Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
Kenapa kau menyukaiku



bab 165


.


.


.


"Nona, jangan kerumah tuan Tio dulu "Ucap Willy saat Riana hendak mengantar Willy dan mereka tengah dalam perjalanan. Riana yang menyetir mobil Willy saat ini.


"Terus, kau mau kemana ?? jangan aneh-aneh lagi Wil" Balas Riana.


"Saya mau mencari obat dulu."ucap Willy.


Riana menautkan kedua alis dengan sesekali menatap Willy. " mencari obat ??"


Willy terlihat ragu ingin mengatakan tempat markasnya.


"Em.. Saya biasa memakai obat herbal Nona."Willy beralasan.


Riana menggangguk mengerti. "Dimana tempatnya ?? Aku akan mengantarmu."


Willy semakin bingung hendak menjawab apa. "Em.."


"Kau ini kenapa ?? Bingung sekali !!!?"protes Riana.


"Kerumah teman saya saja. jalan Y nona." willy mencari alasan.


"Baiklah.." Riana patuh tanpa curiga. ia pun segera mengarahkan mobil menuju alamat yang dimaksud Willy.


.


.


Tiba dirumah, Rizal ternyata sudah tidur sejak dijalan tadi. Denis pun terlihat dengan cepat turun dan menggendong Rizal.


" Biar saya saja tuan.."Ucap Wanda yang merasa tidak enak.


"Shutt.. kau akan membangunkan dia."Balas Denis yang dengan perlahan meraih tubuh Rizal yang bersandar ditempat duduk didalam mobil.


wanda nampak mematung hingga hanya berdiri seraya menatap Denis dan Rizal yang berada digendongan Denis.


"Nona.. bisa bukakan pintu ?? Kasihan Ridwan.." Tegur Denis.


Wanda gelagapan dan berdehem lalu dengan Segera melangkah cepat membukakan pintu.


Denis hanya menyunggingkan senyum tipis melihat tingkah wanda.


Denis menunggu didepan pintu saat wanda membenahi tidur Ridwan, tak lupa Wanda terlihat melabuhkan kecupan dikening putra kesayangannya.


Wanda segera menghampiri Denis setelah menutup pintu kamar Rizal.


"Terima kasih tuan sudah mengantar kami..Maaf sudah merepotkan."ucap wanda.


" Tolong jangan formal terus, Aku masih menunggu jawabanmu. Dan aku memang berniat mendekati Rizal,karna aku tau dia kelemahanmu."Tutur Denis.


"kenapa anda katakan semua itu ??"


"Iya agar kau tau saja kalau aku serius dengan perasaan dan Niatku."Balas Denis tanpa ragu.


Wanda nampak salah tingkah dengan semua ucapan Denis.


"kau tenang saja. aku akan selalu sabar menunggu jawabanmu, dan biasalah saat kita bekerja bersama, Urusan pribadi tidak akan membuat Kerja sama kita berubah. karna aku rasa kita akan sering bersama, Karna kak Tio masih menjaga Kak Dania."Terang Denis


Wanda terlihat menunduk dengan menggigit bibir bawahnya. dan masih betah diam.


"Ya sudah. aku permisi dulu."Pamit Denis.


" Tunggu tuan !!!" wanda membuka suara.


Denis langsung membalikkan tubuhnya. "Iya."


Wanda mengatur nafasnya. ia pun bingung kenapa malah mencegah Denis.


" Em..Apa yang membuat anda menyukai saya ??" Dengan suara bergetar Wanda bertanya dan menatap Denis.


"aku juga tidak tau. Tapi semua masalah hati. percaya atau tidak terserah padamu saja. tapi aku serius dengan perasaanku. meski usiaku masih muda, tapi aku memang tidak mau main-main."Terang Denis yang membalas Tatapan Wanda.


"aku bukan wanita yang baik. aku tidak pantas denganmu.."Balas Wanda dengan mata berkaca. jujur ia juga memiliki perasaan pada denis, namun Wanda begitu ragu dengan semua keadaannya termasuk juga masa lalunya.


Denis menyunggingkan senyum tipisnya. "Yang menentukan pantas dan tidaknya hanya aku. Kau bicara seperti itu karna masa lalumu dulu. Dan aku tidak mempermasalahkan dengan semua masa lalu, karna aku tidak mau hidup dengan belenggu masa lalu, kita harus maju kedepan dan meneruskan perjalanan. Bukan hanya kau saja, aku juga memiliki masa lalu."


Tak kuasa menahan air mata, Wanda berlari kecil dan memeluk Denis dengan deraian air matanya. Ia merasa tak pantas, namun perasaannya begitu ingin melawan


dan mengalahkan ego yang berlebih didalam hatinya.


meski cukup terkejut, Denis membalas pelukan Wanda dengan erat. ia mengusap surai panjang Wanda guna memberikan ketenangan pada wanita dewasa yang menempati hatinya.


.


.


Dan... akhirnya...👍👍👍🤗🤗🤗


.


sepi.baget ya ??


dukungan napa sih..


😁😁


.


.


.