
bab 95
.
.
.
Tengah malam Tio tak sengaja terbangun karna rasa haus yang mengganggu dirinya.
Tanpa menggunakan alas kaki Tio menuruni satu persatu anak tangga dengan Membawa Teko kecil yang ada dikamar Dania.
Tiba dibawah Tak sengaja Tio melihat Mama mertuanya duduk melamun didepan pintu kaca yang memperlihatkan Kolam renang serta Taman belakang rumah itu.
Perlahan Tio meletakkan Tekonya diatas meja makan dan memilih menghampiri mama mertuanya.
" Mama sedang apa disini ??" tanya Tio yang berjalan kearah mama Hilda duduk.
Mama Hilda cukup terkejut dan langsung menoleh, "eh..nak Tio, Mama fikir siapa..kok belum tidur ??" Tanya mama Hilda balik.
Tio menghentikan langkah kakinya seraya memasukkan kedua tangan disaku celana piyama yang ia kenakan.
" aku terbangun dan sedikit haus. air putih dikamar Dania habis makanya aku mau mengambinya. Tapi malah melihat mama disini." terang Tio.
Mama Hilda berdiri perlahan dan mendekati menantunya. Pria yang dulu sempat ia benci karna meninggalkan putrinya dalam keadaan hamil.
" Mama Hanya merindukan papa mertuamu Nak Tio..Biasanya selama kepergian dania, Kami duduk disini berdua setelah berdoa meminta Dipertemukan dengan Dania lagi." Terang Mama Hilda.
" Papa mertua pasti sudah tenang, Dania juga sudah kembali kesini bersama.Kita."Balas Tio.
mama Hilda nampak mengangguk. "Iya. Mama benar-benar tidak menyangka,Kau membuktikan semuanya seperti ini. Bahkan kau berusaha terus mendekatkan aku dan Dania lagi dalam kecanggungan yang begitu dalam ini.." tutur mama Hilda.
Tio masih setia mendengarkan.
" Kau tau. Aku dulu begitu ingin memenjarakanmu, apalagi saat mendengar kau menolak bertanggung jawab pada Dania..Hatiku benar- sakit sekali.."ucap Mama Hilda.
"Tapi kini, kau mematahkan semua anggapan burukku. terima kasih Tio. terima kasih telah menemukan kami, Terima kasih atas bukti yang kau berikan," Tambah Mama.Hilda dengan suara paraunya.
" Mama Jangan berlebihan..Sejak awal aku memang berniat bertanggung jawab. Penolakan orangtua ku yang membuat Dania salah faham."balas Tio.
" Tio..kebetulan sekali kita disini berdua. ada yang mau mama katakan." Ucap mama Hilda.
" Aku tidak meragukan kemampuanmu membahagiakan Dania dan Cucuku Davi. tapi Satu hal yang mama ingin katakan, Mama harap jangan sampai kau sakiti Dania apalagi sampai membuatnya menangis. Cukup panjang penderitaan dan air mata yang dirasakan Dania. jika kau merasa bosan dengannya, Kembalikan padaku saja. aku orangtua, Aku orang pertama yang akan mengambil Dania dengan paksa jika kau menyakitinya." tutur mama Hilda dengan menitikkan air mata.
Tio mengembangkan senyum tipis dan menatap mama Hilda dengan serius. " Aku juga tidak akan berjanji ma. Tapi aku akan berusaha semampuku, bahkan dengan segenap nyawaku, aku tidak akan memberikan air mata lagi pada Dania."
Mama Hilda mengangguk dengan cepat seraya menghapus air matanya.
" terima kasih..terima kasih."
.
.
Tio masuk kembali kekamar Davi dengan teko air putih ditangannya. Langkahnya terhenti saat mendapati Dania melipat kedua tangan didepan pintu.
" Kau terbangun ??" Tanya Tio setelah meletakkan teko air diatas meja nakas.
" kau dari mana ??" Tanya Dania balik.
" Kenapa ?? tidak enak ya tidur tidak dipeluk suami ??" goda Tio sembari mendekati Dania.
" Tentu saja !!!?" balas dania dengan cepat. bahkan tanpa ragu dania memeluk Tio.
Sambutan kehangatan diberikan Tio. "Ya ampun.. julukan bar-bar sepertinya sudah tidak cocok untukmu." Canda Tio lagi.
" Biarkan saja.. Kau kan suamiku..Iya kan ??" Dania menengadah dengan tangan masih melingkar diperut Tio.
" Iya istriku.. kau istriku.. istri kesayanganku.." balas Tio.yang menyatukan kening mereka.
" Awas saja jika kau berani menyakitiku lagi. aku akan mengulitimu hidup-hidup !!" Ucap Dania lagi.
Hal itu membuat Tio terkekeh, apa efek mimpi buruk atau karna memang status sah mereka yang membuat Dania bermanja seperti itu, Tio sama sekali tak mau tau.
"Tio aku sangat mencintaimu..aku sangat mencintaimu.. Terima kasih atas semuanya.." Batin Dania dengan sepenuh hatinya.
..
.
.