
bab 162
.
.
.
Wanda sedikit resah karna ia hampir terlambat menemui klien. Denis yang diperintahkan Tio bersama Wanda belum menampakkan batang hidungnya.
" Apa dia lupa atau menghindar dariku ??" Gumam Wanda yang sesekali melirik jarum jam dipergelangan tangannya.
Wanda nampak mondar mandir dilobby kantor. hingga telinga wanda mendengar suara yang begitu ia sayangi.
" Mami !!!"
Wanda sontak menoleh. ia terkejut dengan yang berlari kecil kearahnya.
"Ridwan ?? Ka..kau kesini ?? Dengan siapa sayang ??" Tanya Wanda seraya memeluk Rizal dengan erat
Rizal membuka pelukannya dan mengeluarkan buket bunga kecil yang ia sembunyikan dipunggungnya. "Mami.. Happy birthday.."
Wanda begitu bahagia dan sangat tak menyangka.
"Terima kasih sayang.." ucap Wanda seraya mengecup kening Ridwan.
" Nanti dulu..Ada lagi.." Cegah Rizal.
"Apa ??" Wanda menatap sang putra dengan lekat
Rizal menarik lengan Wanda guna mengikuti langkah kakinya menuju Mobil yang terparkir dihalaman kantor.
"Mami lihatlah.." Rizal menunjuk kebelakang mobil dan kemudian tak lama kap mobil Belakang Denis terbuka, mengeluarkan banyak sekali balon berbentuk hati dengan tulisan Happy birthday.
Wanda dibuat takjub dan terharu melihatnya. apa lagi saat Denis turut keluar dari dalam mobilnya dengan membawa kue kecil serta buket bunga tak lupa senyum pun diterbitkan oleh Denis saat melangkah mendekati Wanda dan Rizal.
Para karyawan pun turut menyaksikan kejutan kecil yang diberikan Denis untuk ulang tahun Wanda. mereka begitu tak menyangka jika Wanda memiliki hubungan yang lebih dari sekedar rekan kerja.
Denis berhenti tepat dihadapan Wanda lalu menyerahkan buket bunga yang ia bawa pada Wanda.
Seakan masih tak percaya, Wanda hanya mematung diam dengan menatap lekat Denis. pria muda yang entah mengapa bisa membuat dadanya bergetar.
"Selamat ulang tahun Nona Wanda."
"Menolong ?? Memang kau kenapa sayang ??" Wanda beralih menatap putranya.
" Miss Ayla mau mengajakku ikut dengannya Mi." Terang Rizal.
" Kau tidak terluka kan ?? Apa miss Ayla menyakitimu nak ??!!" Wanda begitu kawatir.
"Tidak mami.. itu paman Denis kasihan"Rizal menunjuk Denis yang setia menunggu.
" Oh..iya. maaf, aku terlalu kawatir pada Ridwan. terima kasih tuan Denis.."Wanda segera menerima buket bunga dari denis. hal itu sontak mendapat tepukan riuh dari pada karyawan.
" Sama-sama. Silahkan panjatkan doa dan tiup lilinnya.."Ucap Denis seraya menyalakan satu lilin pada kue yang ada ditangannya.
Wanda tersenyum kecil, Dan entah mengapa Wanda pun patuh menurut memejamkan mata memanjatkan doa, lalu kemudian meniup lilin itu hingga padam.
" Mami pasti senang, baru kali ini Mami dikasih kue ulangtahun."Kata Rizal dengan jujur.
" Ridwan.."Wanda terlihat malu sekali.
" Benarkah ?? mulai sekarang setiap tahun akan paman berikan kue untuk ulangtahun Maminya Rizal. bagaimana ??" Denis begitu bersemangat.
" Bagus sekali !! Setuju !!" Rizal dan Denis bertos ria dengan senyum lebar yang terkembang diwajah keduanya , hal itu membuat Wanda melongo, bahkan mereka baru saja saling mengenal, kenapa bisa sedekat itu ?
Tanpa mereka sadari, Sejak tadi Riana memperhatikan dari jarak cukup jauh. dadanya terasa sesak melihat denis yang perhatian pada Wanda. meski mereka memang tidak memiliki hubungan, namun dari sikap Denis, Riana bisa menebak jika pria muda itu memiliki rasa pada sahabatnya.
" Kuatlah Riana...Setidaknya Denis menyukai temanmu bukan orang lain..kau harus diam dan memedamnya sendiri.."Gumam Riana yang memilih langsung masuk kedalam saja. rasanya tak sanggup jika harus berada disana terus terusan.
.
.
Lah..lah.. kok jadi cinta segi tiga ??
😁😁 mohon maap yee, Emang alurnya begini. jadi sabar 👍👍👍🙏🙏
.
.
.