
bab 177
.
.
.
Denis membaringkan tubuhnya seraya mengirim pesan pada Wanda. tak lama wanda membalas pesan Denis dengan finger heart yang membuat senyum denis terbit.
Denis mengusap wajahnya beberapa kali mencoba menetralkan rasa tak enak pada Celine. "Semoga kau bisa menerimanya Cel.. setidaknya kau akan mendapat pria pengganti yang lebih baik dariku." Gumam Denis seraya memejamkan matanya.
.
.
.
D yang merasa Celine tak ada pergerakan perlahan mendorong pelan pundak Celine. dan ternyata Celine pingsan dalam pelukan D.
"Astaga.. dia pingsan ??!!!" D langsung membopong tubuh Celine. tubuhnya yang kecil memudahkan D dalam membawanya.
Tak lama anak buah D datang setelah mengetahui D belum menyusul.
"Tuan. dia siapa ??" Tanya anak buah D.
" Aku tidak tau. kalian teruskan misi. aku harus membawa dia kerumah sakit."Ucap D tanpa menghentikan langkahnya. dan dengan cepat anak buah D membukakan pintu mobil untuk D guna memasukkan Celine kedalam.
Sepanjang jalan, Celine terdengar mengigau tak jelas, bahkan tangisan terisak juga bisa didengar D.
"apa anak ini baru putus cinta ?? kenapa menangis ??" D sesekali melirik Celine yang ia baringkan dibangku belakang.
.
.
.
Pagi buta, Ponsel Denis berdering beberapa kali. Hingga membuat sang pemilik akhirnya bangun dari tidurnya.
Meski Mata Denis masih terlihat buram karna bangun tidur, Denis bisa melihat dengan jelas nama yang tertera pada layar ponselnya.
Sontak Denis terperajak dan langsung duduk.
"Mamanya Celine ?? kenapa menghubungiku ?? apa mereka mau mengadiliku ??" tanya Denis pada dirinya sendiri.
Denis mengatur nafasnya perlahan, jika benar ia akan dimarahi, tidak masalah.Denis harus jantan dan menerima semuanya.
"Halo tante. " Denis menempelkan benda pipih ditelinganya.
Denis terjengit seketika. "kemana Celine ??" batin Denis.
"Halo Den ?? kau masih mendengar tante ??" Tegur Mamanya Celine.
"Oh.. em.. masih tan.. em..semalam dia memang kesini. tapi dia pamit pulang, aku fikir jika dia sudah pulang." Denis gelagapan menjelaskan.
"apa ??!!! ya Tuhan.. kemana kau Cel !!?" Mamanya Celine terdengar menangis.
"Den tolong cari Celine.. tante tidak tau bagaimana, nomer Celine tidak bisa dihubungi juga.."Tangis mamanya celine.
Denis bimbang akan bagaimana, tapi jika menolak namanya Dia tidak memiliki hati. "Baiklah tan. aku akan mencarinya."
Setelah percakapan mengejutkan itu Denis buru- buru membesihkan diri dan turun.
Mama Hilda yang melihat Putranya terlihat buru-buru segera menegurnya. "Den.. kenapa lari-lari ?? kau telat bertemu klien atau bagaimana ??"
" Aku mau mencari Celine ma, dia tidak pulang semalam. aku pamit dulu ya ??" Denis mencium tangan mama Hilda.
" Celine tidak pulang ?? Semalam dia telfon mama kau dirumah atau tidak ?? karna kau belum pulang mama katakan kau tidak dirumah." terang mama Hilda.
Denis pun terpaku. rasa bersalah lagi dan lagi muncul. Denis menatap lekat sang mama. "Jadi semalam Celine telfon mama ??"
"Iya sayang.. Dia bilang mau kemari, tapi karna kau belum pulang dia bilang tidak jadi datang. kau kemana semalam Den ?? Pulangnya kok malam sekali ??" Tanya mama Hilda.
"Astaga.. kau jahat sekali Denis.." Batin Denis merutuki dirinya
Tanpa menjawab pertanyaan sang mama Denis berlari keluar.
didepan pintu keluar tak sengaja denis berpapasan dengan Dania, Tio dan juga sikecil Davi yang baru pulang.
"Paman !!" tegur Davi.
"Hay.. sorry paman buru-buru..bye !!" Denis terlihat begitu gusar dan buru-buru masuk kedalam mobil.
Hal itu begitu membuat Dania dan Tio keheranan hingga mereka saling pandang. "Ada apa dengan anak itu ??" Tanya Dania.
Tio mengendikkan pundaknya. "Tidak tau. mungkin kantornya sedang ada masalah."
"Ibu.. ayo masuk.."Davi menarik lengan Dania mengajak masuk.
"Iya..iya.. ayo.."Dania menuruti kemauan Davi dan segera masuk disusul Tio.
.
.
.