
bab 105
.
.
.
Dirumah mama Hilda, Davi nampak asik bermain. mama Hilda sengaja mengajak Davi bermain ditaman, selain agar Davi dapat menikmati kesegaran alam, Diluar juga halaman juga terlihat luas. Tak sengaja saat Davi melihat keluar gerbang nampak seorang gadis kecil.berjalan dengan membawa sebuah boneka. tiba-tiba dikepalanya teringat teman yang tinggal dikontrakan dulu.
mata Davi berpusat terus kearah pintu gerbang dimana anak kecil perempuan itu berdiri.
" Davi lihat apa ??" Tanya Mama.Hilda.
" davi ingat teman Davi nek. Dikontrakan dulu Davi punya teman perempuan yang sakit."jawab Davi seraya menatap sang nenek.
" Sakit ?? sakit apa ??" Tanya Mama.Hilda.
Davi segera menggeleng. "Aku tidak tau. tapi Fania juga harus minum obat sepertiku."
" Kasihan sekali.." Balas Mama.Hilda.
" Iya. Ibu dan Ayah kok lama pulangnya ya nek ?? Davi mau kerumah Fania..mau tanya dia sudah ke om dokter belum."Ucap Davi.
" mungkin sebentar lagi." Balas Mama.Hilda.
dan benar saja, Tak lama bunyi klakson terdengar. segera pula keamanan membuka gerbang.
Senyum Davi terbit seketika saat memgenali mobil sang Ayah yang memasuki halaman Rumah mama.Hilda..
Segera pula Davi berdiri dan.berlari menyambut. " Ayah !!!" Panggil Davi.
Dania turun bersamaan dengan Tio juga.
Dan seperti biasa, Tio langsung mengangkat tubuh Davi dan menempelkannya dalam pelukannya.
" Wah.. anak Ayah main apa ??" Tanya Tio.
" Main ular-ularan. Nenek beli tadi."Jawab Davi.
" davi turun. Ayah lelah nak.." Tegur Dania.
Segera Davi melorot namun masih memegangi tangan Tio. seolah terlalu lama berpisah, Davi tak melepas pegangan tangan mungilnya pada tangan Sang Ayah.
" mama.. maaf merepotkan ya ??" Ucap Dania yang sudah memghampiri mama hilda.
" Kau.bicara apa, Mama malah senang, inilah harapan mama selama ini Dania.." Balas Mama Hilda.
Keduanya saling berbalas senyuman.
" Ayah. kerumah Fania yuk ??" Ajak Davi.
Tio terteguh dibuatnya. ia sampai lupa memberitau Davi jika teman anaknya itu sudah pergi dari kota itu.
" Ayah.." panggil Davi.
" Davi kangen sama.Fania ya ??" Tanya Dania.
" mungkin iya Dan. Sejak tadi dia membicarakan Temannya itu." Tambah mama Hilda.
" Tio.. kau mau kekantor lagi kan ??" Dania beralih pada Suaminya.
" dania.. kok panggil suaminya Begitu ?? tidak sopan nak.." tegur Mama Hilda.
" Kebiasaan ma.."
" Jangan dibiasakan. nanti kalau Davi mengikuti bagaimana ??" balas Mama Hilda.
Tio tersenyum puas dengan pembelaan sang mertua. ia bahkan menggoda Dania seraya mengedipkan salah satu matanya saat Dania tak sengaja menatap dirinya pula. mendapat pelototan dari Dania, Tio memilih beralih bicara pada Davi.
" Davi sayang.. dengarkan ayah ya.." Tio berjongkok didepan putranya.
" Fania tidak tinggal disini lagi. Dia sedang berobat jauh sekali.. Sebenarnya beberapa hari yang lalu papanya menemui Ayah, Tapi Ayah lupa memberitaumu." Tio menerangkan dengan pelan.
" Jadi Fania pergi ?? nggak bilang Davi ya ??" Balas Davi penuh kecewa.
Dania mengusap kepala Davi. "Fania harus berobat. kelak pasti Fania kembali,"
Davi terlihat murung dengan berita yang ia dengar.
" Oh ya.. bagaimana jika kita jalan-jalan ??" Tawar Tio.
Dania terkejut dengan tawaran suaminya. bukannya Tio harus kembali kekantor ??
"mau Ayah !!" Davi langsung merespon penuh semangat.
Tio terkekeh saat melihat betapa lucu putra pertamanya itu.
" lets go boy.." Tio siap membawa Davi.
" Memang kau tidak kekantor lagi ??" tanya Dania.
" Tidak. aku mau bermain dengan putraku." Jawab Tio.
" Mama mau ikut ??" Ajak Tio.
" Tidak nak Tio..mama dirumah saja. mama gampang lelah"Balas mama Hilda.
" Mama sakit ??" tanya Dania mulai kawatir.
Mama hilda menggeleng dengan tersenyum. "Tidak Dan..usia mama kan sudah tua.."
" Ayo Ayah.." Davi menarik Tio terlebih dulu. " nenek, Davi pergi dulu.." Pamit Davi.
"hati-hati Cucu nenek ya.." balas Mama Hilda.
Dania memegangi kedua tangan sang mama. "Mama jangan kecapekan ya, Jaga kesehatan juga. aku akan sering berkunjung kemari.."
" mama sekarang terlihat sehat semenjak bertemu kau nak.." balas Mama hilda.
" Kami pamit dulu ya.." timpal Dania.
" Iya.. hati-hati sayang.." balas mama Hilda seraya melambaikan tangannya.
Davi yang terlihat sudah didalam mobil nampak membuka jendela dan membalas lambaian tangan sang nenek.
.
.
.
.
.