Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
Tempat kerja baru



.


.


.


Wanda sudah tiba dirumah Kontrakan Dania.


" maaf ya wan, sudah merepotkan.." ucap Dania yang sudah siap berangkat.


" kau ini seperti dengan siapa saja. kau kan selalu menolongku jika malam, lagian kan aku kerjanya malam, kau bisa bekerja dengan tenang disana."balas Wanda.


" baiklah. aku titip Davi ya. tolong nanti saat makan siang beri dia obatnya ya..??" pinta Dania sembari menaiki sepeda motornya.


" iya. hati-hati.." balas Wanda.


Dania hanya mengacungkan jari jempolnya dan segera melesat pergi.


Wanda hanya bisa memandang kepergian Dania. "dia begitu kuat. bahkan dia bisa bekerja tanpa menjual diri seperti aku.." gumam Wanda yang begitu mengagumi Dania.


ia kemudian segera masuk kedalam rumah kontrakan Dania.


.


.


Sementara Dania sudah membelah keramaian kota dipagi hari, yang mana para orang-orang akan menuju ketempat kerja mereka.


Hampir satu jam lebih Dania masih berkutat dijalan raya. tempat kerja yang jauh dan Kini Dania harus terbiasa dengan jalanan macet dan penuh debu itu.


Lama tak masuk kedalam kota membuat Dania teringat masa dimana ia sedang bersekolah dulu.


tawa bahagia, penuh canda, begitu membuat dirinya terhibur.


hingga Restoran yang ia tuju terlihat. segera Dania memarkirkan sepeda motornya diarea karyawan.


Dari arah pintu keluar pria berbadan tegap dengan setelan pelayan direstoran itu, Dania yakin jika pria itulah teman dari Riana yang ia katakn tadi.


" Dania ya ??" sapa pria itu dengan wajah ramahnya.


" iya. kau temannya Riana ??" tanya Dania seraya meletakkan helmnya diatas motor.


" betul. perkenalkan namaku Widi." Pria bernama.widi itu mengulurkan tangannya. dan Dania menerima dengan membalas senyum dari Widi.


" baiklah. ayo masuk. kita harus berganti seragam." ajak Widia dengan ramah.


" jadi aku langsung kerja ??" tanya Dania


" tentu saja. Riana bilang kau berbakat dalam hal apapun. dan juga restoran ini kekurangan pelayan. ayo cepat.." Kembali Widi mengajak Dania. hingga Dania amat begitu bersemangat dan mengikuti langkah widi memasuki Restoran mewah itu.


" Semuanya.. dengarkan !!" panggil Widi.


Semua karyawan berhenti dan mendekat, ada yang diam ditempat namun tetap menatap Widi.


" dia pegawai baru disini. namanya Dania. saya harap semua bisa bekerja sama dengan baik. karna saya sangat tidak suka ada iri didalam restoran ini !!" terang widi.


" baik pak !!" jawab mereka semua bersamaan.


Dania merasa aneh, jika widi adalah pelayan kenapa semua nampak begitu menghormatinya ?? pertanyaan itu terus memutari otak besar Dania.


hingga tanpa sadar Dania melamun dan dikejutkan dengan panggilan Widi.


" hey !! kau kenapa ??"


" maaf.. maaf.. emm..pak.." ujar Dania sedikit kaku


" panggil Widi saja. aku hanya meneger saja disini."balas widi.


" tidak bisa. berarti anda tetap atasan saya.. maaf jika tadi tidak sopan." Dania membungkukkan punggungnya pertanda memberi hormat


" kau telalu berlebihan.."balas Widi dengan senyumnya.


Salah satu pelayan wanita menghampiri Dania dan widi yang masih berdiri disana.


" ayo aku antar kelokermu ??" ajak pelayan wanita itu.


" boleh. ayo.." balas Dania dengan penuh semangat. Baik dania maupun pelayan wanita itu membungkuk hormat dan segera berlalu dari hadapan Widi.


" huh.. benar kata Riana.. dia wanita yang susah ditaklukkan.." gumam Widi yang memilih duduk dimeja kasir.


.


.


" Nah.. ini lokermu, kau bisa menyimpan tas dan bajumu disini." terang pelayan wanita itu seraya menunjuk.


" nah, ini seragammu." pelayan itu menyerahkan baju seragam pelayan direstoran itu


" terima kasih. mohon bimbingannya ya, oh ya namamu siapa ??" tanya Dania.


" Aku Jesi," Pelayan bernama jesi itu mengulurkan tangannya. Dania menerima dengan senyum bahagia. setidaknya sambutan positif yang ia terima ditempat kerja yang baru.


.


.


.