
bab 93
.
.
.
Bangun dengan didampingi dua orang yang amat menyayanginya membuat Davi tersenyum. Terlelap dengan ayah dan Ibu dikedua sisinya, Davi memandang bergantian Tio dan Dania. Tangan mungilnya memegangi kedua pipi orangtuanya yang masih terlelap menghadap dirinya.
" Kenapa aku sakit ya ?? Ayah dan Ibu saja tidak sakit ??" gumam Davi sendiri.
" Aku sayang Ibu.." Davi mengecup kening Dania. dan kemudian beralih pada Tio. "Aku juga sayang Ayah."Davi mengecup kening Tio juga.
Dania yang tak tahan segera membuka mata dan menerbitkan senyum menatap Davi.
" Ibu sudah bangun ??" tanya Davi.
" Iya sayang..kemarilah.." Dania membuka tangan dan segera pula Davi menghambur memeluk Ibunya.
Meski cukup terenyuh dengan ucapan Davi, Dania berusaha tetap tersenyum.
" Davi harus semangat ya ?? jangan mengeluh atau menyerah,"ucap dania mencoba memberi semangat putranya.
" Semangat ?? apa ??" Tanya Davi.
" Semangat untuk sembuh. Davi tidak sakit kok. hanya sedikit istimewa."terang Dania.
" Tapi kalau kedokter berarti kan sakit." Balas Davi.
Belaian diberikan Dania dikepala Davi.
" Davi..tidak harus sakit jika kita mau periksa kedokter. terkadang kalau kita mau berkonsultasi atau bertanya sesuatu pada dokter juga bisa." Ucap Tio, Davi menegok kebelakang. "Ayah.." Davi berhambur pada Tio, hingga Davi menaiki tubuh Tio, bergelayut menghadap Tio.
Tio pun memberikan candaan dan membuat Davi tertawa lepas.
" Aahhh Ayah geli.." tawa Davi saat Tio menggelitik perut Davi.
" Ayo jagoan lawan Ayah dong.." Balas Tio yang juga turut tertawa, Davi nampak berusaha membalas menggelitik Tio beberapa kali. hingga candaan ayah dan anak itu sangat membuat Dania bahagia.
" Ayah kita dimana ??" tanya Davi yang baru sadar jika ia tidur dikamar asing.
" Dirumah nenek sayang..Nenek Hilda."balas Tio.
" Benarkah ??" Davi beralih menatap Dania.
" Iya Davi.. Kita dirumah Nenek." Jawab Dania.
tok..
tok..
tok..
tok..
Obrolan keluarga kecil itu terhenti saat ketukan pintu terdengar.
Dania pun segera turun dan membukakan pintu.
" Benarkah ?? ya ampun..aku ketiduran, maaf ya.." Balas Dania yang cukup tidak enak.
" Tidak apa kak.. lagian kalian kan memang masih pengantin baru.." goda Denis.
" Hentikan ocehanmu. sana !!" usir Dania yang langsung menutup pintu kembali.
Dania kembali menutup pintu dan menghampiri Davi serta Tio.
" Siapa Buk ??" tanya Davi.
" paman Denis. Ternyata ini sudah malam. ayo makan.." ajak Dania.
"Mau mandi dulu.." rengek Davi.
" Tentu saja. ayo mandi.." Ajak dania lagi yang segera meraih tangan Davi dan menuntun putranya menuju kamar mandi.
Tio hanya memperhatikan Dania yang membawa Davi kekamar mandi.
Setelahnya, Tio meneliti sekeliling kamar dimana di Dirak masih ada beberapa foto masa muda Dania. Dari sejak masih TK hingga berseragam SMA.
Rasa penasaran Tio tergelitik, ia pun bangkit dari tempat tidur dan melihat lebih dekat foto-foto Dania.
Sudut bibir Tio terangkat saat melihat foto Dania dengan seragam SMA, senyum alami tanpa beban terlihat digambar itu.
Dirak paling bawah, Ada bingkai foto kecil yang tak dipajang, dan ditengkurapkan.
Tio semakin penasaran dan segera mengambilnya.
Sudut bibirnya kembali terangkat saat gambar dirinya dan dania tengah berdiri diatas tebing dengan Dania yang ada digendongannya.
" Kau ingat foto itu ??" suara Dania membuat Tio segera memutar tubuhnya.
" Tentu saja. Karna malam dari perkemahan kita ini pembuatan Davi dimulai." balas Tio dengan seringainya.
" Iya. makanya aku ingin membakar foto itu dulu. Karna jika melihat foto itu, Aku teringat dosa besar kita."tutur Dania seraya memakaikan baju pada Davi.
" Itu Ayah dan Ibu ??" tunjuk Davi
" Iya sayang. lihatlah." Tio menujukkan Foto Dirinya dan Dania.
" Ayah bisa gendong Ibu juga ?? apa tidak berat ??" tanya Davi dengan polos.
Tio terkekeh dibuatnya. "Dulu ibu tidak berat. kan Ibu dulu masih kecil, kalau sekarang.." Tio menggembungkan kedua pipinya seraya memberi kode melirik Dania.
" Sembarangan !! Tentu saja aku sedikit melar, Apa kau lupa aku sudah mengandung dan melahirkan.."protes Dania.
" iya..iya.. Aku tidak masalah kok."balas Tio masih dengan sisa tawanya.
" Ayah.. coba gendong Ibu..Davi mau lihat." Ucap Davi.
" Davi sayang.. tidak usah ya, kita sudah ditunggu nenek dan paman dibawah." timpal Dania.
" Begitu ya ?? ya sudah.. ayo.." Davi yang sudah rapi menggandeng lengan ayah dan Ibunya tanpa berkata lagi Davi menarik dua orang tua itu untuk segera turun.
.
.