tersenyum bahagia.nyatanya Davi malah semakin sayang dan tidak mau jauh dari ayahnya..
Perlahan Dania meletakkan kotak hitam diatas meja nakas dan duduk disisi ranjang dan mengusap kepala Davi dengan penuh kasih sayang.
Kecupan pun diberikan Dania dikepala Putranya. Putra yang begitu ia sayangi sejak dulu.
" Sayang.. akhirnya kau bisa menjadi layak..Akhirnya kau berkumpul dengan Ayahmu..ini semua adalah impian Ibu selama ini, impian yang selalu Ibu tepis setiap Ibu mengharapkannya. dan ternyata, Ayahmu benar-benar mengabulkan impian Ibu.." gumam Dania lirih
Dania berpindah kesisi dimana Tio terlelap. Ia pun juga menghadiahi pria yang begitu ia cintai itu dengan Kecupan penuh cinta. "Tio..kau pria yang sangat hebat. aku sampai tidak tau akan berkata apa padamu, Bahkan aku rasa ucapan terima kasih saja masih kurang dan tak sebanding dengan apa yang kau berikan.. Kau segalanya untukku dan davi, jangan pernah tinggalkan kami lagi dan jangan pernah berniat berubah, semoga kau selalu panjang umur dan diberi kesehatan.. aku sangat mencintaimu Tio.." Gumam Dania sepenuh hati.
Tio mengembangkan senyum saat mendengar dengan jelas kata-kata Dania. Ia pun membuka mata perlahan dan memutar tubuhnya menatap Dania.
Dania amat terkejut saat Tio menatapnya dengan mata terbuka.
" Kau.?? kau, tidak tidur ??" tanya Dania dengan terkejut.
"Aku terbangun saat mencium aroma tubuhmu sayang.." balas Tio sekenannya.
Wajah Dania bersemu merah dengan senyumnya. Tio membenahi diri agar mudah menatap Dania.
" Coba katakan sekali lagi.. kata-katamu membuatku terbuai loh.." goda Tio.
" Tio..apa-apaan kau ini..!!" Protes Dania dengan masih tersenyum.
" Shuttt.. kau bisa membangunkan davi nanti.." Tio menempatkan telujuknya dibibir Dania.
"oh..sorry, aku terlupa.." balas Dania.
" Lihatlah dia.. mirip sekali denganku kan ??" Ucap Tio seraya menatap Davi yang terlelap dengan tenang.
" Kau terlalu percaya diri." timpal Dania.
" aku bicara fakta..besok kuberitau foto masa kecilku, kau akan terkejut karna mirip sekali dengan Davi" ucap Tio.
" Dari banyak survey jika anak laki-laki itu mirip dengan Ibunya.." Balas Dania.
"Itu survey yang salah..kemarilah.." Ajak Tio.
Tangan Dania terulur dan terus membelai kepala Davi.
" Kenapa Davi semalam mengamuk lagi ?? apa yang dikatakan dokter temanmu itu hanya bualan jika Davi bisa sembuh ??" tanya Dania lirih.
" Sindrom memang seperti itu sayang..Mungkin juga efek karna dia lelah, seharian dia kan tidak istirahat. Tapi Mike sudah bilang jika kemungkinan kesembuhan Davi 95%. Intinya kita harus mendukung dia." terang Tio.
Dania nampak membuang nafas dengan cukup kasar. " Aku takut dia tidak bisa sembuh Tio.."
" Hey.. kenapa kau bicara begitu. aku akan lakukan apapun untuk kesembuhan Davi.. kita akan sama-sama berjuang sayang..Kau jangan patah semangat." Hibur Tio.
" Dulu aku tidak pernah periksa kedokter selama mengandung Davi.. apa karna itu ??" Dania kembali bertanya.
Tio memejamkan mata, jika membicarakan hal itu dadanya merasa amat sesak. tak.bisa membayangkan bagaimana kondisi Dania dulu, hamil diusia muda tanpa didampingi siapapun. Kepingan dosa dan penyesalan menaungi diri seorang Tio.
" Maafkan aku..seharusnya aku menemanimu selama kesulitan itu.. maafkan aku dania.." Tutur Tio lirih.
" jangan begitu..aku tidak bermaksud mengingatkanmu, hanya saja aku merasa apa karna Selama dikandungan Davi tidak mendapatkan imunisasi, makanya dia seperti itu.. jangan bersedih.." Balas Dania
cupp..
Tio mengecup kepala Dania. " Jangan minta maaf.. aku malah sedih nanti."
Dania membenahi posisinya agar bisa menghadap Tio. "Tio..Kita tunda dulu untuk menambah momongan. Kita fokus dulu pada kesembuhan Davi ??" Pinta Dania dengan menatap Tio sungguh-sungguh.
Cupp..
Tio megecup bibir Dania dengan cepat.
" Aku ikut denganmu saja."
Dania pun menerbitkan senyum bahagia lagi, "Kau tidak keberatan kann??"
" Tentu saja tidak. kita sudah punya Davi, Kita fokus pada kesembuhannya dulu, aku tidak masalah sayang.. aku juga mau menebus dulu masa dimana tugasku sebagai ayahnya yang aku abaikan" terang Tio.
Dania memeluk Tio dan menempatkan wajah didada Tio, seakan Dania kini bermanja adalah sebuah Keharusan yang terbiasa Dania lakukan. Tio pun mendekap memberi ketenangan pada istrinya, wanita bar-bar yang juga memiliki sisi lemah dan manja.
.
.