
.
.
.
Dania baru bisa bernafas lega saat semua sudah memesan dan membuat dania harus segera turun dan menyiapkannnya.
Tio tetap sesekali melirik Dania yang begitu terlihat tidak nyaman, apa lagi saat rekan kerja Tio memilah beberapa menu yang lumayan lama.
" huh.." Dania membuang nafas dengan panjangnya. seakan ia tadi menahan nafas, Dania merasakan kelegaan yang begitu besar. Sejenak Dania memejamkan mata dengan memegang dadanya setelah menyerahkan pesanan tamu VVIP kepada Koki.
sentuhan mendadak dipundak Dania membuat Dania reflek dan hampir saja melayangkan tinjuannya.
" eehh !!! Dania ini aku !!!" ujar Widia seraya menahan tinjuan Dania yang terarah kepadanya.
" oh..emm.. maaf.. maaf pak, saya fikir orang iseng tadi.." Dania gelagapan lalu menunduk memberi hormat.
" kau selalu waspada ya orangnya ??" tanya Widi dengan senyum tipis diwajahnya.
Dania hanya mengulas senyum tipis tanpa berkomentar.
" oh ya, dimana Jesi ?? kenapa kau yang keatas tadi ??" tanya Widi.
" dia sakit perut pak, jadi saya yang menggantikannya." balas Dania.
" meja VVIP siap !!" suara koki terdengar.
" nah, cepat bawa keatas." pinta widi.
Dania sebenarnya malas bertemu lagi dengan pria yang berada diantara tamu penting itu, namun tuntutan pekerjaanlah yang membuat Dania harus terpaksa menerimanya.
" Dania..?" Widi menepuk pundak Dania.
" oh.. iya pak. saya permisi." Dania hendak mengangkat nampan berisi pesanan tamu, namun seketika Widi mengikutinya hingga tangan mereka bersentuhan.
sontak Dania langsung mendelik saat tangannya terpegang oleh widi.
sedangkan widi hanya tersenyum saja. memang ia sengaja melakukan itu.
" ehhemm !!!" sebuah deheman suara membuat Dania tersadar.
buru-buru Dania menarik tangannya. dan saat menoleh kesumber suara ternyata pria itu lagi.
Tio melipat kedua tangan seraya bersandar dipembatas Restoran, widi gelagapan dibuatnya,
" pantas saja pesananku lama," ucap Tio dengab santai. Dania langsung melayangkan tatapan tajam kearah Tio, sedangkan yang ditatap sama sekali tidak peduli.
" Maaf, tuan. maaf.. kami ini tadi tidak sengaja. saya berniat membantu Dania saja. dia kan masih baru bekerja disini.." terang widi seraya membungkuk dengan hormat.
Seakan tak mendengarkan ucapan Widi. Tio malah terus menatap Dania yang mengarahkan tatapan tajam padanya.
Dania mengerjapkan matanya lalu hendak meraih nampan yang berada dalam genggaman Widi. namun secepatnya Tio mencegah.
" biarkan widi yang membawanya !!"
" baik tuan.. baik.. saya permisi.." widi buru-buru meninggalkan Dania serta Tio. Dania ingin sekali protes namun seakan sudah mati kutu, Dania hanya bisa mendegus kesal.
Tak ingin terlalu lama didekat pria yang begitu ia benci, Dania memutar tubuhnya hendak pergi. namun dengan cepat Tio menarik lengan itu.
" lepaskan saya !!!" berontak Dania namun ia berusaha menahan agar suaranya tidak sampai terdengar yang lain. akan menjadi masalah jika semua tau ia mengenal Tio.
" ayo kita bicara " ajak Tio dengan datar.
" saya sibuk. lepaskan !!" balas Dania sekenanya.
" saya tidak peduli itu !! Tio langsung menarik Dania menuju kebelakang Restoran itu, disebuah ruangan. Dania berusaha melawan, beberapa kali bahkan Dania menendang kaki Tio namun seakan tak memiliki rasa, Tio tetap.kekeh dan terus menyeretnya.
" saya akan teriak jika anda tidak melepaskan tangan saya !!!" bentak Dania saat mereka sudah berada dilorong restoran.
entah akan dibawa kemana Dania kali ini. Dania sendiri tidak tau.
" teriak saja. kita akan cepat menikah jika kau berteriak." ujar Tio dengan seringainya.
Dania yang geram segera mengumpulkan tenaganya dan memutar lengan Tio yang memegangi lengannya.
Sakit saat mendengar kata menikah membuat Dania terlihat kuat.
dagg...!!!
Tio mundur beberapa langkah kala Dania langsung melayangkan tendangannya pada Tio.
Nafas Dania memburu dengan tatapan seperti mata elang, tajam dan menusuk.
" jika anda akan berbuat macam-macam saya tidak akan segan menghajar anda !!" ancam Dania.
" hentikan semua ini !! sampai kapan kau berpura-pura tidak mengenaliku !!" balas Tio yang menegakkan tubuhnya.
" saya memang tidak mengenal anda !!" balas Dania dengan suara begitu menggelegar, matanya memerah.
" hajar aku sekarang juga. tapi setelah itu aku minta kau mengakui aku dan mengenaliku." pinta Tio.
" Cih !! pria brengsek sepertimu tidak akan pernah aku ingat !!" balas Dania kembali dengan nafas semakin memburu.
Seakan ingin melampiaskan amarah, kekecewaan dan rasa sakit. Dania menyerang Tio yang berjalan mendekatinya. hingga beberapa pukulan dan tendangaan terus ia layangkan Tio hanya bertahan tanpa mau membalas, ia sangat mengerti yang dirasakan mantan kekasihnya itu.
.
.
.