Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
Jangan protes denganku



Bab 202


.


.


.


Denis dan Wanda mendekati Celine yang masih menerima ucapan dari beberapa kerabat.


Saat waktu longgar Denis maju terlebih dulu. Tatapan matanya bertemu langsung dengan D.


"Selamat atas pernikahan kalian.."denis menjabat tangan D.


"Terima kasih. Kudengar kalian juga akan menikah ?? Semoga lancar sampai hari bahagianya."ucap D.


Denis menggangguk pasti. "terima kasih..kau yang terbaik kak.."


D tertunduk seraya tersenyum tipis. Denis beralih pada Celine. Meski dihati Celine masih terselip rasa sesak saat bertatap mata dengan Denis, namun Celine berusaha menutupinya. Ia juga harus sadar ada D yang kini sudah sah menjadi suaminya.


"Selamat atas pernikahanmu..Kau berhak bahagia, Dan kau telah menemukan pria yang sangat tepat."Denis mengulurkan tangannya. Celine turut menerbitkan senyum seraya menerima uluran tangan dari Denis.


"Terima kasih. Jangan bahas masalalu lagi. Ini hari bahagiaku, Setidaknya aku tidak mau ada kesedihan."balas Celine.


Denis menggangguk dan mempersilahkan Wanda menghadap Celine.


"Bolehkah aku memelukmu ??" Tawar Wanda dengan ragu.


"Kakak kenapa minta ijin. Tentu saja boleh. Kemarilah.." celine membuka kedua tangannya dan wanda pun segera menghambur memeluk Celine. Air matanya kembali menetes bersama rasa bersalah yang masih membelenggu hati Wanda.


"Kakak.. Please jangan menangis..Ini hari bahagiaku, jangan ingat-ingat lagi masalalu, kita jadikan pelajaran saja. Aku sudah mendapatkan cinta yang lain.."ucap Celine.


Wanda menggangguk dalam dekapan Celine.


Lalu segera wanda mengusap air matanya saat pelukan disudahinya.


"Aku tidak pantas mendoakanmu..Tuhan sudah mengembalikan semua kebahagiaanmu.."ucap Wanda.


Celine menggangguk. "Iya. Dan aku sangat bersyukur..kakak juga harus bersyukur, apapun itu."


Wanda menyudahi semuanya setelah mendapat anggukan dari Denis saat ia tak sengaja menatap Denis.


Saat melihat denis sudah jauh, D mendekati Celine. "kau baik-baik saja ??" bisik D.


Celine tersenyum lebar pada D. "Tentu saja. Kenapa ?? Cemburu ya ??" goda Celine.


"Jangan sembarangan. Aku hanya takut kau masih memikirkan dia."balas D.


"Itu sama saja tuan D.." Celine tertawa kecil saat berhasil meledek pria yang telah bertatus suaminya itu. D hanya menyunggingkan senyum sedikit dan amat tipis.


Sentuhan lembut dari tangan wanita tercintanya membuat lamunan Tio terbuyarkan.


"Kenapa malah melamun disini ?? Tidak mau mengucapkan selamat pada mereka ??" tanya Dania.


"Tidak perlu. Toh ini bukan resepsi kan."balas Tio.


"Kau ini jahat sekali.." gerutu Dania.


"Lihatlah, D sangat kaku sekali ya ??" Dania mengarahkan tatapannya pada D yang begitu kaku saat fotografer mengabadikan momet mereka.


"Hubby.. Kau sudah siapkan hadiah belum untuk D ??" tanya Dania lagi.


"Sudah. Nanti kita berikan."Jawab Tio.


Dania menggangguk setuju.


.


.


Hingga sore akhirnya pemotretan selesai. Kedua orangtua Celine sudah pulang terlebih dulu, Begitupun dengan yang lain.


Celine pun sudah dituntun D menuju mobil yang sudah disiapkan yang berhias bunga.


Tio dan Dania menghadang langkah mereka. "Celine.. Selamat ya.. Maaf baru memberimu ucapan sekarang, Tio tidak mau aku ajak sejak tadi."Dania buru-buru memeluk Celine.


"Terima kasih kak.." balas Celine.


"D selamat ya.. Kau sekarang jadi kepala rumah tangga, Banyakin senyum, jangan datar terus." goda Dania.


D hanya menggangguk seraya tertunduk sopan.


Tio merengkuh pinggang Dania seraya berkata. "Selamat untuk kalian berdua. Semoga kalian bahagia selalu. Oh ya, Sopir mobil pengantin kalian aku ambil alih. Aku ganti dengan sopir suruhanku, mereka akan mengantarmu kesebuah hadiah kecil dariku. Semoga kalian menyukainya." terang Tio dengan jelas.


"Terima kasih tuan..saya benar-benar merasa tidak pantas."balas D


"Kau pantas mendapatkannya. Sudahlah, Celine pasti lelah ajaklah dia masuk kedalam mobil. Ingat, apapun yang kalian lihat dan dapatkan disana jangan sekali-kali protes padaku,"pesan Tio.


Celine dan D saling pandang dengan ucapan aneh sang atasan.


.


.


.