
bab 49
.
.
.
" Kau jahat sekali !! kenapa malah menamparku ??!!" protes Riana pada widi.
" makanya jangan kuat-kuat kalau bicara !! dan turuti kemauanku. gugurkan kandunganmu segera. agar hubungan kita aman !!" balas Widi dengan serius.
" kau gila !!! dia darah dagingmu !! bagaimana bisa kau membunuhnya !!!" timpal Riana.
" itu salahmu ?! aku bilang pakai kontrasepsi, kenapa kau tidak memakainya !!! aku punya istri dan anak bahkan kau tau itu ?! kau juga menyetujui hubungan terlarang kita sejak awal kan !!!??" Widi berapi-api bicaranya.
sementara Riana menangis tersedu-sedu. ia menyesali semuanya,
"hentikan tangisanmu wanita murahan !!" bentak Widi.
" dasar pria brengsek !!! kau apakan temanku !!!" Tegur Dania yang baru tiba dan langsung menghadiahi Widi dengan tamparan lalu pukulan keras diarea wajahnya.
plakkk !!!
bukk !!!
" aakkhhh !! kau !!!" Widi nampak terkejut, ia masih mengingat wajah Dania.
Riana tak kalah terkejut. ia segera berdiri dari duduknya dan segera pula menghapus air matanya.
" Ri.. kau tidak apa-apa ??" tanya Dania mendekati Riana.
"em..aku..aku..baik..dan, kau..kau.. sedang apa disini ??" tanya Riana balik ia berusaha biasa saja.
" kau Dania kan ??" tegur Widi.
Dania melayangkan tatapan tajam pada Widi. "iya !! kenapa ??!! kau tidak terima aku pukul ??"
" tentu saja aku terima." balas Widi dengan senyum genitnya.
Riana yang melihat itu nampak muak. "dasar bajingan !!! tanggung jawab dulu calon anakmu diperutku ini !! baru menggoda wanita lain !!"
" anak ?? Jadi benar dia kekasihmu ??" tanya Dania.
" bukan..bukan..dia hanya mencari pelarian saja. Riana, apa kau tidak malu merendahkan diri seperti itu didepan temanmu !!?" Widi membela diri.
" apa kau bilang ??? kau yang seharusnya malu widi brengsek !!! kau bilang akan menikahiku, sekarang aku hamil kau mengelak dari tanggung jawab !!!" Emosi Riana semakin bertambah.
" Tapi..-"
" Tuu..tuan.." sapa Widi ragu-ragu.
Tio perlahan menurunkan Davi didekat Dania. "Bawa Davi menjauh dari sini." ucap Tio pada Dania.
Dania patuh dan mengangguk. sangat tidak baik untuk kesehatan Davin jika melihat perdebatan sepeeti itu.
"Ri..ayo ikut aku.."ajak dania yang tidak tega melihat Riana apa lagi riana nampak terisak dengan tertahan.
Riana pun akhirnya ikut Dania menyingkir.
Widi ingin sekali mencegah Riana, tapi dihadapannya ada singa yang amat ia takuti.
hening, Widi masih terdiam.
"Apa kau tidak mau menjelaskan padaku ??" Tegur Tio seraya duduk dikursi tunggu.
" maaf tuan. saya rasa ini..ini..bukan bagian dari pekerjaan saya. jadi tuan tidak perlu ikut campur."balas Widi dengan berani.
" kau bilang aku tidak boleh ikut campur ?? disaat kau menyakiti teman istriku ?? disaat kau mau merayu istriku ??" Tanya Tio dengan penuh penekanan.
" i..is..istri ?? mak..maksud tuan ??" tanya Widi balik dengan mata membulat karna terkejut.
" Dania itu istriku bodoh !!! dan yang kau hamili itu temannya istriku !!! gara-gara kau istriku jadi marah dan harus mengotori tangannya memukul wajah jelekmu itu !!! masih tidak faham juga !!!" bentak Tio.
Widi terus menajamkan telinganya. apa ia tidak salah dengar. istri ??
"tu..tuan jangan bercanda, Tu..tuan kan belum menikah."
" memangnya kalau aku menikah harus laporan denganmu !!! apa matamu buta !! anakku sudah sebesar tadi !!!" omel Tio dengan kesal.
" Kau dipecat !! tidak ada uang pesangon atau apapun untuk penghianat sepertimu, uang gajimu akan aku berikan pada anakmu saja !! pria genit !! ya ampun, bagaimana bisa aku mempekerjakan pria brengsek seperti kau !!!" Ucap Tio dengan kesalnya.
" Tapi tuan. ini masalah bukan dipekerjaan. ini masalah pribadi !!"protes Widi.
" memangnya kenapa ?? Kalau aku membiarkan kau menjadi meneger direstoranku, kau akan semakin besar kepala !!" timpal Tio dengan suara tinggi.
"dasar pria tidak punya otak, istrimu itu cantik, anak kalian juga cantik, kenapa kau masih liar jajan diluar !! jika membunuh tidak dosa rasaya aku ingin membunuhmu saat ini juga !!!" Tambah Tio yang langsung meninggalkan widi yang nampak gusar.
" tuan !! Tuan Tio dengarkan saya dulu !!" cegah Widi, namun Tio tak mau mendengarkan. Tio menendang kursi dengan kuatnya.
melawan Tio tidaklah mungkin, Bahkan widi tau seperti apa Bos besarnya itu. luapan kekesalan terus terlontar dari mulut widi disana.
.
.
.