Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
mengungkapkan perasaan



bab 157


.


.


.


Dengan hati-hati Wanda membersihkan luka disudut bibir dan lebam disekitar wajah Denis.


Sementara Denis menggunakan kesempatan itu untuk memandangi wajah cantik wanda dari jarak yang sangat dekat.


bahkan nafas Wanda pun bisa didengar oleh wanda.


"Lain kali anda tidak boleh bertindak sembrono begitu tuan. Akan berbahaya. jika tuan Tio tau saya bisa kena marah."Ucap Wanda sebelum menatap Denis.


" aku hanya berusaha melindungi anda saja Nona. Apalagi mereka bertindak tak baik terhadap anda." Balas Denis


" Tetap saja. Anda harus menjaga diri anda dengan baik. kasihan orang yang menyayangi anda."Timpal Wanda.


"Lalu apa anda tidak kasihan pada saya. ??"Denis membalikkan kata.


Wanda menghentikan aksinya dan menatap Denis sekejap, lalu secepat mungkin ia membuang tatapan kearah lain. "Luka anda sudah selesai saya obati.. terima kasih sekali lagi."Wanda hendak berdiri dari duduknya namun dengan cepat denis menangkap lengan Wanda.


Wandapun begitu terkejut dibuatnya. Apalagi saat Denis dengan Tajam menatap mata wanda tanpa berkedip.


"Ada apa dengan anak ini..Please jantungku berhentilah berlari..jangan sampai dia mendengar.." batin Wanda dalam hati.


"Kenapa kau selalu menghindar dariku ?? apa kau membatasi diri sampai seperti ini ??" Sebuah pertanyaan dengan kata tak formal keluar dari mulut Denis.


Wanda menelan ludahnya dengan kesusahan. "Maaf saya harus bekerja lagi." Wanda berusaha melepas tangan Denis yang membelenggu lengannya.


"Aakkhhh !!" Pekik Wanda yang begitu terkejut.


"Aku tidak mau menunggu lama. aku tidak mau membohongi perasaanku terlalu lama lagi, Aku tau aku memang masih muda, aku juga tidak tau bagaimana rasa ini bisa muncul dengan begitu cepat, Wanda.. Aku menyukaimu, bukan untuk main-main..tapi untuk hal yang lebih serius."Terang Denis tanpa ragu dan tak melepas tatapan matanya pada Wanda.


Jantung Wanda seakan hendak loncat dari tempatnya. Pria muda yang mendekap tubuhnya tengah menyatakan perasaannya. Tak bisa bohong, Wanda ingin bahagia sebab ternyata masih ada orang yang menyukainya, namun mengingat usia Denis, Wanda begitu ragu, jika yang diberikan Denis cinta sungguhan.


"Bisa lepaskan saya dulu ??" ucap Wanda. suaranya nyaris bergetar.


Denis mengerjapkan mata, posisi mereka sangatlah intim. bahkan Wanda duduk dipangkuannya, Denis pun segera melonggarkan dekapannya dan membiarkan Wanda beralih.


"Maaf.. aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Aku hanya mau kau mendengar perasaanku saja."Tutur Denis meminta maaf.


Suasana canggung begitu terasa didalam ruangan Wanda.


"Aku akan memberimu waktu. kau bisa memikirkan jawabannya. dan satu hal yang harus kau tau, aku serius mengatakan semua ini."Denis segera berdiri dari duduknya. membenahi lengan kemejanya, dan berlalu dari hadapan Wanda.


Helaan nafas panjang wanda terdengar, Sebagai pertanda rasa lega karna sudah tak berhadapan dengan denis. "Apa aku sedang mimpi ?? Anak itu kenapa tiba-tiba menjadi menyeramkan ????" Gumam Wanda, Seraya menepuk kedua pipinya.


Sadar sakit yang dirasakan, Wanda kemudian menutup wajah dengan kedua tangannya. "Aaahh...Ya ampun..Aku harus bagaimana ??!!" Ucap Wanda penuh kebimbangan.


Dari depan pintu ruangan Wanda, Denis menyunggingkan senyum, saat mendengar ucapan Wanda.


Ia begitu yakin perasaannya akan terbalaskan. Sampai Denis melupakan sesuatu dari masa lalunya. Puas menguping, Denis melenggang untuk keluar. Meski belum mendapat jawaban, setidaknya ia sudah lega karna berani mengungkapkan perasaan yang datang secara tiba-tiba itu.


.


.