
bab 25
.
.
.
Selama Dania bekerja direstorannya, Tio hanya bisa memantau dari jarak jauh. ingin rasanya ia membawa dania, namun seakan tak ingin kehilangan lagi,Tio masih betah diam dan hanya bisa melihay dari jarah jauh saja.
Dikantor, bukannya pekerjaan yang ada dihadapannya. melainkan rekapan CCTV direstorannya yang selalu menanyangkan aktivitas Dania saat bekerja.
Terkadang Tio bisa tersenyum sendiri saat Dania menahan emosi kala digoda beberapa pelanggan laki-laki.
"Mereka fikir Dania itu lemah. lihat saja jika kalian berani," gumam Tio sendiri.
Saking konsentrasi dengan layar laptopnya, Tio sampai tak mendengar jika pintu ruangannya tengah diketuk beberapa kali.
Attalah yang kesal.memilih langsung menerobos masuk keruangan mantan asistennya itu.
Sontak Tio terperajak, ia terkejut. hampir saja ia marah pada orang yang membuka pintu ruangannya tanpa mengetuk, namun saat tau yang masuk adalah Attalah, ia hanya mendegus kesal saja. Konsentrasinya buyar gara-gara dikejutkan Attalah.
" Astaga Tio !! kau ternyata didalam ??!!" ucap Attalah saat sudah didalam ruangan Tio.
" Apa etikamu hilang ?? masuk tanpa mengetuk ??!!" protes Tio.
" kau yang tuli !! aku mengetuk sampai tanganku kapalan !!" balas Attalah dengan kesal.
ia pun membanting tubuhnya dikursi dihadapan Tio.
" ada apa kau kemari ??" tanya Tio.
" kau lupa lagi ?? kita akan bertemu klien siang ini Tio ??!!! jika tau begini aku tidak mau bekerja sama denganmu !!" Omel Attalah yang dibuat kesusahan oleh Tio.
" maaf aku lupa." balas Tio yang segera menekan tombol telfon kantornya. "Hany, siapkan bahan presentasi. siang nanti kita akan mitting."
" apa yang kau kerjakan sejak tadi ?? bahkan bahan mitting saja sekretarismu yang kerjakan."tanya Attalah.
" lebih penting dari pekerjaan." balas Tio yang kembali menatap layar laptopnya.
Attalah yang penasaran segera berdiri dan ikut melihat. seolah tak percaya Attalah menatap dengan benar layar laptop Yang ada dihadapan Tio.
" apa ini ?? siapa yang kau pantau ??" tanya Attalah keheranan.
" biasa saja melihatnya !! kau sudah punya istri dan anak kan ??!!" Timpal Tio.
" sorry ya aku tidak tertarik. tapi siapa dia ?? sepertinya aku pernah..-"
" Daniaku." jawab Tio seketika.
" kau memata-matainya ??!" tuduh Attalah.
" bukan memata-matai.hanya menjaga dari jauh !!" timpal Tio mengelak.
" jika sudah, kami pasti sudah menikah hari ini !! dia bekerja direstoran kita lagi. tapi dia tidak tau jika pemiliknya adalah aku."tutur Tio.
" lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya ??" tanya Attalah lagi.
" entahlah. aku takut dia kabur dan pergi lagi. mereka sangat berharga untukku."balas Tio lirih.
Attalah tau betul bagaimana perasaan temannya itu. terbelenggu dengan bongkahan rasa bersalah.
" semoga Dania segera memaafkan kau, kasihan juga anak kalian nanti."Ucap attalah. Tio hanya diam, ia pun sangat berharap hari itu tiba. bisa bersatu dengan Dania dan menebus kesalahannya dimasa lalu.
.
.
" davi..kau tidak sekolah ??" tanya Viera saat kedua anak kecil itu bermain dan menggambar.
" Ibu bilang tunggu Davi sembuh."jawab Davi yang sudah mulai biasa dengan viera.
" kita sama ya. sama-sama sakit. jadi tidak boleh ini dan itu."ucap Viera.
Tak lama datang pria memakai Sepeda motor yang segera melepas helmnya. Viera yang mengenali pria itu segera berlari menyambutnya.
" papa !!"
Davi hanya melihat dan mulai memahami apa yang dilihatnya.
" wah.. anak papa main ya ?? sama siapa itu ??" tanya Pria yang Ternyata papanya Viera.
" teman Viera pa. namanya Davi. dia juga sakita kayak Viera.." terang Viera.
" oh ya.." Papa Viera pun menghampiri Davi yang duduk diteras rumahnya.
" hey jagoan. kau sudah makan ?? mau makan bersama Viera ??" tawar papa Viera.
" iya Davi. kita makan sama-sama.."ajak Viera.
" tapi..-"
Viera memegangi tangan Davi dan menatap davi denngan mata polosnya. " kami ini orang baik. kau tidak akan kenapa-kenapa, Karna makanan yang kita makan pasti tidak jauh berbeda."
" baiklah." balas Davi singkat.
papa Viera pun segera menuntun Davi dan Viera menuju rumah Viera untuk makan siang.
.
.
.