
bab 124
.
.
.
Tio menutup pintu kamarnya dengan perlahan. ia akhirnya mengalah untuk keluar karna jika tidak Dania akan muntah terus.
entah bahagia atau apa rasanya Tio bingung sendiri. tapi yang dominan memang rasa bahagia hingga ia terhenti di anak tangga terakhir.
netra Tio mengedar mencari putra kesayangannya. " kemana Willy membawa Davi ??" Gumam Tio.
" Tuan mau makan malam ??" tanya Bik sumi yang datang dari dapur.
" Nanti saja bik..Davi kemana ya Bik ??" tanya Tio.
" Tuan kecil dengan pengawalnya dihalaman belakang tuan. tadi katanya mau melukis." jawab Bik sumi.
Tio hendak melangkah kehalaman belakang namun suara ketukan pintu membuat niatnya urung.
Bik sumi berlari keluar untuk membuka.
" Siapa bik ??" Tanya Tio.
" Nona wanda dan Nona Riana tuan !!" Balas Bik sumi yang membawa dua wanita serta satu anak laki-laki masuk keruangan tengah.
" Selamat malam tuan. maaf mengganggu. kami mau menjenguk Dania." Ucap Wanda menyapa.
" Iya. tapi Dania dikamar. kalian keatas saja."Balas Tio.
" Davi mana Mi ??" Tanya Rizal putra Wanda. wanda mengedar mencari keberadaan anak temannya itu.
" Kak Rizal !!!" Panggil Davi yang masuk dengan digendong Willy. Riana langsung terperajak kala melihat Willy yang ternyata juga tinggal dirumah itu.
" Davi !!!" Rizal berlari mendekati pria kecil yang selalu bermain dengannya dulu.
Davi melorot dan memeluk Rizal dengan erat. " Kakak apa kabar ??" tanya Davi.
Rizal pun terperangah dengan kondisi Davi sekarang yang terlihat seperti orang normal.
" Kakak.. ayo main" Ajak Davi menarik Rizal untuk ikut dengannya kehalaman.
" Saya permisi tuan." Willy menunduk hormat dan mengejar dua anak kecil beda usia itu.
" Kami permisi keatas dulu ya tuan." Pamit Riana.
"iya." Balas Tio singkat. Tio memilih duduk didepan meja makan dengan wajah malas.
.
.
" Dania..kami datang.." Wanda langsung membuka pintu dan langsung masuk bersama dengan Riana.
Mereka berdua pun cukup terkejut saat melihat Dania bersandar sembari bermain ponsel. "Kalian datang..kenapa tidak bilang !!?"
Wanda langsung duduk disisi Dania dan memegangi kening dania. " Tidak panas ?? kau sakit atau malas ?!!!" Tegur Wanda.
" Apaan sih !! aku hanya lelah saja." Balas Dania.
" Huh.. kami fikir kau benar sakit. lalu kenapa kau dikamar terus ??" Tanya Wanda.
Senyum Dania sontak terbit. Langsung Dania meraih sesuatu yang ia letakkan dilaci nakasnya.
" Lihatlah.." Dania menunjukkan Testpeck pada kedua temannya.
Senyum bahagia terlihat jelas pada Wanda Dan Riana. "Kau hamil Dan ??" Riana masih terlihat tak percaya.
" iya." Balas Dania penuh semangat.
Wanda dan riana seketika langsung memeluk tubuh Dania dengan erat. "Selamat Dania.." ucap Wanda ikut bahagia.
" akhirnya Davi punya adik juga.." Tambah Riana.
Dania tersenyum lebar penuh bahagia.
.
.
.
Tio memijit pelipisnya cukup pusing memikirkan bagaimana nasibnya nanti jika tak tidur bersama Istri tercintanya.
" Nak Tio kok melamun disini ?? Danianya mana ??" Tegur Mama.Hilda yang entah sejak kapan sudah datang bersama Denis.
" Mama.. Kapan datang ??" Tio sedikit terkejut dan langsung berdiri menyambut sang mertua.
" Baru saja. kenapa kau melamun nak ??" tanya Mama Hilda lagi.
" Kak Dania dan Davi mana kak ??" Tanya Denis yang tidak menemukan obyek pertanyaannya.
" Davi bermain dihalaman belakang. kalau Dania ada diatas. dia tidak mau dekat denganku ma, Katanya aku bau." Akhirnya Tio mengutarakan kegundahannya pada sang mertua.
" Apa ?? alasan macam apa itu ??" Tanya Mama Hilda keheranan.
Tio menghela nafas panjang dan menceritakan keadaan sebenarnya istrinya. raut kebahagiaan terlihat diwajah mama Hilda dan juga Denis.
" Sabarlah Nak. Ini hanya beberapa bulan saja." Hibur mama Hilda.
" Tapi ma, aku mana bisa jauh-jauh dari Dania.." Balas Tio mengeluh.
" Nikmati saja kak.. " Ucap Denis dengan candaannya.
Tio hanya terus membuang nafas dengan berat.
.
.
.