
bab 158
.
.
.
Atas paksaan dari Riana, Willy akhirnya mau disuapi oleh Riana. Layaknya sepasang kekasih, Riana duduk disisi ranjang dengan piring berisi makanan dan menyuapkan satu demi satu sendok makanan untuk willy.
"Nona.. saya sudah kenyang.."Ucap Willy yang sebenarnya sangat tidak enak pada Riana. mengingat Riana adalah sahabat istri bosnya..
" Baru saja 3 suapan kok sudah kenyang. kenapa aku tidak percaya."balas Riana dengan cepat.
"Nona akan terlambat kembali kekantor, bukannya Nona harus bekerja."Willy mulai beralasan.
" kau bilang tuan Tio sedang menemani Istrinya kan ?? aku yakin sebentar lagi dia kemari. makanya aku tunggu disini saja, aku belum akan kembali jika belum mendapat tanda tangan darinya." Tutur Riana dengan mudah.
Willy menghembuskan nafasnya perlahan. entah alasan apa lagi yang akan ia berikan.
" Sudah.. cepat buka mulutmu lagi..Kau harus banyak makan, supaya cepat sembuh, kau mau lama-lama tinggal disini ??!" Riana mengarahkan sendok berisi makanan pada Willy.
" Sebenarnya saya sangat ingin pulang. saya tidak betah disini."balas Willy.
" Jika begitu makanlah yang banyak agar kau kuat dan segera pulang !! Aku heran, Orang-orang kalau sakit pasti juga sepertimu yang tidak mau makan, makanya lama-lama dirumah sakit, !!? Betah sekali diruangan sepi seperti ini !!" timpal Riana. omelannya tak sadar membuat Sudut bibir willy terangkat.
" Nona sendiri sudah makan belum ?? ini sudah waktunya makan siang ??" Tanya Willy
Riana melihat jam dipergelangan tangannya. "Nanti saja. Aku rasa berat badanku sudah naik, Tidak masalah tidak makan siang."
" Tapi jika sering telat makan juga akan sakit. Nona bisa menasehati tapi Nona sendiri malah abai."Willy mengalihkan kata.
"oww.. kau sudah berani membalikkan perkataan ya ??"Balas Riana dengan senyum dan tatapan candaannya.
Wully terkekeh melihat ekspresi Riana. "Saya hanya bicara fakta. Nona baru saja menasehati saya agar banyak makan supaya cepat sembuh, la ini Nona sendiri malah mengabaikan makan siang."
" berhenti membalikkan kata seperti itu Willy.. kau mau beralasan kan kan supaya tidak makan. ayo ngaku ??" Riana menunjuk Willy dengan candaannya.
Keduanya tertawa bersama, hingga tak menyadari dua pasang mata tengah terkejut bahkan nyaris hanya saling tatap melihat keakraban dihadapannya itu.
" Eh.. Dan.." Riana turun dari brankar dan mendekati dania serta Tio.
" Selamat siang tuan." Sapa Riana dengan sopan pada Tio. Tio tak bergeming, ia hanya diam.
" Kau sedang apa disini ??" Tanya Dania masih dengan sisa keterkejutannya.
" oh.. itu, aku mau menemui Tuan Tio. ada berkas yang harus ditanda tangani. Habis makan siang, Wanda akan bertemu klien dan menyerahkan proposal ini.." Riana berjalan menuju sofa dimana ia melempar berkas dan juga tas yang ia bawa. lalu segera membawa berkas itu mendekat pada Bosnya.
" Maaf tuan. saya terpaksa menunggu anda. Karna tadi..-"
" Kemarikan !!" Tio menyela ucapan Riana dengan cepat.
Riana menggangguk dan menyerahkan berkas dan juga pulpen. Tio pun segera membubuhkan tanda tangan pentingnya sebagai penyetuju kerja samanya dengan investor lain.
"Katakan pada Wanda, Pertemuan kedua masih dengan Denis lagi."Ucap Tio seraya menyodorkan berkas pada Riana.
" Baik tuan. kalau begitu saya permisi dulu.."Riana menunduk hormat pada Tio.
lalu beralih pada Dania, tersenyum dan mengedipkan salah satu matanya.
" Kau mau kembali Kekantor Ri ??" Tanya Dania.
" Iya. Aku yakin wanda pasti akan mengomel karna aku terlalu lama."Riana cekikikan namun segera berhenti karna sadar tatapan bosnya begitu dingin.
" Em.. Dan, aku pergi dulu ya.." Riana memeluk Dania agar tak melihat tatapan dingin sang bos besar.
" Baiklah..hati-hati.."Pesan Dania seraya membalas pelukan sahabatnya itu.
"Kau yang hati-hati.. jaga calon keponakanku ini.." Ucap Riana seraya mengusap perut rata Dania. keduanya tersenyum bahagia bersama.
Riana beralih pada Willy dan mengedipkan salah satu matanya. willy pun membalas dengan anggukan. kemudian Riana segera pergi dari rumah sakit. dan entah mengapa, Willy merasa tidak rela jika Riana pergi. seakan kamarnya akan sepi lagi tak seperti saat ada Riana.
.
.
.