
bab 97
.
.
.
Tio nampak serius didepan laptopnya. " ada yang aneh disini. sepertinya aku harus pakai orang luar untuk menyelidiki semua ini." gumam Tio yang segera mengambil ponsel dan buru-buru menempelkannya ditelinga.
" Ada apa bos ??" jawaban dari sebrang terdengar kala.panggilan terhubung.
" Saya akan mengirim file kemarkas. Selidiki semuanya." Ucap Tio.
" siap.bos." Balas anak buah Tio.
Panggilan pun segera terputus, Tio dengan cepat mengutak atik papan keyboard dan mengirimkan semua yang begitu ia curigai.
tok..
tok..
tok.
" Iya.." Balas Tio. hingga pintu segera terbuka.
" Tuan. semua sudah berkumpul. tinggal menunggu anda." ucap Hany dari pintu.
Tio pun segera berdiri. "Iya." balas Tio dengan singkat. ia pun segera keluar bersama.Hany menuju ruang mitting.
.
.
Semua menunduk hormat saat Tio.memasuki ruangan mitting. saling bisik dan bertanya kenapa dan ada apa pemimpin mereka mengadakan rapat secara mendadak seperti ini.
Tio menatap sekeliling staf dan beberapa direktur dikantornya itu. Memang bukan Tio pemimpin mereka terdahulu, tapi jika sudah keterlaluan beginiTio tidak akan tinggal diam.
" Tuan. ada apa memgadakan rapat mendadak ?? Sekitar pukul 10 nanti saya harus bertemu orang Yang akan menangani proyek kita diluar kota."tanya salah satu pemegang saham sekaligus direktur keuangan dikantor Tio.
Tio masih nampak terdiam. ia meneliti semua wajah yang sebenarnya ia sudah curigai dari awal.
" Kerja sama kita dengan Perusahaan Luar negeri terpaksa batal dan kita rugi miliyaran rupiah karna semua itu. Tanpa sebab tanpa penjelasan. bahkan saya tidak bisa menghubungi perusahaan itu lagi.Ada kah yang bisa menjelaskan kenapa mereka membatalkan secara sepihak seperti ini??" terang Tio dengan jelas tegas namun.nampak santai.
" Kan tuan sendiri yang memilih bertemu dengan mereka. Kenapa bertanya pada kami ??" Tanya Seorang direktur lagi.
" benarlkah ?? lalu kemarin saat saya menikah ?? mereka mengajak bertemu lagi kan ?? kalian yakin tidak ada yang menemui mereka ??" Tutur Tio hingga membuat semua direktur celikungan.
" Bukan begitu tuan..Pak Wisnu yang bertemu mereka kemarin dan saat ini pak wisnu sedang tidak masuk karna sakit. jadi kita tunggu saja sampai pak wisnu berangkat. karna hanya dia yang tau semua itu." terang direktur keuangan.
Tio mengangguk mengiyakan. "akan saya tunggu." Tio pun berdiri. "Ingat satu hal. saya bukan Hans wiguna yang akan membiarkan anjing liar berkeliaran ditempat bersih seperti ini. Saya Tio Ridan Wiguna, yang tidak akan membiarkan sampah-sampah mengotori kantor ini !!!" Setelah berkata demikian Tio melenggang keluar.
para direktur yang memang bermain kotor itu saling melirik dan memilik Segera keluar.
.
.
Disibukkan dengan banyaknya pekerjaan, Membuat Tio lupa waktu. Hingga panggilan Davi menghentikan aktivitasnya. "Ayah.." panggil Davi yang membuka pintu lebih dulu.
" Wah.. anak Ayah sudah sampai ya.." Tio berdiri dan menyambut Davi dengan menggendong putra kesayangannya.
" kau masih kerja jam makan siang begini ??" tanya Dania yang bisa melihat sewaktu baru masuk jika Tio masih berkonsentrasi didepan berkas dan laptop.
" iya. Maaf sampai tidak dengar kalian datang.." balas Tio yang menghadiahi Dania kecupan hangat dikening Dania.
Dania hanya tersenyum membalasnya. ia segera membuka tempat makan yang ia bawa tadi.
" ayah..apa enak pakai kaca mata terus ??" tanya Davi yang kini memilih duduk disisi Tio.
" Tidak enak. pusing lama-lama. Ayah lepas nih.." Tio membuka kaca matanya.
Dania bisa melihat raut wajah lelah pada Tio.
Setelah mengambilkan untuk Davi, Dania mengambilkan untuk Tio.
" Jangan terlalu berlebihan kerjanya..Jika kau sakit bagaimana ??" Ucap dania yang duduk disisi Tiopula.
" Kan ada kau yang bisa merawatku." canda Tio yang mulai makan.
" Jangan bercanda Tio..kau nampak lelah hari ini." Balas Dania.
" Kau selalu tau ya..Emuuach.." Tio malah menyambar bibir Dania dan mengecupnya.
" Tio..?!!" protes dania.
Tio nampak tertawa lepas dan kembali menikmati makanannya.
.
.