
bab 106
.
.
.
Tak ada kebahagiaan yang bisa diungkapkan selain rasa syukur atas apa yang kini diberikan oleh sang maha pencipta kepada kehidupannya kini.
Terpuruk serendah-rendahnya, Hingga terluka sedalam-dalamnya yang mungkin tidak bisa dilupakan oleh seorang Dania. Kini Tuhan seolah membalikkan semuanya hingga 90%, Kehidupannya penuh bahagia, dengan cinta kasih dari pria yang dulu amat ia benci.
Dania hanya bisa mengekor dibelakang Tio yang setia mengikuti kemana Davi menginginkan. tujuan mereka kali ini masih disekitaran mall atau pusat perbelanjaan yang mana didalamnya terdapat permainan anak-anak juga.
Tio juga terlihat antusias dengan turut serta mengikuti Davi. seakan tak mau putranya kecewa, Tio menuruti segalanya kemauan Davi.
Hingga tanpa mereka sadari, waktu sudah menjelang sore.
Rasa lelah pun sudah dirasakan Davi.
Hingga Davi memilih menyudahi permaiannnya dan menarik Sang Ayah mendekati Ibunya yang setia menunggu.
"kenapa sayang ??" Tanya Dania saat Davi sudah dekat.
" Sudah capek."Balas Davi.
Dania terkekeh begitupun dengan Tio. "Kasihan sekali anak Ayah.. tapi seneng kan ??" ucap Tio.
" iya Yah.." balas Davi tak lupa menunjukkan deretan giginya yang terlihat putih itu.
" Ya sudah.. kita pulang saja yuk ??" Ajak Dania.
" kau tidak mau berbelanja ??" Tanya Tio.
" Tidak.. aku tidak membutuhkan apapun, Davi juga terlihat lelah. kita pulang saja." tutur Dania.
Tio menggangguk setuju.
" Mau makan Ayam goreng !!?" Pinta Davi.
" Nanti kerestoran Ayah sekalian ya ??" balas Tio.
" Yeee !!! makan Ayam lagi.." Davi kegirangan hingga Dania dan Tio ikut tertawa.
Baik Tio dan dania akhirnya membawa Davi untuk keluar dari Mall itu. mereka bergandengan bersama saat berjalan keluar Mall.
.
.
Diperjalanan Tio mengatakan sesuatu pada Dania.
" Kita mampir sebentar kesuatu tempat ya ??" Pinta Tio pada Dania.
" Kemana ??" Tanya Dania seraya menatap Tio.
Tio hanya tersenyum dan membelokkan mobil kesebuah pemakaman.
" Ayah.. kita kemana ini ??" Tanya Davi.
" Tio.." Dania memegangi lengan Tio seakan memberi kekuatan, Dania sangatlah tau, semua masalalu suaminya itu dengan keluarganya.
" Mereka semua sudah abadi disini sayang..Temani aku minta maaf pada mereka ya ??" Pinta Tio seraya menatap Sendu Dania.
Dania mengangguk dengan menerbitkan senyum. "Pasti.."
Tio membalas senyum Dania dan mereka pun segera turun.
davi nampak terlihat bingung saat melihat sepanjang mata hanya ada maisan bermacam-macam bentuk.
" Rumah mereka yang mana ?? disini tidak ada rumah ??" tanya Davi dengan polos.
" Kemarilah nak.. ayo ayah tunjukkan.." Tio menggandeng tanga Davi dan mulai melangkah menuju Makam kedua orangtuanya.
tak lupa Dania membeli Bunga didepan pintu masuk guna ia bawa kemakam mertuanya dan juga kakak dari suaminya itu.
Tio menghentikan langkahnya tepat didepan dua makam yang dibuat berjajar. nama indah tertera disana.
Sebelum itu Tio mengatur nafasnya beberapa kali dan mencoba menjelaskan pada Davi yang sejak tadi nampak bingung.
" Nah Davi, ini rumah Opa dan Oma. orangtua Ayah." Tutur Tio.
" Kok rumahnya ditanah ??" Tanya Davi.
Dania ikut mendekat dan turut menjelaskan. "Sayang..Opa dan Oma sudah tidak didunia lagi. Seperti kata buk guru kemarin, Davi ingat tidak ??"
Davi memcoba mengingat-ingat. "Disyurga sama Allah ya ??"
Tio mengangguk dengan mengusap pelan kepala Davi.
" Anak Ayah pintar sekali.."
" Ayo..kita berdoa untuk oma,opa dan Paman." ajak Dania.
" Pamannya mana ??" Tanya Davi lagi.
"itu paman nak.. Paman Hans..kakaknya ayah." Tio menunjuk makam yang berjarak tak jauh dari makam kedua orangtuanya.
" Ayah jangan sedih ya.. Kan ada Davi dan Ibu yang nemenin Ayah. Buk guru kemarin bilang yang ditinggal meninggal begini orangnya pasti sedih..Ayah jangan sedih ya.." tutur Davi sebisanya.
Tio berjongkok dan memeluk Tubuh Davi.. " Pasti nak.."
" Nah Davi.. sapa Oma dan opa dulu ??" kata Dania.
Davi mendekati Makam, dan duduk diantara dua makam itu. " Hay opa,hay oma..Aku Davi anaknya Ayah Tio..kalian jangan menangis ya disana, Davi pasti jagain Ayah.."
Dania cukup terharu dengan apa yang dilihat. Bahkan dania menggenggam jemari Tio dengan cukup erat. ia sangat tau bagaimana perasaan Suaminya saat ini.
"ma..pa..Mereka anak dan Istriku, maafkan aku yang terlambat meminta maaf dulu..semoga kalian tenang disisi Allah.." Batin Tio.
.
.
.