
bab90
Terapy Davi berjalan cukup lancar seperti biasa. Selesai terapy, karna waktu sudah siang, Tio membawa Dania dan Davi kerestorannya.
Tiba didepan restoran, Dania teringat bagaimana ia dulu pernah bekerja disana.
" Kenapa ??" Tanya Tio saat menyadari Dania mematung didepan restoran miliknya.
" Disini aku difitnah dan marah padamu Tio.." balas Dania saat ingatannya memutar.
Tio menggenggam jemari Dania. "Sekarang tidak ada yang berani melakukan itu. Kau pemilik restoran ini, semua restoranku dari cabang hingga pusat, akan menjadi milikmu" ucap Tio dengan mata tak lepas dari wajah cantik Dania.
" Ayah.. ayo.. Davi mau makan ayam goreng.." Rengek Davi seraya menarik tangan Tio.
" Iya sayang..iya.. ayo.." Tio menggandeng Davi dan Dania masuk kedalam restoran.
Pelayan yang melihat kedatangan Tio langsung tertunduk hormat, mereka juga sudah tau jika Dani kini adalah istri dari bos besar mereka, Sengaja Tio mengundang semua karyawan restoran dan kantor untuk hadie dipernikahannya.
Salah satu pelayan yang dikenal Dania menyambut Tio dan Dania.
" selamat datang tuan dan Nyonya.. silahkan.. mari.."
" Jesi.." Panggil Dania yang mengingat nama pelayan itu .
Sementara Jesi hanya tersenyum seraya tertunduk. ternyata Dania tidak melupakan dirinya
" Kau jesi kan ??" Lagi Dania melepas genggaman tangan Tio dan mendekati Jesi.
" Iya Nyonya. saya Jesi." balasJesi dengan sopan.
" jesi apa kabar ?? Akhirnya kita bertemu lagi.." ucap Dania tak lupa ia memeluk Jesi.
" Ayah.. ayo.." Davi nampak tidak sabar untuk makan.
" Baiklah ayo kita tinggalkan ibumu."Tio memberi ruang untuk Dania melepas rindu dengan teman kerjanya. dan membawa Davi duduk dimeja yang sudah disiapkan, bahka. Ayam goreng sebagai menu baru diresto itu sudah disiapkan diatas meja lengkap dengan semua menu yang lain.
" Kau tidak melupakanku Nyonya Dania ??" Tanya Jesi.
" Jesi.. panggil aku Dania saja." timpal Dania.
" Tidak bisa. anda sekarang pemilik resto ini.. Saya tidak mau dipecat tuan besar jika salah dan tidak sopan dengan istrinya." terang Jesi.
" Justru aku akan memecatmu jika kau tetap formal begini !!" protes Dania.
Jesi terkekeh dibuatnya. Keduanya melepas rindu sesaat, Meski tak terlalu lama bekerja bersama, namun Mereka nampak akrab sekali.
Puas makan, Tio kembali melandaskan mobil membelah jalanan menuju rumah Mama.Hilda. jarak tempuh yang cukup jauh membuat Davi tertidur sepanjang perjalanan.
Dania yang kini sudah Bahagia dan percaya pada Tio bergelayut disisi lengan Tio bahkan senyum terus terhias diwajahnya.
" Apa kau senang ??" Tanya Tio.
" Iya. aku senang sekali, Akhirnya aku akan pulang kerumahku..rumah yang sudah beberapa tahun aku tinggalkan." jawab Dania
" Terima kasih Tio..kau telah menjadikanku ratu dan menuruti semua keinginanku, Aku tidak tau harus berkata apa, bahkan ribuan kejutan yang kau berikan seakan membuat aku tidak merasakan ragu lagi." terang Dania.
" Baiklah..beri aku satu Ciuman sebagai balasannya dong..?" Tio menyodorkan sisi pipinya dimana Dania bergelayut.
Cupp..
Tio tersenyum lebar dan mencium dengan cepat bibir Dania.
" dasar kau !! tidak mau rugi ya ??!!" Ucap Dania.
" Tentu saja." timpal Tio yang kembali mengecup kepala Dania.
Hingga setelah perjalanan panjang Akhirnya rumah yang begitu dirindukan Dania sudah didepan mata.
Mobil Tio berhenti saat mereka sudah memasuki gerbang dan tepat berada didepan pintu masuk.
Mama Hilda yang sejak tadi menunggu kedatangan Dania davi dan Tio menyambut dengan bahagia didepan pintu. " Akhirnya kalian datang.." ucap mama Hilda.
Tio nampak menggendong Davi yang segera dipersilahkan masuk lebih dulu, sebab Davi masih terlelap dalam tidurnya.
sementara Dania menghentikan langkahnya, meneliti semua sudut, tak ada yang berubah hanya saja kali ini tak didengar lagi ketegasan sang papa, Mengingat semuanya air mata Dania lolos kembali meluncur dikedua pipinya.
Mama Hilda merangkul Dania. "Kau merindukan rumah ini kan nak ??"
" Ma.. semua masih sama. meja itu.." Tunjuk Dania. ia ingat betul meja itu yang digunakan sang papa memukul dirinya dulu yang ketahuan hamil saat masih sekolah.
" Iya nak..Meja itu lah yang membuat Papamu menangis sepanjang malam apalagi saat kau benar-benar pergi dari rumah." tutur mama Hilda.
" Papa.."Gumam Dania dengan berderai air mata, Penyesalan sangat terlihat sekali dimata Dania. yang tidak bisa melihat wajah sang Ayah untuk yang terakhir kalinya..