Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
Bersabarlah Nak



bab 127


.


.


.


Tio hanya bisa menatap nanar Dania yang dipapah mama Hilda menuju kamar. ingin sekali Tio memberi perhatian, namun nyatanya calon anaknya sedang tidak mau ada didekatnya.


" Ayah.. Ibu kok muntah terus ?? sakitnya parah ya ??" tanya Davi yang bisa melihat sang Ibu yang diselimuti neneknya.


Tio mengusap kepala Davi. "Tidak sayang.. hanya perut ibu kan ada adiknya, jadi adiknya sedang tidak mau Ibu makan makanya kalau ibu makan terus muntah."


Meski tak mengerti Davi mengangguk. Tio beralih menatap Dania yang diusapi Minyak angin oleh mama.Hilda.


" Ma, mama bisa kan menginap disini ?? Dania mau tidur dengan mama ??" Pinta Dania.


" Tentu sayang.. mama akan menemanimu.." balas mama Hilda dengan senang hati.


Dania menerbitkan senyum diwajah pucatnya.


" Tunggu sebentar ya, mama.bicara dengan suamimu dulu.." ucap mama Hilda seraya menunjuk Tio yang setia berdiri didepan pintu.


Dania yang melihat suaminya setia menungguinya cukup terharu. Entah mengapa Dania sendiri tak tau kenapa jika hidungnya mencium bau tubuh Tio dia akan mual terus dan terus. Terlihat Davi berlari masuk dan memeluk Sang Ibu yang masih terbaring. "Ibu.. cepat sembuh ya.. Davi tidak akan nakal kok.." Ucap Davi.


" anak Ibu kan pintar, Terima kasih ya sayang." Balas Dania.


Davi meraba perut rata Dania. "Perut Ibu kecil sekali ?? adiknya muat didalam ??"


Dania menerbitkan senyum, cukup lucu mendengar pertanyaan Davi.


"Tentu saja cukup. buktinya dulu Davi juga diperut Ibu loh.." Balas Dania.


Davi cukup takjub dan nampak masih tak memgerti namun ia terlihat mengerti jika sang Ibu harus istirahat.


" Ma, bagaimana Dania ??" tanya Tio saat sang mertua sudah dihadapannya.


" Malam ini saja biarkan Dania tidur dengan mama ya ?? dia meminta tidur bersama mama ??" Ucap mama.Hilda.


" Aku sebenarnya tidak keberatan ma, Mama memang ibunya Dania. Tapi akan sampai kapan Dania tidak mau dekat denganku ?? aku pasti akan tersiksa ma.." Rengek Tio penuh kawatir, wajahnya saja terlihat menyedihkan.


" Bersabarlah Nak..besok kan kalian akan periksa kedokter, siapa tau Dokter bisa memberi solusi.."nasehat mama Hilda.


Tio hanya bisa pasrah dan membuang nafas dengan kasar.


" Cucu nenek malam ini tidur dengan paman Denis ya ?? Nenek mau menemani Ibu dulu.." ucap Mama hilda pada Davi.


" Tidak apa ma. Davi tidur dengan aku saja."Timpal Tio.


" Baiklah..beristirahatlah nak." balas mama Hilda.


meski cukup berat meninggalkan Dania. Tio akhirnya tetap melangkah menuju kamar Davi dengan menggandeng jemari Davi.


.


Denis bukannya kekamarnya malah mengikuti willy kehalaman belakang.


" Tuan mau apa mengikuti saya ??" Tanya Willy.


" Will, ajari aku bela diri" Jawab Denis.


Netra Willy hendak membulat namun secepatnya Willy menetralkannya.


" tuan jangan bercanda. Nona Dania saja ahli bela diri, pasti anda juga ahli dan mungkin malah diatas saya."Tutur Willy.


" Jangan bandingkan aku dengan kakakku,dia wanita bar-bar sejak kecil, dan aku hanya kucing rumahan yang menyedihkan. tapi aku serius, aku benar-benar tidak bisa bela diri sepertimu..ajari aku ya.. ya..?? please ??" Denis terlihat menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Hal itu benar-benar membuat willy keheranan.


" Kau tau, hal itu yang tidak membuatku pede dekat dengan wanita. aku merasa tidak bisa melindungi mereka." Terang denis.


" Tapi bagaimana jika tuan Tio..-"


" Jangan fikirkan dia. karna aku akan membayarmu, aku tau jika aku bayar kak Tio tidak akan protes, dia tidak mau aku hanya mau enaknya saja."Sanggah Denis.


"Baiklah tuan." balas Willy.


" Wil, bisa tidak jangan panggil aku tuan ?? kita seumuran, Kau membuatku menjadi lebih tua saja !!? atau aku bicara pada kak Tio ya supaya kau tidak dipecat hanya karna memanggil namaku saja ??" Celoteh denis.


" Tidak perlu tuan. saya akan belajar memanggil nama anda." Balas Willy dengan masih penuh sopan.


Denis melebarkan senyumnya. "Baiklah.. ayo kita mulai.." Denis mulai menggulung lengan kemejanya. Willy membalas dengan sunggingan senyum. ia benar-benar berada disebuah keluarga yang amat menghargai sesama tanpa memandang status dan kasta, ucap syukur tak henti terus terucap dihati Willy.


.


.


.