
bab 136
.
.
.
Sepanjang makan siang bersama Willy hanya terdiam. ia memang terlihat irit bicara. Wanda pun tak terlalu memperdulikan Willy, ia sibuk mengajak bermain Davi selama Tio belum kembali kekantor.
Willy pun yang memang ditugaskan menjaga Davi hanya duduk disisi cukup jauh dari Wanda dan Davi.
Entah sengaja atau tidak, Riana memilih kembali keruangannya dan membiarkan Willy berada diruangan wanda.
"Nona..Apa Nona tidak sedang bekerja ?? Tuan muda biar bermain dengan saya saja" Ucap Willy mulai buka suara. ia tidak mau sampai lalai dalam penjagaan.
" Davi maunya main sama Bibi. Paman cuma nurut terus kalau Davi suruh" Malah davi yang membalas.
" Davi sayang.. kalau orang dewasa bicara tidak boleh nyerobot begitu ya.." Nasehat wanda.
" Iya Bibi." Davi nampak patuh. karna bagi Davi Wanda sama dengan sang Ibu.
" Tidak apa Wil, kau istirahatlah. Biar Davi bersamaku."Ucap Wanda dengan tersenyum menatap Willy.
Sontak Willy seolah menjadi salting dan mengerjapkan matanya beberapa kali. apalagi kala melihat senyum yang terhias diwajah Wanda.
.
.
.
Tio sudah tiba dikantor bersama Sopir. tak dipungkiri bertemu klien dalam sehari sampai beberapa kali cukup menguras energi dan fikirannya. Sapaan dari para karyawan diterima Tio sepanjang menuju ruangannya. ia ingin sekali segera menyelesaikan pekerjaannya hari ini, agar bisa segera pulang. rasa rindu dengan sang istri selalu menggunung meski hanya beberapa jam saja tidak bertemu.
Didalam Lift Tio tak sengaja bertemu Riana yang baru saja dari lantai bawah dengan berkas pula ditangannya.
" Siang tuan." Sapa Riana.
" Hmmm.. Wanda dimana ??" tanya Tio tanpa ekspresi
" Wanda diruangannya Tuan. bersama Davi dan Willy. Tadi davi kemari katanya mau mengunjungi tuan."Terang Riana.
" Benarkah ?? kenapa kalian tidak menghubungiku ??!!" Protes Tio meminta penjelasan.
" Maaf tuan. kami fikir anda sedang sibuk."Balas Riana seraya tertunduk. jujur saja, Riana begitu takut jika melihat Ekspresi tidak suka bosnya itu.
Tio hanya mendegus kesal. ia segera melangkah keluar dari lift dan menuju ruangan Wanda. langkah kakinya yang lebar cukup membuat Tio cepat sampai disepan ruangan Wanda yang terlihat sedikit terbuka.
" Davi sayang.." Panggil Tio yang langsung masuk. Wanda dan Willy segera berdiri kesisi lain dan tertunduk.
" Anak Ayah nungguin dari tadi ya ?? Kenapa paman Willy tidak disuruh telfon Ayah ??!!" Tanya Tio.
" Ayah kan sedang kerja. Lagian tadi sudah main dengan bibi Wanda kok." terang Davi.
" Anak Ayah pintar sekali ya.. mau keruangan Ayah ??" tawar Tio.
" Iya !!" balas Davi penuh semangat.
" Come on boy.." Tio langsung melenggang keluar. "Willy kau istirahatlah. nanti kalau sudah waktunya pulang aku akan menghubungimu. wanda, kau dilarang lembur."Pesan Tio sebelum keluar dari ruangan wanda.
" Baik tuan."Balas wanda dan Willy bersamaan.
saat tubuh Tio tak terlihat lagi, Wanda dan willy sama-sama menghela nafas lega. seraya mengusap dada tanpa sadar bersamaan karna keduanya sama-sama memejamkan mata.
Tanpa diduga mereka berdua menoleh kearah satu sama lain hingga pandangan mata mereka beradu.
sadar yang mereka lakukan sama, willy dan Wanda tertawa bersama.
" Kau juga takut sekali ya dengan Tuan Tio ???" Tanya Wanda dengan sisa tawanya.
"tentu saja. Dia kan atasanku."jawab Willy yang juga masih terlihat sisa-sisa tawa diwajahnya.
" Huh.. aku pun juga.." Balas Wanda yang juga begitu segan dengan bos besarnya yang begitu baik padanya.
Mengingat kebaikan Tio, wanda hanya tersenyum tipis. seolah ia begitu bersyukur atas pertemuan Dania dan kekasih lamanya, kehidupannya nampak cerah sekarang, dengan Normal dan tak ada lagi istilah kupu-kupu malam. Sesaat Willy begitu menikmati senyum alami Wanda yang entah mengapa selalu membuat Willy tak bosan memandangnya.
.
.
.
Othor sedih deh, pembaca mulai berkurangπππ
gini amat sih sedihnyaπππ
Kalau emang nggak sesuai ekspektasi, terpaksa mau aku tamatin aja πππ
Biar otornya nggak kebaperan πππ
tetap makasih yang setia kasih suport buat otor, ππ meski hanya segelintir orang tapi kalian selalu bikin aku semangat πππ
.
.