
bab 146
.
.
.
Tio mendengarkan penjelasan Denis, ia sama sekali tak menyangka jika calon kliennya yang gagal meninggal dihari itu juga.
Perlahan Tio mematikan panggilan saat Mereka menyudahi obrolan serius itu.
Dania yang bisa melihat keterkejutan diwajah suaminya segera bertanya. " Ada apa ?? ada masalah dikantor ??"
Tio menggeleng pelan dan menatap Dania. "dua klienku yang tadi gagal bekerja sama denganku meninggal karna kecelakaan. aku harus kesana bersama Denis."Terang Tio yang memang tak bisa bohong dengan istrinya.
Sontak Dania menutup mulutnya terkejut. "Kasihan sekali ??!! Tunggal atau sengaja ditabrak ??"
" Entahlah.." Balas Tio dengan suara lirih.
" Ya sudah.. kalau begitu aku..-"
" Apa ?!!! kau mau bilang ingin pulang sendiri begitu ??!!" Tio seketika menyela ucapan Dania.
" Kaukan harus segera kesana Hubby.." balas Dania belum mau mengalah.
" biarkan saja !! Toh Rumah kita juga sudah tidak terlalu jauh." Timpal Tio dengan cepat.
Dania membuang nafasnya dengan kasar. ia hanya bisa patuh jika sang suami sudah melarang seperti itu.
.
.
Setelah mengantar Dania Tio mengukur jalanan menuju titik temu dengan Denis.
terlihat Denis sudah siap dengan kaca mata yang bertengger indah disudut matanya.
" Kau sudah dari tadi ??" Tegur Tio seraya membuka kaca mobil.
" Tentu saja !! tau begini aku berangkat lebih dulu !!!" Omel Denis yang segera masuk. Tio hanya menyunggingkan senyum tipis lalu setelah denis sudah didalam mobil ia pun segera melajukan kembali mobilnya menuju rumah duka Jako dan Kill.
.
.
Tangis histeris dari dua keluarga itu memekik ditelinga Siapa saja yang mendengarnya. Tio dan Denis hanya berdiri cukup jauh dari pemakaman, mereka tak mau mendekat atau memberi ucapan bela sungkawa.
" Tidak usah." Jawab Tio yang langsung memutar tubuhnya melangkah menuju mobil mereka.
Denis cukup heran, hingga ia hanya bisa mengikuti langkah sang kakak ipar.
"Menurut polisi ada yang sengaja menabrak mobil mereka. tapi anehnya kak, mobil yang menabrak mereka masuk kejurang dijalan Y." Tutur Denis mencoba menjelaskan.
Tio masih diam dan fokus menyetir.
" Kasihan sekali keluarganya ya kak.."Tambah Denis.
" Semua mungkin karna kesalahan mereka sendiri. kau juga tau kan bagaiman sikap mereka." ucap Tio.
Denis menggangguk setuju. "Iya.. tapi menghilangkan nyawa manusia itu juga kesalahan kak.. jika ingin mengadili serahkan saja pada polisi."
Sudut bibir Tio terangkat seketika. "Tidak semua polisi bisa membela keadilan Denis.. mulai sekarang berhati-hatilah."
" Maksudnya ??" Denis bertanya karna tidak faham.
Tio diam tak menjawab ia hanya dengan cepat menepikan mobil dan memberhetikan mobilnya.
" Kau kembalilah dulu. tapi ingat jangan bilang pada Dania jika aku pergi kelain tempat, katakan jika aku masih dirumah duka. awas saja jika kau sampai membuat Daniaku marah." Ucap Tio bernada ancaman.
" Memang kau akan kemana kak ?? lalu dengan siapa ??" Tanya Denis semakin penasaran.
Tio membuka sabuk pengamannya, Hingga matanya melihat kedepan mobil dimana datang sebuah mobil yang juga sudah berhenti didepan mereka.
Denis.mengikuti tatapan sang kakak. "Mereka siapa kak ??" tanya Denis. saat melihat dua pria berseragam serba hitam keluar dari mobil itu.
" mereka orang-orangku."balas tio seraya menyeringai.
Dengan segera Tio turun dari mobilnya. Dan benar saja, dua pria yang baru keluar dari mobil itu menunduk hormat pada Tio.
Denis dibuat keheranan dengan sang kakak ipar.
" Ingat satu hal. jangan katakan apapun pada Dania. jika tidak kepalamu akan meledak." Ancam Tio dsebelum.menutup pintu mobilnya. lalu mendekati dua anak buahnya.
Terlihat Tio dipersilahkan untuk masuk kedalam mobil mereka. Denis yang semula kawatir kini malah dibuat bingung. apalagi saat mobil itu memutar arah, terlihat sebuah logo Huruf W Dimobil mereka.
" Sepertinya kak Tio punya perkumpulan, bahkan mobilnya saja sampai ditandai begitu, mereka juga terlihat menghormati kak Tio.. sebenarnya siapa mereka ??" terka Denis yang masih dibuat tercengang dan kebingungan dengan apa yang dilihat.
.
.
.