
bab 68
.
.
.
Malam yang larut masih Tio habiskan didepan laptop miliknya. Kaca mata yang ada dimatanya, menjadi teman dikeheningan malam. hanya suara papan keyboard yang terketuk jemari Tio yang terdengar.
Sesekali Tio meregangkan kedua tangan guna mengusir pegal dan kebas pada tubuhnya. Seharian mengawal Dania membuat ia harus bekerja hingga malam.
Dania yang terbangun karna rasa haus yang mendera tak sengaja melihat ruang kerja Tio yang masih terang karna lampu yang masih menyala. "apa dia masih disana ??" Gumam Dania yang mengurungkan niatnya untuk turun malah menuju ruangan kerja Tio.
Nampak Tio yang sedang memijit pelipisnya sembari membenarkan kaca matanya.
melihat itu Dania cukup kasihan. Karna seharian menuruti keinginannya, Tio sampai harus menyelesaikan pekerjaannya hingga selarut itu.
" Anakmu baru satu. tapi matamu sudah rabun." tegur Dania seraya masuk.
Tio seketika menoleh kearah pintu. ia cukup terkejut saat melihat Dania, sebab jam sudah menunjukkan pukul 01.00 malam.
" kenapa kau belum tidur ??" tanya Tio yang segera berdiri dari duduknya.
" Kau sendiri ??" tanya Dania balik saat mereka berdua saling berhadapan.
Tio yang masih menggunakan kaca mata tak sedikitpun mengurangi ketampanannya, Melihat Itu Dania tersenyum dihadapan pria yang masih menempati hatinya itu.
" sebentar lagi aku tidur. aku menyelesaikan memeriksa laporan dulu. kau sendiri kenapa tidak tidur ??" tanya Tio yang merengkuk pinggang Dania dengan posesif.
" Apa kau menungguku ??" Goda Tio.
" Cih !! jangan terlalu percaya diri. aku haus. makanya aku terbangun."balas Dania.
" Ya sudah..segeralah minum dan kembali kekamarmu untuk tidur lagi. ini tengah malam, banyak setan kalau kau masih disini." ucap Tio dengan tak lupa mengecup kening Dania.
" Aku baru tau jika setan memakai kaca mata minus." canda Dania.
" kau sudah berani ya.." Balas Tio.
keduanya tertawa bersama nampak sekali bahagia.
" Kau juga harus istirahat. maaf ya, karna menemaniku pekerjaanmu jadi terganggu." ucap Dania dengan jujur.
" Berhenti minta maaf dan pergilah tidur. sebelum setan ini mengamuk" Balas Tio dengan masih tersenyum.
" Wanita itu.. awas saja kau ya, jika sudah sah aku akan menghabisimu.." gumam Tio yang memilih kembali ke mejanya.
.
.
Pagi hari sudah tiba dengan cepat. Dania juga telah selesai menyiapkan sarapan, Davi pun sudah duduk siap didepan meja makan.
" ibu Ayah mana ??" tanya Davi.
" Sebentar ya, Ibu panggil Ayah dulu." Dania segera menaiki tangga menuju kamar Tio. baru saja Dania hendak memgetuk pintu Tio sudah membuka pintu dan akan keluar. bahkan Tio sudah sangat rapi dengan setelan kerjanya
" Aku baru mau memanggilmu. Davi menunggu dibawah."ucap Dania.
" Davi atau kau yang menungguku ??" goda Tio.
" Dasar.. sudahlah ayo.. kau tidak lelah, semalam kau tidur jam berapa ??" Dania memberondong Tio dengan beberapa pertanyaan seraya mengikuti Tio menuruni tangga
" Aku bahkan tidak sempat melihat jam." balas Tio.
meski dengan tersenyum, Dania cukup merasa bersalah.
" Lain kali aku tidak akan membuatmu sesulit ini " ucap Dania.
Tio merengkuh pinggang Dania dengan cepat. "berhenti berkata itu !! kau mau aku hukum ??" tegur Tio seraya mendekatkan wajahnya pada Dania.
" ayah !!" panggil Davi saat melihat sang Ayah sudah dibawah.
" Iya sayang.. Menunggu Ayah ya ?? Kasihan sekali.." Tio melenggang meninggalkan Dania yang mematung akibat perbuatan Tio barusan.
Dania tersadar dan mengerjapkan matanya beberapa kali. "astaga Dania..apa yang kau fikirkan..Aku rasa otakku sudah terkontaminasi oleh pria itu.." gumam Dania dengan gemasnya.
.
.
.
.
.