
bab 17
.
.
Air mata yang tak ingin ia tunjukan pada Tio mengalir sedikit dan langsung dihapus oleh Dania dengan cepat seraya mengemudi sepeda motornya. tak ada suara atau bahkan sesenggukan. Dania hanya mengatur nafas berusaha tenang.
"jika mereka sering bertemu Ikatan batin mereka akan semakin kuat. sepertinya aku harus keluar dari kota ini.." gumam Dania.
ia sudah menghentikan mobil tepat dimana Wanda menunggu.
" Dan kau kenapa ??" Tanya Wanda saat sadar mata Dania terlihat memerah.
" aku tidak apa-apa Wan..kau sudah menunggu lama ??" tanya Dania mengalihkan pembicaraan.
" tidak. aku baru saja tiba."jawab Wanda.
" baiklah mau berangkat sekarang atau nanti ??" tawar Dania.
"sekarang saja. nanti kau bisa langsung pulang, tidak usah menungguku."ujar Wanda seraya menaiki sepeda motor dibelakang Dania.
" loh kenapa ?? biasanya hanya 3 jam ??" tanya dania yang mulai menyalakan starter motornya.
" dia mau sampai pagi. mungkin sekitar dini hari aku pulang. kasihan Davi kalau kau menungguku selama itu. tidak apa, dia bilang mau mengantarku kok.." terang Wanda.
Dania mengangguk pertanda mengerti. ia. terus melajukan sepeda motornya ditengah padatnya jalanan.
enggan rasanya harus kembali kekontrakan, apalagi ada Tio disana. entah apa yang akan dilakukan pria itu pada putranya, Bahkan dania berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya.
Sesekali Dania melirik jarum jam dipergelangan tangannya, jika hendak berkunjung ditempat kerja temannya pasti temannya itu sudah pulang.
"apa aku coba hubungi dia saja ya ??" gumam Dania sendiri.
Dania menepikan sepeda motornya dan merogoh ponselnya.
saat selesai mengetik nama yang hendak ia hubungi, Dania menempelkan benda pipih itu ditelingannya.
tut..
tut..
" halo Ri, kau masih dicafe tidak.??" tanya Dania.
" maaf Dan, aku sedang bersama pacarku..memang kenapa ??" tanya Riana.
" Eh..Dan..tu.."
Dania sudah mematikan panggilanya.
meski cukup kecewa Dania tidak mungkin menyalahkan temannya itu, Kembali Dania menstrarter sepeda motornya dan akhirnya ia harus pulang karna tak punya tujuan lagi.
" semoga saja dia sudah pulang.."gumam Dania seraya memperlambat laju motornya.
.
.
Davi terlelap dalam dekapan Tio dengan begitu posesif, lelah bermain, Davi meminta Tio agar menemaninya tidur, Seraya mengusap lembut kepala Davi, Tio bisa melihat dirinya disana. sesekali pula Tio mencium pucuk kepala Davi.
" kasihan sekali kau nak..Aku tau kau begini karna keadaan.."gumam Tio.
" ayah akan membuatmu sembuh sayang..ayah berjanji.."ujar Tio yang kembali memeluk Davi dengan begitu erat. ia pun kemudian ikut memejamkan mata, entah mengapa rasa nyaman begitu ada dihati Tio, apa karna ia sangat yakin Davi adalah putranya.
.
.
Dania mematikan mesin motornya saat Ia sudah tiba dikontrakannya. dan ternyata Mobil Tio masih terparkir didepan gang kontrakannya.
malas rasanya Dania pulang. tapi jika dia tidak pulang, Tio juga tidak akan pulang.
Dania sedikit heran saat hening tak ada suara dari dalam, pintu juga tertutup rapat, buru-buru Dania masuk, takut jika Davi kambuh atau terjadi sesuatu.
Didalam nampak beberapa mainan yang masih berserakan diatas meja. Melihat itu Dania hanya bisa membuang nafas dengan kasar.
Netranya kembali terfokus pada Kamarnya yang sedikit terbuka pintunya. Dania perlahan mendekat, Tergelitik kesesakan didalam hati Dania saat melihat Davi begitu tenang dalam dekapan Tio yang juga terlelap disana.
" apa yang kau lakukan Tio ??!! kenapa kau begini.."batin Dania
tak ingin berlarut dalam kesedihan, Dania memilih membereskan mainan sang putra.
.
.
.