
bab 149
.
.
Ceklek..
Dania seketika langsung menatap kearah pintu dimana sang suami sudah masuk dengan jas yang sudah tak terpakai lagi.
Segera pula Dania memberondong Tio dengan pertanyaan kawatirnya.
" Hubby sudah selesai ?? lukanya tidak parah kan ??"
" Kau menghawatirkan Willy ??!!" Balas Tio bernada tak suka.
" Hubby jangan bercanda, tentu saja aku kawatir. tadi saja luka dilengannya lumayan loh !!?"timpal Dania seraya bergelayut dilengan Tio.
" Kau tau Willy terluka dilain tempat ??" Tio menatap Dania
" Tentu saja !!! kita dulu sering seperti itu kan ?!!'" balas Dania
Tio langsung menerbitkan senyum dan malah mengecup kening Dania.
" Hubby !!!? Aku serius !!?" protes Dania.
Tio semakin menarik tubuh Dania hingga terbentur dadanya. "Kau sadar ?? sejak dikantor hingga dirumah kau tidak mual saat dekat denganku ??"
Dania terdiam sesaat. "Iya Hubby .. aaaaa...!!! aku senang sekali.." Dania kegirangan Hingga melepaskan tubuhnya dari Tio dan berjingkrak ria.
Sontak Tio melebarkan kedua matanya. "Baby !! stop !! astaga.."
" Hubby, akhirnya aku bisa tidur dengan memelukmu !!!??" Ucap dania masih dengan sisa rasa bahagianya.
" Iya baby.. tapi tidak usah loncat-loncat begitu !!?? Ingatlah, ada anak kita diperutmu !!??" Nasehat Tio.
Dania seketika cengengesan. "Maaf Hubby, aku terlalu bahagia."Balas Dania yang langsung menghambur memeluk Tio dengan erat.
Dengan senang hati Tio menerima pelukan dari istrinya. Ia pun tak kalah bahagia, tidak berpuasa lagi.
.
.
Tengah malam Denis baru bisa kembali Kerumah karna Ia harus memeriksa laporan keuangan Resto miliknya.
Wajah-wajah lelah terlihat disana, Bahkan lengan Kemeja Denis sudah tergulung sebatas siku.
"Dibayar berapa mereka sampai bisa tidak tidur begitu."Gumam Denis hendak menuju kamarnya.
Namun langkah Denis terhenti saat mendengar desisan suara seperti merintih dari kamar Willy yang berjajar dengan kamar miliknya dirumah Tio.
" Willy ?? kenapa dia ??" tanya Denis pada dirinya sendiri.
rasa penasaran membuat Denis buru-buru menuju pintu kamar Willy. ia pun semakin kawatir saat mendengar sedikit jeritan namun berusaha ditahan.
" Ini tidak beres.. aku harus masuk !!" denis segera memegang handle pintu dan buru-buru membuka Pintu kamar Willy.
Willy yang Sedang mengganti perban dilukanya terkejut melihat kedatangan Denis.
Denis pun tak kalah terkejut, melihat lengan Willy terluka. apalagi luka Bakar dilengan willy yang terlihat menganga karna perbannya sudah dibuka.
" Willy.. kau terluka ??!!?" Denis terlihat begitu kawatir dan langsung duduk disisi Willy.
" Anda sedang apa ??" tanya Willy yang masih terkejut.
Denis meneliti luka dilengan Willy dengan rasa tak percaya. "Bagaimana kau bisa luka seperti ini wil ?? ini melepuh, kau harus kerumah sakit.."
" Tidak apa. ini hanya luka kecil saja." timpal Willy coba menenangkan.
" Kecil bagaimana ?? selebar ini Kau bilang kecil ??!! wajahmu saja sampai pucat begitu ?!!" Denis meraba kening Willy, willy kalah cepat karna punggung tangan Denis sudah menyentuh keningnya.
" Kau masih mau mengelak lagi ?!!! bahkan suhu tubuhmu tinggi Will ?!!" Denis begitu kalap.
" Ayo aku antarkanku kau kerumah sakit." Ajak Denis.
" Tidak usah. anda pasti lelah baru pulang. ini hanya infeksi kecil, besok juga sudah sembuh."Tolak Willy dengan sopan.
Denis segera berdiri dari duduknya dan menarik paksa lengan Willy.
" Aku tidak butuh penolakanmu !!?"
Willy meringis saat kakinya ikut terseret. denis pun juga melihatnya, " apa ada luka lagi ??" Tanya Denis.
Willy hanya diam dan memejamkan mata, menertralkan rasa sakit yang luar biasa.
" Oh.. ya ampun Willy !!? Come on.." Denis membantu Willy dengan memapah Willy guna membawanya kerumah sakit.
.
.
.