Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
kasihan sekali



bab 62


.


.


.


Selesai makan bersama tak lupa Dania membereskan peralatan makan mereka.


" Biarkan OB yang membawa kepantry." ucap Tio seraya menekan tombol telfon di meja kerjanya.


Patuh. Dania langsung duduk dan melihat Davi bermain.


Tak lama OB pria datang dan membereskan semua dan langsung berpamitan pulang.


" Kami pulang dulu ya. Kau pasti akan lanjut bekerja." pamit Dania.


" bisa temani aku tidak ??" tawar Tio yang entah mengapa berubah serius.


" Kemana ??" tanya Dania penasaran.


sebelum menjawab, Tio beralih pada putranya yang bermain mobilan dilantai. "Davi sayang, Davi mau kan bermain dengan bibi sumi sebentar..?? Ayah dan Ibu akan pergi sebentar saja, tidak akan lama"


Davi menatap Ibu dan Ayahnya bergantian. " Ayah dan Ibu mau kemana ??" tanya Davi.


" em..Ada urusan orang dewasa yang harus Ayah dan Ibu kerjakan. nanti kalau Davi sudah dewasa, Davi pasti faham."terang Tio selembut mungkin.


" Tapi bibi sumi kan tidak kesini."balas Davi.


" sebentar lagi dia datang. nanti sama beberapa anak buah Ayah juga." tambah Tio.


Davi mengangguk pelan. " Ayah..Ibu.." panggil Davi lagi.


segera Tio dan Dania mendekati Davi dibawah. "ada apa sayang ?? kau keberatan sendirian ??" tanya Dania.


" bukan..Apa boleh Davi main kerumah fania ?? sudah lama aku tidak bermain dengan dia. Davi sudah mau sembuh, aku mau menyuruh Fania ke Om dokter baik itu, biar Fania juga bisa sembuh kayak Davi." terang Davi.


Dania tersenyum kearah putranya. "coba tanya Ayah boleh tidak."


Patuh, Davi beralih keayahnya" Ayah.."


" Boleh sayang.. tapi harus bersama Bibi sumi dan Anak buah Ayah ya ??" ucap Tio.


" yeee !!! main kerumah Fania.." Davi nampak.girang seraya menyusun mainannya kedalam kotak guna ia bawa kerumah Temannya itu


" Memangnya temannya Davi itu seperti Davi ya ??" tanya Tio pada Dania.


" Tentu saja tidak. anak kecil itu mempunyai penyakit mematikan Tio, dia mengidap kanker Darah."balas Dania yang begitu prihatin.


" benarkah ?? kasihan sekali.." timpal Tio.


Dania mengangguk mengiyakan.


.


.


.


" sebenarnya ada apa Tio ??" tanya Dania yang sebenarnya begitu penasaran.


Tio duduk disisi Dania dengan wajah seriusnya. "Kau ingat widi kan ??"


" pria itu, untuk apa kau menyuruhku mengingatnya ?!!" balas Dania dengan kesal.


" bukan begitu. aku harus menemui istri dan anaknya guna memberikan uang gaji dan kompensasi atas meninggalnya widi." terang Tio.


" apa kau bilang ?? meninggal ?? kau membunuh Widi ??!!" terka Dania.


" jangan sembarangan !! aku tidak membunuhnya !!" timpal Tio


" Tapi waktu itu anak buahmu kan yang membawa dia ??!!" ucap Dania.


" begini.." Tio pun menceritakan kronologi kematian Widi.


Hingga tanpa sadar Dania menutup mulutnya tak percaya.


" Memang kau punya tempat seperti itu ?? untuk apa kau memiliki tempat menyeramkan seperti itu Tio ??!!!" Dania memberondong Tio dengan pertanyaan.


" Itu hanya markas kecil Dania..dan salah dia sendiri kaburnya pakai loncar dari lantai atas. seharusnya kan dia bisa membedakan mana kolam renang orang, mana kolam buaya." tutur Tio membela diri.


" Itu sama saja !!! dasar !! aku tidak tau kau ini sebenarnya apa !!" gerutu Dania.


" jadi kau mau kan menemani aku menemui istrinya ??" tawar Tio lagi.


" tentu saja aku mau !! berapa usia anaknya widi ??" tanya Dania.


" Seusia putra kita."balas Tio.


" kasihan sekali dia..ya sudah ayo.." Dania pun segera beranjak.


" baiklah. ayo.." Tak lupa Tio meraih kunci mobil dan segera menggandeng tangan dania keluar dari ruangan.


Diluar tak sengaja ada Hany yang membawa berkas hendak keruangan Tio.


" Tuan. saya mau melaporkan ini.." ucap Hany membuat langkah Tio terhenti.


" letakkan ditempat biasa. kami harus pergi." balas Tio yang langsung masuk kedalam lift.


Hany menatap tajam pintu lift yang sudah tertutup. " Aku harus cari tau siapa wanita itu.. Kesempatanku sekarang semakin menipis untuk mendekati tuan Tio.." gumam Hany nampak tak suka dan langsung pergi menuju ruangannya lagi.


.


.


.