
.
.
.
Setelah berkata demikian Tio langsung melenggang bebas begitu saja. Attalah semakin nampak heran dengan semua yang terjadi. bahkan pelayan itu tidak melakukan kesalahan apapun, kenapa dengan temannya itu. Attalah sudah sangat yakin jika Tio sedang tidak baik saat ini .
Sementara Dania yang begitu geram hanya bisa mengepalkan kuat tangannya.
Sedangkan Widi juga dihantui kebimbangan. Jatuh hati pada pandangan pertama terhadap Dania membuat ia amat berat untuk memecat Dania, namun Keinginan bosnya tidak mungkin bisa ditolak, apa lagi disanggah.
brakk !!
Dania meletakkan nampan yang ia bawa dengan kasar hingga membuat semua terkejut.
Jesi berlari mendekati Dania yang terlihat nafasnya memburu dengan wajah tak bersahabat
" ada apa Dan ??" tanya Jesi dengan wajah nampak serius.
" pria tadi itu siapa ?? berani sekali menyuruhku dipecat !!!?" balas Dania yang masih terlihat kesal dan marah
" dia pemilik Restoran ini Dan, dan maaf apa kau..-" Jesi menghentikan pertanyaannya.
Dania langsung melayangkan tatapan tajam kepada Jesi, hingga membuat Jesi cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Dania.." panggil Widi yang entah sejak kapan sudah dibelakang Dania dan Jesi.
Dania memutar tubuhnya sembari mendegus kesal. " ada apa pak ??"
" emm.. sebenarnya saya tidak bisa mengatakannya, tapi...-" Widi menundukkan wajahnya, seraya meremas jemarinya.
" sudahlah, saya tau anda pasti tidak akan bisa melawan !! permisi..!!" Dania langsung pergi begitu saja. namun widi berusaha mencegahnya dengan menahan lengan Dania.
"tunggu Dania !!"
secepat kilat pula Dania menepis tangan Widi.
" maaf..maaf.. em..maksud saya nanti jika ditempat lain ada pekerjaan saya akan kabari."ujar Widi dengan menerbitkan senyumnya.
" terima kasih. itu tidak perlu." jawab Dania yang langsung memutar tubuhnya dan pergi.
Widi geram bukan main, hingga beberapa kali berteriak, Jesi memilih berlari mengejar Dania yang dipecat tanpa alasan yang jelas.
Dania berjalan cepat menuju lokernya untuk bertukar baju.dalam hati ia terus mengumpat dengan amarah untuk Tio,
Buru-buru, Dania meraih tasnya dan hendak pergi. nampak jesi dari arah berlawanan.
" Dania.. kau mau pulang ??" tanya Jesi dengan mimik wajah muram.
" iya. pria gila tadi sudah memecatku kan.." jawab Dania dengan lirih.
" em..terus nanti kau bagaimana ?? gimana kalau aku bantu kau membujuk bos besar ??" tawar Jesi berusaha memberi solusi.
Dania menyunggingkan senyum tipis. "kau fikir pria gila itu anak kecil, yang bisa dibujuk ??!! sudahlah Jes, mungkin memang ini bukan rezekiku. bekerjalah dengan baik agar kau tidak sampai dipecat." Terang Dania seraya menepuk pundak jesi.
Jesi memeluk Dania. memang mereka baru dekat pagi tadi, tapi Jesi merasa sudah akrab sekali Dania begitu saja.
" kau jangan melupakanku ya Dan..?? hubungi aku nanti.." ujar Jesi.
" iya.. tenang saja. sudahlah, kembalilah bekerja, aku pergi dulu.." balas Dania yang segera melepas pelukan jesi.
Jesi hanya membalas dengan anggukan, matanya yang memerah membuat Dania menerbitkan senyum agar teman barunya itu tidak lagi bersedih.
Tanpa berkata lagi Dania segera melenggang keluar dari Restoran itu.
" kemana lagi aku harus mencari pekerjaan.." gumam Dania, yang sudah sampai di parkiran. ia meraih helm dan langsung naik keatas motornya meninggalkan Restoran yang ternyata milik pria yang begitu ia benci selama hidupnya kini.
Dari kejauhan nampak dua pria dengan kaca mata hitam sedang mengawasi Dania dari dalam mobil.
.
.
.
Hay kakak reader.. apa kabar ???
semoga selalu baik ya..👍👍
maaf ya, jarang up bukan karna ngk semangat, tapi emang lagi sibuk banget, mohon maaf ya sebelumnya 🙏🙏🙏
cerita tetap lanjut kok, meski masih sedikit yang view, dan like 🤭🤭🤭
terima kasih..🙏🙏🙏
.