
bab 128
.
.
.
Tio memakaikan selimut pada tubuh Davi setelah Davi membaringkan tubuhnya. Setelahnya, Tio tidur seraya memiringkan tubuhnya kesisi Menghadap Davi.
Senyum yang begitu selalu membuat Tio bahagia diterbitkan Davi, apalagi davi memperlihatkan deretan giginya yang terlihat putih.
" Kenapa Davi senyum terus ?? senang ya tidur dengan Ayah ??" Tanya Tio sembari mengusap kepala Davi dengan pelan.
" Tentu saja. Davi juga senang bisa punya adik, Davi senang punya Ayah dan Ibu, Davi juga senang sekarang Davi sembuh, dulu miss Ayla sering sekali mengatai Davi anak gila Kalau datang dan mencari Ibu.." Tutur Davi.
Tio melandaskan ciuman dikening Davi. "Maafkan Ayah ya, dulu belum menemukan Davi."
" Memang Ayah dulu kemana ?? kok sampai tidak menemukan aku dan Ibu ??" Tanya Davi dengan polos.
" Ayah bekerja nak.. sudahlah, yang terpenting sekarang Davi harus terus semangat terapy bersama om dokter. Supaya kesembuhan Davi sempurna. Ayah dan Ibu akan selalu menemani Davi setiap saat."Balas Tio penuh kasih sayang.
Davi melingkarkan salah satu tangan memeluk sang Ayah sembari memejamkan mata. sedangkan Tio membalas dengan menghujani kepala Davi dengan kecupan penuh kasih sayang.
.
.
Sementara Dania masih setia dengan memeluk Mama Hilda. entah mengapa ia begitu merindukan bermanja pada sang mama.
usapan yang diberikan mama Hilda seolah begitu menenangkan bagi Dania.
" Mama jadi teringat dulu sewaktu hamil dirimu, Mama juga tidak bisa dekat dengan papamu, Setiap malam mama tidurnya dengan nenekmu, semua itu benar-benar membuat papamu kesal. mama yakin dia perempuan.." ucap mama Hilda seraya mengusap perut Dania yang masih rata
" Dia masih baru jangan menerka dulu ma.."Balas Dania lirih
" Setiap kehamilan itu berbeda-beda sayang..Meski dari satu ibu dan Ayah pun akan berbeda, ada sebagian yang sama tapi banyak yang berbeda. Mama dulu juga seperti kau ini saat hamil dirimu, tapi mama terlihat sehat saat hamil Denis."Terang mama Hilda.
" Andai papa masih hidup..apa papa mau menerimaku dan Davi ya ma.." ucap Dania.
" Tentu saja sayang.. kemarahan papa waktu itu hanya sebatas hari itu saja. dilain hari papamu terlihat murung karna menyesali perbuatannya yang mengusirmu, papamu memang hanya diam, tapi semua terlihat dari sorot matanya."Tutur mama Hilda.
Dania memejamkan mata saat rasa kantuk semakin ia rasakan.
" Mama.. rasanya nyaman sekali.."
" Tidurlah nak.."Usapan mama Hilda semakin membuat Dania terbuai.
" Gadis tomboyku..mama masih belum percaya kau sudah dewasa dan akan punya dua anak."Gumam Mama Hilda yang melayangkan kecupan dikepala Dania.
.
.
Wanda terlihat keluar dari kamarnya setelah membersihkan diri. Ia menuju Dapur untuk mengambil air minum, tak sengaja wanda melihat Riana yang duduk didepan kolam renang malam itu.
" ada apa dia disana ??" Gumam Wanda yang segera menghampiri teman serumahnya itu. Iya, Wanda dan Riana tidak tinggal dikontrakan petak lagi. bahkan wanda juga sudah tidak terikat dengan Miss Ayla. Tio menugaskan mereka berdua mengurus kontrakan dengan memberi fasilitas tempat tinggal layak disana. bahkan Beberapa hari ini Tio mempekerjakan mereka berdua dikantor.
" Apa yang kau fikirkan ??" Tegur Wanda yang sudah dibelakang Riana yang duduk bersandar.
" Kau belum tidur ?? kemarilah duduk dan temani aku." Riana mempersilahkan Wanda agar duduk.
Patuh, Wanda pun segera duduk. Tak dipungkiri dua wanita itu sama-sama seksi dengan piyama Tidur yang cukup terbuka. untung dirumah itu tidak ada pria, jika ada pasti mereka tidak akan selamat.
.
.
.