Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
memulai pekerjaan baru



.


.


.


Dania mulai bernafas lega setelah putranya berhasil ia tenangkan. bahkan Davi juga sudah meminum obat setelah dipaksa Dania.


Kini Davi sudah terlelap kembali dalam tidurnya, Perlahan Dania meletakkan tubuh mungil itu diatas ranjang, tak lupa Dania menyelimuti tubuh putra kesayangannya.


Mata perih yang hendak meneteskan air mata, berusaha ditahan Dania. inilah saat dimana Dania selalu merasakan sedih. yakni saat melihat putranya kambuh dan kehabisan obat.


Ciuman lembut dilayangkan Dania pada kening Davi dengan sepenuh hati.


" tidurlah sayang.. ibu tidak akan pergi lagi.." bisik Dania ditelinga putra kesayangannya itu.


Davi mengeliat dengan masih memejamkan mata.


Sedangkan Dania memilih keluar dan menatap kesekeliling didalam rumahnya, dimana barang-barang rumah berantakan akibat amukam Davi tadi.


Dania memejamkan mata dan duduk dikursi diruang tamu miliknya. ia melirik jam dipergelangan tangan, waktu memang sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari.


Lelah letih begitu terasa dalam diri Dania. hingga saat ia menyandarkan tubuhnya dikursi matanya mulai terpejam dan akhirnya iapun juga terlelap.


.


.


.


Sinar mentari baru saja menampakkan diri. namun Tio sudah siap dengan setelan kerjanya. ia memang sangat disiplin dalam segala urusan. pekerjaannya dulu saat menjadi seorang asisten menjadikan Tio begitu ketat mengatur waktu.


Ia bersiap membawa berkas dan meneliti satu persatu dengan menyeruput kopi kesukaannya.


Tio meraih ponselnya yang ada diatas meja hendak menghubungi sekretarisnya


" kau dimana ??" tanya Tio saat sudah tersambung.


" masih dirumah pak. ada apa ??"balas Hany yang begitu kepedean mengingat semalam Tio mengatarnya pulang.


" segera kekantor. saya ada rapat pagi dengan tuan Attalah. jika saya sampai dikantor dan kau belum sampai, gajimu akan saya potong.." ujat Tio dengan sangat tegas. dan seketika juga ia menutup panggilannya.


Hany mematung dengan ucapan sang bos. semua diluar fikirannya. "aku fikir pak Tio mau menjemputku.. aiisshh..aku harus cepat !!" Hany langsung bergegas keluar dari apartemennya dan berlari kecil. jarak dari apartemen menuju kantor lumayan jauh, potong gaji, oh my.. semua tidak bisa dibayangkan oleh Hany.


.


.


"hey.. anak ibu kenapa ??" tanya Dania penuh kelembutan.


" Davi sayang ibu.."ucap Davi yang masih memeluk Dania.


" ibu juga menyayangimu sayang..oh ya, ibu sudah gorengkan ayam, Davi suka ayam kan ?? ayo mandi terus sarapan.."ajak Dania dengan wajah penuh semangat


Davi.mengangguk dengan pasti dan menurut pada ibunya. mereka beriringan menuju kamar mandi.


Dimeja makan Davi makan dengan begitu lahap. Dania begitu bahagia jika melihat putranya terlihat normal seperti itu.


ponsel Dania berdering, buru-buru Dania menerima panggilan masuk itu.


" halo Riana."


" Dan, gimana ?? mau kan kerjaannya ??" tanya Riana.


" mau Ri, aku akan mulai berangkat hari ini."jawab Dania dengan mantap.


" baiklah, aku akan kabari temanku yang disana. semangat ya Dan," balas Riana.


" tentu. thanks ya, sudah bantuin aku.."timpal Dania.


" kau ini seperti dengan siapa saja !! ya sudah aku tutup dulu. bye.."Riana mengakhiri panggilan mereka.


Dania pun telah mantap menerima tawaran kerja dari Riana. meski jarak tempuh cukup jauh, akan Dania lalui. dania juga tidak berniat pindah, karna disitulah tempat teraman untuk putranya saat ini. apa lagi mengingat Semalam Dania bertemu dengan Pria yang begitu ia benci dalam hidupnya.


" ibu mau kerja ya ??" tanya Davi yang sudah biasa ditinggal sang ibu bekerja.


" iya sayang. tapi ibu tidak kerja dipabrik sini lagi. ibu kerja lumayan jauh tempatnya. Nanti sebentar lagi tante Wanda sama Kak Rizal akan datang nemenin Davi. Davi mau kan sama tante wanda dan kak Rizal ??" Dania mencoba memberi penjelasan putranya.


" mau ibu.." balas Davi penuh semangat. Davi memang sangat dekat dengan anaknya wanda yang bernama Rizal. hanya Rizallah yang mau berteman dengan davi yang notabennya adalah anak luar biasa.


" anak pintar.."balas Dania sembari mengusap kepala Davi dengan lembut.


.


.


.


.