Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
Davi sayang Ayah



bab 138


.


.


.


" Kak !!" panggilan denis membuyarkan lamunan Dania.


seketika Dania mengerjapkan kedua matanya, dan berusaha biasa saja.


" Kenapa kakak malah melamun ??" Tegur Denis.


" Untuk apa kau ingin tau tentang teman kakak ??" Tanya Dania balik penuh selidik.


" Ya memangnya tidak boleh. aku hanya kasihan padanya saja kak."Jawab Denis.


" Kau yakin hanya itu ?? bukan karna kau..-"


" Kakak.. jawab saja apa susahnya !!?" Timpal Denis.


Dania mendegus sesaat. "Wanda itu mantan wanita malam."ucap Dania


Denis melebarkan kedua matanya. "What ??"


" Iya. Wanda adalah seorang mantan wanita malam. dulu setiap hari kakak yang mengatarnya menemui tamu-tamunya."Terang Dania.


Denis masih dalam sisa keterkejutannya.


" Kakak dulu ditolak dikontrakan manapun karna hamil tanpa suami, hingga kakak bertemu dengan Wanda, Dan dia mengajak kakak kekontrakan para wanita malam, tepatnya milik Miss Ayla, mucikari pimpinan Dimana wanda bekerja. Dalam lingkungan kakak semua adalah wanita malam, hanya kakak sendiri yang berontak dan tidak mau terjun dalam dunia hitam itu. makanya hanya kakak sendiri yang diharuskan membayar sewa rumah kontrakan yang kakak tempati. itulah Awal mula pertemanan kakak dengan Wanda." Cerita Dania.


" Pantas saja Nona wanda tadi begitu sedih sekali.."Ucap Denis.


" Tentu saja dia akan sedih. Meski sekarang wanda sudah tidak menjadi wanita malam, tapi images jelek sudah melekat pada dirinya, aku yakin dia sedang dalam kesulitan." Balas Dania


" Den..Sekarang wanda dimana ?? antar kakak menemui dia ya ??" pinta Dania seketika.


" Dikantor. Nona wanda menolak aku antar pulang kerumahnya. Tapi untuk apa kakak menemuinya ??!!" balas Denis.


" Dia teman sekaligus keluarga kakak Denis..Selama kakak terpuruk hanya wanda dan Riana yang menemani kakak, Sekarang wanda pasti sangat terpuruk, kakak harus memberinya semangat.."tutur Dania.


" Tapi kak..-"


Dania segera berdiri dari duduknya setelah meletakkan piring mangga diatas meja.


" Kakak !! tunggu !!!" Denis buru-buru menyusul langkah Dania.


.


.


Tio nampak mengajari Davi menggambar dan menulis beberapa pekerjaan rumah yang dibawa Davi dari sekolah.


" Davi lelah tidak ??" tanya Tio saat sadar mereka sudah beberapa menit mengerjakan tugas.


" Sedikit Ayah.. Davi mau tidur.." Jawab Davi.


" Baiklah.. kita sudahi dulu pekerjaan kita ya.." Tio menutup buku Davi dan membereskannya.


" Tapi tidur dimana yah ??" tanya Davi.


Tio yang selesai membereskan buku putranya segera berdiri. "Ikut Ayah.. kita tidur dikamar."


" Kamar ??" Davi nampak tidak mengerti. ia hanya patuh saat tubuhnya melayang karna digendong sang Ayah.


Tio melangkah menuju pintu yang berada dibelakang kursi kebesarannya. Saat pintu dibuka Tio, Netra Davi disuguhkan sebuah kamar yang tak terlalu luas, tapi tertata rapi dengan perlengkapan yang sudah ada.


" Wah.. keren.. tempat kerja Ayah ada kamarnya ??!!" puji Davi kegirangan.


" Tentu saja. Ayo kita tidur.." Ajak Tio penuh senyum.


Davi menggangguk dan Tio yang perlahan membaringkan putranya diranjang. mengusap pucuk kepala Davi penuh kelembutan.


" Tidurlah nak.." ucap Tio seraya mengecup kening Davi.


Davi nampak menggangguk. "Ayah..kalau nanti adik sudah mau keluar, apa Ayah masih mau nemenin davi tidur kayak gini ?? tadi disekolah, temannya Davi bilang, kalau orangtuanya tidak sayang lagi sama Dia karna adiknya sudah keluar." Pertanyaan Davi sontak membuat Tio menerbitkan senyum lebar, bahkan Tio mengujani wajah putranya dengan kecupan lembut penuh kasih sayang.


" Itu tidak akan terjadi sayang.. Ayah dan Ibu akan berusaha membagi waktu. Davi putra pertama Ayah dan Ibu, butuh perjuangan Ayah bisa bersama dengan davi, Ayah tidak akan menyianyiakan kesempatan ini nak..Ayah berjanji.." Tutur Tio penuh kelembutan


Davi melingkarkan sebelah tangannya seraya memiringkan tubuhnya memeluk Tio dengan erat. "Davi sayang Ayah.." Ucap davi lirih.


" ayah juga sangat menyayangimu nak.. tidurlah sayang.." Balas Tio seraya membalas pelukan putranya.


.


.


.